Muqadimah Study Bible

muqadimah

 

بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

 

اِنَّ الْحَمْدَاﷲِ نَحْمَدُهُ وًنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُباﷲِ مِنْ سُرُرِ أَنْفُسِنَاوَمِنْ سَيِّءَاتِ أَعْمَلِنَ ، مَنْ يَهْدِهِ اﷲُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ ،أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اﷲُ وَحدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً غَبْدُهُ وَرَسُوْلُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ال عمران ; ١۰٢)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا

وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُواﷲَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ

إِنَّ اﷲَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء : ١)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُواﷲَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُموَمَنْ يُطِعِ اﷲَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ( الاحزاب : ٧۰ – ٧١)

أَمَّا بَعْدُ

فَاِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اﷲوَخَيْرَهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،وَشَرَّلاْءُمُوْرِ مُحْدلثَاتُهَا وَكُلّ مُحْدلثَاتُ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةً[1]

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, dengan tetap meminta petunjuk dan rahmat yang hanya dimiliki oleh Allah SWT dan selaku umat islam yang berada pada naungan agama yang haq dan dalam keridhaan-NYA. Kami hendak memberikan sedikit pembahasan yang bisa dibilang cukup menggemparkan publik. Pasalnya, dalam inti tema yang hendak kami paparkan ni adalaah berkaitan dengan Kesalahan dan kekeliruan jalan yang disebabkan karena minimalitas ilmiah yang dapat dicakup oleh manusia, terutama pada lingkup kristianitas[2]. Dengan berharap rahmat dan hidayah Allah yang tiada kami puas sebelum kami benar-benar bertemu dengan-NYA di hari akhirat kelak[3], kami memberanikan untuk membumikan kebenaran[4] yang telah abshah akan tetapi telah lama diputar-balikkan dengan segala dayya upaya untuk menyembunyikan kebenaran itu. Allah SWT berfirman ;

“Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakangsesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami.” Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam,”(QS Al An’am : 71)

 

“Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS Al A’raf : 128)

 

“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.” (QS Al Kahfi : 44).

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS Al Baqarah : 218)

”Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk memberi hidayah, maka akan dilapangkan dadanya untuk menerima islam”(QS Al An’aam : 125)

Dari ayat-ayat ini kita tahu bahwa Allah SWT telah memberitahukan bahwa hendaknya manusia itu menujukan persembahanya hanya teruntuk Allah semata dengan memurnikan segala sesuatu yang secara bijaksana. Sebagaimana kita tahu bahwa agenda yang menjadi syarat wajib yang harus dipenuhi oleh umat manusia adalah hendaknya memurnikan hati dan jiwa untuk menghambakan diri kepada Illahir rabbil ‘alamin, Allah azza Wa Jalla[5], sebagaiman telah lazim kita mendengar firman Allah SWT :

“dan tiadalah kami menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah kepadaku.” (QS Adz Dzariyaat : 56)

Dari ayat ini Rasulullah Shalallahu ta’ala alaihi wa alihi wassalam, telah memberikan keterangan yang cukup besar dan jelas bahwa haq Allah –Azza Wa Jalla- atas hambanya adalah bahwa kita manusia hendaknya menghamba kepadaNYA dengan tanpa berbuat syirik sedikitpun, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Bukhari[6] dalam kitab Shahih[7]nya :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي حَصِينٍ، وَالأَشْعَثِ بْنِ سُلَيْمٍ،سَمِعَا الأَسْوَدَ بْنَ هِلاَلٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ؟» ، قَالَ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، أَتَدْرِي مَا حَقُّهُمْ عَلَيْهِ؟» ، قَالَ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «أَنْ لاَ يُعَذِّبَهُمْ[8]»

Dengan penuh pengagungan dan penghormatan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, hendaknya kita lebih mencintai beliau dan mengagungkan nama beliau di atas segala nama yang ada di bumi[9]. Meskipun begitu banyak tuduhan yang dialamatkan pada beliau, seperti Hugo Gratius, seorang filsuf, pengacara, penyair, dan teolog Belanda yang menjadi pionir dari

pandangan-pandangan modern

terhadap hukum internasional dan

salah satu pemikir besar tentang

hukum alam dengan karya

terbesarnya The Law of War and

Peac (1625)[10]. Ia adalah salah satu

tokoh yg membuat cerita bohong

tentang Rasulullah dengan ia

mengatakan bahwa Muhammad telah melatih burung merpati untuk memungut biji-bijian dari telinganya agar dapat menipu orang-orang di sekitarnya bahwa Roh Kudus dalam bentuk merpati telah membisikkan wahyu kepadanya ! ia juga mengatakan

“Muhammad adalah waktu yang lama perampok…. Yesus diangkat ke surga, dengan pengakuan Muhammad; tapi Muhammad tetap dalam kubur. Dan sekarang siapa pun dapat meragukan untuk mengikuti?”[11]

atau juga Martin Luther yang sangat membenci Al Quran, Muhammad dan orang Turki (Islam) sebagaimana apa yang dia tuliskan :

“Thus when the spirit of

lies had taken possession

of Mohanuned, and the devil

had murdered men’s souls

with his Koran and had

de­stroyed the faith of Chris

tians, he had to go on and

take the sword and set about

to murder their bodies.”

 

“Jadi ketika jiwa pembo­hong mengontrol Muhammad, dan setan telah membunuh jiwa jiwa Muhammad dengan Al-Qur’an dan telah menghan­curkan keimanan orang-orang Kristen, setan harus terus me­ngambil pedang dan mulai membunuh badan-badan mereka.”[12]

 

Dia juga menyatakan :

“Mohammad denies (negat) that Christ is the Son of God. He denies that faith in Him remit sin and has died for our sins. He denies that he rose for our life. He denies that faith in Him remits sin and justifies us. He denies His coming judge­ment of the living and the dead. Perhaps there is a resurrection of the dead, but he believes in a judgment by God. He denies the Holy Spirit and His gifts.

 

“Muhammad menafikan bahwa Kris­tus adalah Anak Tuhan. Dia menafikan bahwa beliau (Yesus) telah wafat demi dosa-dosa kita. Dia menafikan bahwa iman kepada-Nya mengampunkan dosa serta membersihkan (dari kesalahan). Dia menafikan akan kedatangan kehidupan dan kematian-Nya. Mungkin ada kebangkitan orang yang mati, namun dia mempercayai pengadilan oleh Tuhan. Dia menafikan Ruh Kudus dan hadiah-hadiah-Nya.”[13]

Johannes Damascenus/ John of Damascus/Yuhanna al­Dimashqi seorang tokoh gereja abad ke 7 M, pernah menulis sebuah judul buku The Fount of Knowledge[14] dan lonaou tou Damaskhenou, Dialeksiis Sarakhenou khai Khristianou yang artinya Johannes dari Damaskus, Dialektika antara Seorang Muslim dan Seorang Kristen[15]

“Muhammad, sebagaimana telah disebutkan, menulis banyak cerita bodoh, yang setiap satu darinya, ia lengkapi sebelumnya dengan judul. Misalnya diskursus mengenai wanita, di mana ia dengan jelas melegalisir seseorang untuk memiliki empat istri dan seribu selir jika sanggup, sebanyak yang ia mampu menjaga mereka di samping empat istri. Orang tersebut bisa menceraikan siapa saja yang ia suka, jika ia menginginkannya, dan memiliki yang lain. Muhammad membuat hukum tersebut karena kasus berikut ini: Muhammad memiliki seorang sahabat bernama Zayd. Lelaki ini memiliki istri yang cantik yang (mem­buat) Muhammad jatuh cinta. Suatu saat tatkala mereka sedang duduk bersama, Muhammad mengatakan kepadanya: “Wahai Zayd, Tuhan telah menyuruhku untuk mengambil istrimu.” Dan Dia menjawab: “Engkau seorang Rasul, lakukanlah sebagaimana yang telah diperintahkan Tuhan kepadamu; ambillah istriku. “Atau agaknya, untuk menceritakan kisah dari awal, Muhammad berkata kepada Zayd: “Tuhan telah menyuruhku (untuk mengatakan kepadamu) bahwa sepatutnya kamu menceraikan istrimu’; dan Zayd menceraikannya. Beberapa hari kemudian Muhammad berkata: “Namun sekarang Tuhan telah memerintahkanku supaya aku sepatutnya mengambilnya. ” Selanjutnya sete]ah ia (Muhammad) mengambilnya dan melakukan hubungan bersamanya, ia membuat hukum seperti berikut: “Siapa saja yang ingin, ia boleh menceraikan istrinya. Namun jika setelah cerai, ia ingin kembali kepadanya, maka biarlah seseorang yang lain mengawini­nya (lebih dulu). Karena tidaklah dibolehkan baginya untuk mengambil istrinya kecuali ia dikawini oleh seorang yang lain. Bahkan sekalipun seorang abang menceraikan (istrinya), maka biarlah saudaranya yang mengawini istrinya jika ia menginginkannya. ” Inilah jenis dari ajaran yang ia berikan dalam diskursus ini: “Sehingga ladang yang Tuhan telah berikan kepadamu dan indahkanlah ladang tersebut: dan lakukanlah ini dan dengan cara ini “-tidak untuk mengatakan, segala hal yang memalukan sebagaimana yang ia (Muhammad) lakukan.”[16]

Ricoldo da Monte Croce (Ricoldus de Monte Crucis), seorang Biarawan Dominikus.[17] Ia pernah menulis :

“Pengarang bukanlah manusia tetapi setan, yang dengan kejahatannya serta izin Tuhan dengan pertimbangan dosa manusia, telah berhasil untuk memulai karya Anti-Kris­tus. Setan tersebut, ketika melihat iman Kristiani semakin menambah besar di Timur dan berhala sernakin berkurang, dan Heraclius, yang menghancurkan menara menjulang yang dibangun oleh Chosroes dengan emas, perak dan batu-batu permata untuk menyembah berhala-berhala, mengatasi Chosroes pembela berhala. Dan ketika setan melihat palang salib Kristus diangkat oleh Heraclius, dan tidaklah mungkin lagi untuk membela banyak tuhan atau menyangkal Hukum Musa dan Bibel Kristus, yang telah rnenyebar ke seluruh dunia, Setan tersebut merancang sebuah bentuk hukum (agama) yang pertengahan jalan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dalam rangka untuk menipu dunia. Dengan maksud ini ia memilih Muhammad. “[18]

 

Abdul Masih Al-Kindi, yang diduga penganut Kristen Nestorian, ber­pendapat bahwa Muhammad bukanlah seorang Nabi. Dalam pandangannya, seorang Nabi itu akan memberitahu peristiwa­ peristiwa yang tidak diketahui oleh orang lain. Termasuk diantaranya peristiwa-peristiwa yang sudah atau yang akan berlaku. Dalam pandangannya, orang Kristen telah mengeta­hui cerita Muhammad mengenai Nuh, Ibrahim, Musa dan ‘Isa.[19]

Dia juga berpendapat

Sergius, se­orang Biarawan Kristen telah berkunjung ke Mekkah, ber­teman dan mempengaruhi Muhammad. Bahkan Sergius ham­pir menjadikan Muhammad menjadi pengikut Kristen Nes­torian. Itulah sebabnya mengapa Muhammad membela Nasrani.”[20]

 

Salman Rushdie[21]

Ahmad Salman Rushdie penulis berdarah Inggris-India ini orang

pertama menghina Islam dengan

menerbitkan novel Ayat-Ayat

Setan pada 1988. Novel mence

ritakan tokoh fiktif bernama

Mahound, diduga Muhammad,

menerima tiga Tuhan seperti

ramalan Makkah.  Menurut

legenda, Mahound mengganti

tulisan asli pada kitab suci dengan ayat-ayat setan. Dia mengaku mendapat bisikan dari malaikat Jibril serta iblis menggodanya. Buku ini langsung dilarang beredar di negara mayoritas muslim yakni Indonesia, Singapura, Venezuela, Pakistan, Afrika Selatan, Sri Lanka, Kenya, Thailand, Tanzania, India, Sudan, dan Bangladesh.

Setahun kemudian setelah terbitnya buku itu, pemimpin Revolusi Iran Ayatullah Ruhallah Khomeini memberi fatwa disebarkan lewat radio Ibu Kota Teheran. Dia menawarkan hadiah bagi mereka mau membunuh Rushdie. Harga kepala penulis itu mencapai Rp 31,4 miliar. Pengarang buku Luka dan Api Kehidupan, dicetak dua tahun lalu itu harus hidup dalam kawalan polisi ketat selama tujuh tahun sebab fatwa ini.
Geert Wilders, seorang anggota parlemen Belanda berketurunan Indonesia.  Wilders mempunyai keyakinan Islam agama penyebar terorisme, antisemitisme, melakukan kekerasan pada perempuan, melakukan kekerasan pada kaum homoseksual dan Al-Quran memberi petunjuk bagi muslim untuk membenci mereka yang tidak sepaham.Masih

segar dalam ingatan

Wilders menjadi

sutradara film berjudul

Fitnah disebarkan

lewat situs berbagi

video Liveleak pada

  1. Tayangan berdu

rasi 16 menit 48 detik

ini memperlihatkan surat al-Anfal ayat 60, potongan klip media dan guntingan surat kabar memberitakan tindak kekerasan dilakukan kaum muslim. Surat ini diyakini salah satu perintah berperang bagi umat Islam.

Pastur Terry Jones yang tiba-tiba mencuat dan menjadi pembicaraan publik. Sejak ia mencanangkan ide gilanya untuk melaksanakan suatu pembakaran Al-Quran tepat hari peringatan 11 September. Siapa pastor konyol itu? Seperti di lansir Islamtimes.org, Pastor dari gereja Dove World Outreach Center di Gainesville, Florida, Amerika Serikat itu bersama pengikutnya akan memperingati peristiwa 9/11 dengan membakar Al-Quran mulai dari pukul 18.00 hingga 21.00 waktu setempat. Jones adalah

pastor yang memimpin sebuah gereja kecil di Florida, pengikutnya tidak lebih dari 50 orang. Namun aksi-aksinya kerap membuat dunia Islam murka. Kelompok Dove World Outreach Center didukung oleh Shannon Carson, seorang pemuka agama

setempat yg juga membenci Islam. Carson menyebut Islam tidak lebih sebagai aliran sesat yang sedang menginvasi Amerika Serikat.Jones gila, dikenal sebagai penulis buku yang sering menghujat Islam. Ia adalah penulis buku berjudul “Islam Is of The Devil”. Buku itu mengungkap kebenciannya terhadap Islam. Ia menyebutkan bahwa kebenciannya itu bukan semata soal agama. Melainkan ia peduli terhadap masa depan generasi mendatang agar terhindar dari Islam. Ia menyebut Islam sebagai bencana, bersama dengan kelompoknya juga berusaha menarik simpati Muslim untuk beralih keyakinan. Di situsnya, ia bahkan terang-terangan berani mengajak perempuan muslim untuk pindah agama dengan iming-iming rumah dan makanan. Di situsnya, ia juga menulis sepuluh alasan untuk membakar Al Al-Quran.

Sebelum berkotbah di Florida, Jones dikenal sebagai misionaris di Jerman. Pada 2008, ia diusir oleh jemaat dari gereja yang ia dirikan sendiri karena dinilai terlalu radikal. Wakil Ketua Masyarakat Kristen Koln, Stephan Baar menyatakan Jones kerap berceramah dengan keras, bahkan dengan pemahaman fundamental mengenai Injil.

Selain dibenci banyak kalangan, Jones juga dibenci oleh anaknya sendiri, Emma Jones. Emma keluar dari gereja tersebut bahkan menuduh ayah dan ibu tirinya telah melecehkan dirinya secara keuangan dan mengeksploitasi dirinya sebagai buruh.
Sam Bacile, seorang yang berdarah Mesir-Amerika Serikat dan menetap di Kota Los Angeles, Negara Bagian California. tampil menjadi pembenci Nabi Muhammad dan menjadi produser sekaligus sutradara film Innocence of Muslims, yang menggambarkan sosok Rasulullah penipu dan tukang merayu. Film ini berdurasi 14 menit dan disebar Bacile di situs berbagi video Youtube awal bulan ini.

“Ini film politik.

Amerika telah

kehilangan banyak

uang dalam perang

Irak dan Afghanistan.

Saya memerangi

pemikiran. Buat saya,

Islam itu kanker, titik,”

ujar Sam Bacile. Film itu membuat seluruh umat Islam dunia marah besar. Unjuk rasa diadakan di tiap negara, bahkan menewaskan duta besar Amerika untuk Libya, John Christopher Stevens. Senin lalu, Bacile menyerahkan diri ke kantor polisi di Los Angeles. Dia diganjar hukuman penjara dan

denda Rp 74,6 miliar.
Charlie Hebdo, kartunis paling berani sedunia. Dalam situsnya, koran mingguan menyebut diri mereka sinis ini, bakal menerbitkan kembali kartun kontroversial tentang Nabi agung Muhammad saw pada tahun ini.  Sebelumnya, pada 2006 surat kabar itu memuat kembali kartun Rasulullah ada di Jyllan Posten dan menggabungkannya dengan kreasi mereka.

Gambaran Muhammad SAW dalam kartun di Charlie Hebdo sangat menghina. Ada beberapa edisi memuat Rasul telanjang dan sedang melakukan hubungan intim bersama gadis-gadis. Ini mengundang protes keras dari masyarakat muslim dunia. Niat mereka mengeluarkan kembali kartun Nabi di tahun ini membuat pemerintah Prancis menurunkan polisi antihuru-hara bersiaga depan kantor Charlie Hebdo.

Selain diantara mereka yang telah tercatat secara sejarah menjadi tokoh an-islamisme, masih ada banyak yang seperti mereka lagi, diantaranya Arnoud Van Doorn sang tokoh kartunis dari Swedia[22], Jakob Oetama Direktur Kompas (KOMando PAStur) Gramedia Group[23], Theo Syafei[24]dan yang selainnya secara terang-terangan menghujat ajaran Nabi Muhammad SAW dengan berusaha melewati berbagai cara guna menghancurkan popularitas Islam yang telah disempurnakan oleh kedatangan Nabi Muhammad SAW seperti kaum Syi’ah[25], Angelisme[26], Katolikisme[27], Mesudisme[28].

Akan tetapi hal yang paling patut kita acungkan adalah bahwa Allah SWT akan membalas segala apa yang diperbuat oleh orang yang tiada mau mengikuti, mencintai, mengagungkan dan menjadikan dirinya sebagai uswah hasanah.

“Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul.” Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab.”(QS Ar Ra’d : 43)

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS Ali Imran : 31)

 

“Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. “(QS Al Hujurat : 3)

Maka sepatutnya bagi kita yang mengaku muslim, agar tetap memberi tempat yang special dihati kita akan keberadaan nama nabi agung kita[29], semoga kita termasuk dari umat yang disebutkan dalam hadits :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ المُعَلِّمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

“tiada beriman seseorang, hingga ia mencintai aku melebihi kecintaanya kepada saudaranya.”(HR Bukhari – Muslim[30])[31]

 

Atau dalam riwayat lain

“…..dari kedua orangtuanya dan anak-anaknya.” (HR Bukhari )[32]

Maka dengan tetap memandang nama beliau sebagai keagungan yang telah ditinggikan namanya, sebagaimana yang telah tersebut didalam QS Alam Nashrah :4. Didalam kitab tafsirnya[33], Ibnu Katsir[34]menyebutkan keterangan dari 2 ulama’ besar ahli tafsir generasi tabi’in, Imam Qatadah[35] dan Imam Mujahid[36], yang keduanya mengatakan bahwa peninggian nama nabi adalah pada kalimat syahadat yang menandai keagungan nama beliau di dunia dan akhirat. Hasan al Tsabit menuliskan syair :

Dipancarkan pada penutup kenabian,

Dari Allah yang kemilau lagi disaksikan,

Illah yang telah menggabungkan nama nabi dengan namaNYA,

Dimana pada kumandang kelima muadzin menyebut syahadat,

dan diambil nama dari nama-NYA untuk mengagungkanya,

demikian pemilik arsy yang sangat Terpuji, dan inilah Muhammad.

 

Kami hendak berharap dengan sangat kepada Allah SWT agar memperkenankan kami memenuhi keutamaan nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam, yang satu-satu umat manusia yang diperkenankan oleh Allah azza wa jalla untuk memberi syafaat[37] dan permohonan pertolongan kepada Allah di hari akhir kelak.

عن أَبُي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

 

“Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat kelak, orang yang muncul lebih dahulu dari kuburan, orang yang paling dahulu memberi syafa’at, dan orang yang paling dahulu dibenarkan memberi syafa’at {Muslim 7/59}

حَدَّثَنِي يُونسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلى، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ، قَالَ: َ أَخْبَرَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ يَدْعُوهَا، فَأُرِيدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

 

“Setiap nabi memiliki doa mustajab, setiap nabi telah menggunakan do’a tersebut namun aku menyimpan doa itu untuk memberikan syafaat bagi umatku pada hari kiamat. Syafa’at tersebut insya Alah akan sampai kepada ummatku yang mati tanpa menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun'” {Muslim 1/131}

 

       Bahkan pada hari kiamat kelak akan ada sgolongan manusia yang menyesali keadaan mereka dan sangat berharap ada salah seorang nabi yang menolong mereka dari kebinasaan, maka mereka menatangi nabi Adam as, Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as[38], secara bergantian, akan tetapi mereka tiada berkuasa untuk mengabulkan permintaan mereka, maka hanya Nabi Muhammad saw saja yang diperkenankan oleh Allah SWT untuk berdoa apa yang dia kehendaki, maka Allah berfirman :

يَا مُحَمَّدُ أَدْخِلْ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِكَ مَنْ لَا حِسَابَ عَلَيْهِ مِنْ الْبَابِ الْأَيْمَنِ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ وَهُمْ شُرَكَاءُ النَّاسِ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِنْ الْأَبْوَابِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَا بَيْنَ الْمِصْرَاعَيْنِ مِنْ مَصَارِيعِ الْجَنَّةِ لَكَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَهَجَرٍ أَوْ كَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَبُصْرَى

‘Wahai Muhammad! Masukkanlah ke surga umatmu yang bebas hisab dari pintu surga sebelah kanan, dan selain mereka lewat pintu yang lain lagi’ Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya antara dua daun pintu di surga sebanding antara Makkah dan Hajar (atau antara Makkah dan Bashrah).'”{HR al-Bukhari[39], Muslim[40]}

Sehingga tatkala beliau di tanyai oleh cucu kesayangan beliau, Ali bin Abu Thalib ra[41],

“Wahai Rasulullah, apakah anda bisa memberi syafa’at kepada paman anda?”

Beliau menjawab: “Ya, dia beradadi permukaan neraka, kalau bukan karena syafa’atku maka ia akan berada di bagian neraka yang paling dalam.”(HR Muslim)[42]

Juga dalam riwayat lain oleh Al Bukhari[43] disebutkan bahwa yang bertanya kepada beliau adalah Abbas ibn Abdul Muthalib[44].

Hal lain yang memberi bukti akan kenyataan syafaat beliau adalah tentang sekelompok umat manusia yang hampir binasa di makan derasnya ombak siksa neraka, maka belia mendoakan :

“Ya Allah, berilah keselamatan. Maka sang hamba tadi lewat dalam keadaan merangkak dan ia pun akhirnya selamat dari neraka walaupun harus terluka terlebih dahulu.” (HR Muslim: 195)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلَا قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي إِبْرَاهِيمَ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي الْآيَةَ وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَام إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي وَبَكَى فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَسَأَلَهُ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا قَالَ وَهُوَ أَعْلَمُ فَقَالَ اللَّهُ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ فَقُلْ إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ وَلَا نَسُوءُكَ

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash RA[45], bahwasanya Nabi SAW membaca firman Allah SWT tentang doa Ibrahim AS, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia. Barang siapa yang mengikuti tuntunanku maka ia termasuk golonganku. Barang siapa yang membangkang kepadaku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Doa yang diucapkan Isa AS, “Jika Engkau menyiksa mereka, sebenarnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.Jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Lalu Nabi SAW mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “YaAllah, bagaimana dengan umatku… Ya Allah, bagaimana dengan umatku.”

Beliau menangis, maka Alah SWT berfirman, “Hai Jibril! Pergilah ke Muhammad -Tuhanmu Maha Mengetahui (Ia lebih Mengetahui)-, tanyakan kepadanya apayang membuat dia menangis?”

Maka Jibril AS menghampirinya seraya bertanya. Kemudian Jibril diberitahu oleh Nabi SAW tentang apa yang telah diucapkannya. -Sedang Allah Maha Mengetahui- lalu Allah SWT berfirman. “Hai Jibril! Pergilah ke Muhammad dan katakan, ‘Sesungguhnya Kami memberimu kemudahan untuk umatmu dan Kami tidak akan menyusahkanmu.'” {Muslim 1/132}

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ الطُّفَيْلَ بْنَ عَمْرٍو الدَّوْسِيَّ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ لَكَ فِي حِصْنٍ حَصِينٍ وَمَنْعَةٍ قَالَ حِصْنٌ كَانَ لِدَوْسٍ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَأَبَى ذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلَّذِي ذَخَرَ اللَّهُ لِلْأَنْصَارِ فَلَمَّا هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ هَاجَرَ إِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَهَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَمَرِضَ فَجَزِعَ فَأَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ فَشَخَبَتْ يَدَاهُ حَتَّى مَاتَ فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فِي مَنَامِهِ فَرَآهُ وَهَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ وَرَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ فَقَالَ لَهُ مَا صَنَعَ بِكَ رَبُّكَ فَقَالَ غَفَرَ لِي بِهِجْرَتِي إِلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا لِي أَرَاكَ مُغَطِّيًا يَدَيْكَ قَالَ قِيلَ لِي لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ

Dari Jabir RA[46] bahwa Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi telah datang kepada Nabi SAW seraya bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah engkau mempunyai senjata yang kuat seperti yang dimiliki Daus pada masa Jahiliyah.” Maka Nabi SAW tidak menjawab demi senjata yang disiapkan oleh Allah untuk kaum Anshar. Tatkala Nabi SAW berhijrah ke Madinah, Ath-Thufail bin Amru turut pula berhijrah disertai seorang pria dari kaumnya. Tiba-tiba mereka tidak betah karena iklim dan wabah penyakit yang ada di Madinah. Kemudianpria tersebut sakit dan bertahan sehingga ia mengambil anak panahnya lalu memutus jari-jarinya” dengan anak panah itu sehingga kedua tangannya luka lalu ia meninggal. Kemudian At-Thufail bin Amru melihat pria tersebut dalam mimpinya dengan kondisi baik namun ia menutupi kedua tangannya. Lalu Ath-Thufail bin Amru bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan Tuhan kepadamu?” Pria itu menjawab, “Tuhan telah mengampuniku karena aku turut hijrah bersama Nabi-Nya.” Ath-Thufail bin Amru bertanya lagi, “Mengapa kamu menutupi kedua tanganmu?” Ia mejawab, “Dikatakan kepadaku, ‘Kami (Allah) tidak akan menyembuhkan luka yang telah kamu perbuat sendiri.'” Lalu hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW, maka Rasul pun berdoa, “Ya Allah! Ampunilah dosa anak muda itu karena dua tangannya.” {Muslim 1/76}

Maka kami berharap penuh kepada Allah SWT agar berkenan memberikan izin dan keridhaan kepada kita untuk ditempatkan sebagai salah satu dari yang dimaksud oleh ayat :

Dan tidaklah bermanfaat syafa’at itu di sisi Allah kecuali bagi orang yang telah diizinkan.”(QS Saba’ : 23)

Dan mereka (para pemberi syafa’at) tidaklah memberi syafa’at kecuali kepada orang yang telah diridhai. (QS al- Anbiya’ : 28)

[1]Ini adalah muqadimah khutbah yang telah lazim dikalangan ahlul ilmi. Khutbah semacam ini dikalangan Ulama’ dikenal dengan Khutbatul Al- Hajah. Khutbah ini dipergunakan untuk beberapa jenis khutbah, seperti Khutbah Jum’at, Khutbah Ied, Khutbah Nikah, dan lain-lain. As Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani mempunyai risalah khusus yang berisi hadits-hadits beserta sanad-sanadnya tentang khutbah di atas seperti telah diterbitkan di majalah Tamaddun Al-Islami.. Mereka yang mencitai sunnah Rasul dan ingin menghidupkannya, hendaknya selalu memakai khutbah tersebut di dalam berbagai kesempatan, sebab khutbah itu banyak disebutkan di dalam haditsnya.(Muqadimah as Shaihihah, Karya As Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Juz I, hsl. 1)

[2]sebuah kepercayaan monoteistik yang berdasar pada ajaran, hidup, sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus menurut Perjanjian Baru. Agama ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias yang diramalkan dalam Perjanjian Lama, juruselamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa. Pengikutnya beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Murid-murid Yesus Kristus pertama kali dipanggil Kristen di Antiokhia (Kisah Para Rasul 11: 26b).

[3] Allah SWT Berfirman :

إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ

Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, karena mereka melihat kepada Rabb mereka.” (Al-Qiyamah: 22-23)

 

Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa manusia berkata:

“Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?” Beliau menjawab: “Apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat bulan pada malam purnama di saat tidak ada awan di bawahnya?” Mereka menjawab: “Tidak, ya Rasulullah?” Beliau berkata: “Apakah kalian pun berdesak-desakan ketika melihat matahari di saat tidak ada awan?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau berkata: “Maka sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu.” (HR. Bukhari 764).

Dari Ubadah bin Shamit dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam, beliau berkata: “Barangsiapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemua dengannya, dan barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, Allah pun membenci pertemuan dengannya.” Maka berkatalah Aisyah atau salah seorang istrinya: “Kita semua membenci kematian.” Beliau menjawab: “Bukan begitu, akan tetapi seorang mukmin apabila akan didatangi oleh kematian, dia akan digembirakan dengan keridhaan Allah dan kemulian-Nya, maka tidak ada sesuatupun yang lebih dia cintai daripada masa depannya, lalu dia pun mencintai pertemuan dengan Allah dan Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Adapun orang kafir apabila dia akan didatangi kematian, dia diberi kabar tentang adzab Allah dan siksanya, maka tidak ada yang lebih dia benci dibandingkan masa depannya, maka dia pun membenci pertemuan dengan Allah dan Allah pun membenci pertemuan dengannya.” (HR. Bukhari 6026)

[4] Lihat Fatawa al-Aqidah, hlm. 787–789, oleh Syaikh Ibnu Utsaimin. M. Quraish Shihab. Membumikan Alquran; Fungsi dan Kedudukan wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat. Lentera Hati, Jakarta, 2011

Allah SWT berfirman ;

Maka jika mereka berpaling katakanlah, “saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Islam(Ali Imran: 64)

” Yang mendengarkan perkataan (al qaula) lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah di beri Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar: 18)

 

Al Ustadz M. Quraish Shihab berkata ( Muqadimah tafsir Al Mishbah, QS AZ Zumar) :

“……..Selain itu, terdapat pula keterangan mengenai akhir perjalanan orang yang mendustakan Allah dan menustakan kebenaran yang dibawa Rasul-Nya, serta akhir perjalanan orang-orang yang benar dalam perkataannya dan membenarkan serta mempercayai ajaran-ajaran yang disampaikan mereka……”

[5]Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku.” (QS. Az-Zariyat : 56).

Ibadah, dalam ayat ini, artinya : Tauhid. Dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah untuk Allah semata-mata. Sedang larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu : menyembah selain Allah di samping menyembahNya.

واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu denganNya.” (QS. An-nisa; : 36).

 

Allah Ta’ala berfirman :

]أولئك الذين يدعون يبتغون إلى ربهم الوسيلة أيهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون عذابه إن عذاب ربك كان محذورا[

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), dan mereka mengharapkan rahmatNya serta takut akan siksaNya, sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra’, 57)

]وإذ قال إبراهيم لأبيه وقومه إنني براء مما تعبدون إلا الذي فطرني فإنه سيهدين[

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya : sesungguhnya aku membebaskan diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) Dzat yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukkan (kepada jalan kebenaran).” (QS. Az  zukhruf, 26-27).

]اتخذوا أحبارهم ورهباهم أربابا من دون الله والمسيح بن مريم وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون[

          “Mereka menjadikan orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka mempertaruhkan pula) Al Masih putera Maryam, padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada satu sembahan, tiada sembahan yang haq selain Dia. Maha suci Allah dari perbuatan syirik mereka.” (QS. Al  Taubah, 31).

]ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله[

“Diantara sebagian manusia ada yang menjadikan tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah, 165).

 

Diriwayatkan dalam Shoheh Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“من قال لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله”

          “Barang siapa yang mengucapkan لا إله إلا الله, dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, adapun perhitungannya adalah terserah kepada Allah”.

[6]Ia adalah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah. Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah. Kakek (Zoroaster) sebagai agama asli orang-orang Persia yang menyembah api. Sang kakek tersebut meninggal dalam keadaan masih beragama Majusi. Putra dari Bardizbah yang bernama Al-Mughirah kemudian masuk Islam di bawah bimbingan gubernur negeri Bukhara Yaman Al-Ju’fi sehingga Al-Mughirah dengan segenap anak cucunya dinisbatkan kepada kabilah Al-Ju’fi. Dan ternyata cucu dari Al-Mughirah ini di kemudian hari mengukir sejarah yang agung, yaitu sebagai seorang Imam Ahlul Hadits. Dilahirkan di Bukhara selepas shalat Jum’at, tepatnya tanggal 13 Syawal 194 H. Beliau dikenal sebagai orang yang pemberani, pemaaf, banyak berderma, berbudi pekerti luhur, zuhud terhadap dunia dan hati-hati dalam berbicara. Termasuk saat melakukan jarh (kritik), beliau menggunakan ungkapan yang halus untuk menilai perawi yang bermasalah atau berderajat lemah.Imam al-Bukhari رحمَ الله juga menjadi teladan dalam ibadah dan akhlak sebagai bentuk pengamalan ilmunya. Setiap malam, beliau mengerjakan shalat malam sebanyak 13 rakaat, dan setiap malam dalam bulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan bacaan al-Qur”an. Beliau berinfak dan bersedekah di siang dan malam. Imam Ibnu Katsir رحمَ الله dalam al-Bidayah (11/24) menyebutkan bahwa Imam al-Bukhari رحمَ الله termasuk orang yang mustajabu dawah, doanya dikabulkan.

 

Hasan bin Husain al-Bazzaz berkata :

“Aku melihat Muhammad bin Ismail seorang yang berbadan kurus, tidak tinggi dan tidak (juga) pendek'(Asami man rawa ‘anhum Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, al-Hafizh Ibnu ‘Adi al-Jurjani, tahq’iq Badr bin Muhammad al-‘Ammasy, hlm.60)

 

Imam al-Bukhari رحمَ الله juga pernah menceritakan :

“Aku diberi ilham untuk menghafal hadits sejak aku masih di madrasah. Saat itu, usiaku sekitar 10 tahun, hingga aku keluar dari madrasah itu pada usia 10 tahun. Aku mulai belajar kepada ad-Dakhili dan ulama lainnya. Suatu saat, beliau membacakan satu hadits di hadapan orang-orang (dengansanad dari) Sufyan, dari Abu Zubair dari Ibrahim. Maka aku berkata kepadanya, “Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan (hadits) dari Ibrahim”. la pun menghardikku. Lantas aku berkata, “Coba telitilah kembali kitab aslinya”. la pun memasuki rumah dan meneliti kembali, kemudian keluar dan bertanya, “Bagaimana penjelasannya wahai anak muda?”. Aku menjawab, “(Yang dimaksud) adalah Zubair bin Adi dari Ibrahim..”. Beliau lantas mengambil penaku dan mengoreksi kitabnya, seraya berkata, “Engkau benar”.

 

, “Aku pernah belajar kepada para fuqaha Marw. Saat itu aku masih kanak-kanak. Jika aku datang menghadiri majlis mereka, aku malu mengucapkan salam kepada mereka. Salah seorang dari mereka bertanya kepadaku, “Berapa banyak (hadits) yang telah engkau tulis?”. Aku menjawab, “Dua (hadits)”. Orang-orang yang hadir pun tertawa. Lalu salah seorang Syaikh berkata, “Janganlah kalian menertawakannya. Bisa jadi suatu saat nanti justru dia yang menertawakan kalian”.

 

Pada usia 16 tahun, beliau sudah menghafal kitab karangan Imam Waki’ رحمَ الله dan Ibnul Mubarak رحمَ الله. Kemudian pada usia 17 tahun, beliau telah dipercaya oleh salah seorang gurunya Muhammad bin Salam al-Bikandi untuk mengoreksi karangan-karangannya.

Guru-guru beliau :

“Aku menulis (hadits) dari seribu lebih syaikh. Dari setiap Syaikh itu, aku tulis sepuluh ribu riwayat bahkan lebih. Tidaklah ada hadits padaku kecuali aku sebutkan sanadnya (juga)”. (Lihat as-Siyar:12/407, al-Bidayah 11/22)

“Aku telah menulis (hadits) dari 1080 orang. Semuanya adalah ahlul hadits. Mereka semua meyakini, Iman adalah qaul dan amal, berrtambah dan berkurang’. (as- Siyar:12/395)

Imam Ahmad bin Hanbal رحمَ الله. Muhammad bin Salam al-Bikandi, Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Ja’far bin Yaman al-Ju’fi al-Musnidi, Imam Ishaq bin Rahuyah, Imam Muhammad bin Yusuf al- Firyabi, Imam Abu Nu’aim Fadhl bin Dukain, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ali bin al-Madini, Imam Yahya bin Ma’in, Imam Makki bin Ibrahim al-Balkhi, Abdan bin Utsman, Imam Abu Ashim an-Nabil, Muhammad bin Isa ath-Thabba’, Khalid bin Yazid al-Muqri” murid Imam Hamzah, dan masih banyak lagi ulama yang mengajarkan ilu kepada Imam Bukhari yang telah tercatat oleh para ulama ahli sejarah muslim, diantanranya Asami Syuyukhi al-Bukhari karya Hasan bin Muhammad ash-Shaghani, Tanqihu Rijali al-Bukhari karya Muhammad bin Yusuf al-Karmani, at-Ta’rif bi Syuyukhi al- Bukhari karya al-Hafizh Husain bin Muhammad al-Ghassani dan lainnya. DR. Badr al-‘Ammasy menyebutkan 35 judul kitab dalam masalah ini. Lihat Asami man rawa ‘anhum Muhammad bin Isma’il al- Bukhari, al-Hafizh Ibnu ‘Adi al-Jurjani, tahqiq Badr bin Muhammad al- ‘Ammasy, hlm.46-53

 

Kehebatan Hafalan beliau

Hasyid bin Isma’il pernah menceritakan, “Dahulu Abu Abdillah (Imam al-Bukhari) bersama kami mendatangi para guru Bashrah. Waktu itu ia masih belia, dan tidak (tampak) mencatat apa yang telah didengar. Hal itu berlangsung beberapa hari. Kami pun bertanya kepadanya, “Engkau menyertai kami mendengarkan hadits, tanpa mencatatnya. Apa yang kamu perbuat sebenarnya? Enam belas hari kemudian, Imam al-Bukhari رحمَ الله akhirnya menjawab, ‘Kalian telah sering bertanya dan mendesakku. Coba tunjukkanlah apa yang telah kalian tulis’. Maka kami mengeluarkan apa yang kami miliki yang berjumlah lebih dari 15 ribu hadits. Selanjutnya, ia menyebutkan seluruhnya dengan hafalan, sampai akhirnya kami membenahi catatan-catatan kami melalui hafalannya. Kemudian ia berkata, “Apa kalian sangka aku bersama kalian hanya main-main saja dan menyia- nyiakan hari-hariku?!” Maka, kami pun sadar, tidak ada seorang pun yang melebihinya’.(as-Siyar.12/407)

Kehebatan hafalan beliau juga tampak ketika Ulama Baghdad mendengar akan kedatangan Abu ‘Abdillah (Imam al-Bukhari) ke kota mereka. Dengan sengaja, mereka itu mempersiapkan seratus hadits dan kemudian menukar dan merubah matan dan sanadnya. Mereka menukar matan satu sanad dengan teks hadits yang lain, dan begitu sebaliknya. Setiap orang memegangi sepuluh hadits yang nantinya akan dilontarkan kepada Abu Abdillah sebagai bahan ujian kekuatan hafalannya.

Orang-orang pun berkumpul di dalam majlis. Orang pertama menanyakan kepada Imam al-Bukhari رحمَ الله sepuluh hadits yang ia miliki satu persatu. Setiap kali ditanya, Imam al-Bukhari menjawab, sampai hadits yang kesepuluh, “Saya tidak mengenalnya (hadits itu dengan sanad yang disebutkan). Para Ulama yang hadir pun saling menoleh kepada yang lain dan berkata, “Orang ini (benar-benar) paham”. Sementara orang yang tidak tahu tujuan majlis itu diadakan menilai Imam al-Bukhari رحمَ الله sebagai orang yang lemah hafalannya. Kemudian tampillah orang kedua, melakukan hal yang sama. Dan setiap kali mendengarkan satu hadits, beliau berkomentar sama, “Aku tidak mengenalnya”. Selanjutnya tampil orang ketiga sampai orang terakhir. Dan komentar beliau pun” tidak lebih dari ucapan, ‘Aku tidak mengenalnya”.

Setelah semua selesai menyampaikan hadits-haditsnya, Imam al-Bukhari رحمَ الله menoleh ke arah orang pertama seraya meluruskan, “Haditsmu yang pertama mestinya demikian, yang kedua mestinya demikian, yang ketiga mestinya demikian, sampai membenarkan hadits yang kesepuluh. Setiap hadits beliau satukan dengan matan- matannya yang benar. Beliau melakukan hal yang sama kepada para ‘penguji’ lainnya sampai pada orang yang terakhir. Akhirnya, orang-orang pun betul-betul mengakui akan kehebatan hafalan beliau.(Siyar 12/409, al-Bidayah wan Nihayah:11/22)

Di Samarkand, beliau pun menghadapi hal yang sama. Empat ratus ulama hadits menguji beliau dengan hadits- hadits yang sanad-sanad dan nama rijal (para perawi) yang telah dicampuradukkan, menempatkan sanad penduduk Syam ke dalam sanad penduduk Irak, meletakkan matan hadits bukan pada sanadnya. Lantas, mereka membacakan hadits-hadits dan sanad-sanadnya yang sudah campur-aduk ini ke hadapan Imam al-Bukhari رحمَ الله. Dengan sigap, beliau mengoreksi semua hadits dan sanad itu dan menyatukan setiap hadits dengan sanadnya yang benar. Para Ulama yang menyaksikan itu, tidak mampu menjumpai satu kesalahan dalam peletakan matan maupun penempatan posisi para perawi. (Lihat as-Siyar 12/411, al-Bidayah 11/22)

Abu Ja’far pernah menanyakan kepada Abu Abdillah, “Apakah engkau hafal seluruh (riwayat) yang engkau masukkan dalam kitabmu?”. “Tidak ada yang kabur pada (hafalan)ku seluruhnya”. (As-Siyar:12/403)

Abu Abdillah pernah bercerita tentang dirinya, “(Suaru ketika) aku mengingat-ingat murid Anas. Dalam sekejap 300 orang terbetik dalam ingatanku”.

Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih bermanfaat (menguatkan) hafalan daripada keinginan kuat seseorang dan sering menelaah (tulisan).(as-Siyar, 12/406)

“Aku menghafal seratus ribu hadits shahih, dan dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”.(as-Siyar 12/415, Tahdzibul Kamal, no.1172)

Imam Ishaq bin Rahuyah رحمه الله (gurunya) berkata, “Seandainya dia (al-Bukhari) hidup di masa Hasan al-Bashri رحمه الله pastilah orang-orang membutuhkannya karena penguasaan dan pemahamannya terhadap hadits”.

Muhammad bin Basysyar (gurunya) berkata, “Huffazh (Ahli Hadits) di dunia ada empat: Abu Zur’ah dari Ray, ad- Darimi dari Samarkand, Muhammad bin Ismail dari Bukhara dan Muslim dari Naisabur”.

Imam Qutaibah رحمَ الله berkata, “Seandainya Muhammad (bin Ismail al-Bukhari) hidup di kalangan Sahabat maka ia adalah mukjizat”.

Imam Raja al-Hafizh رحمَ الله mengatakan, “la adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang berjalan di atas bumi”.

Imam Ibnu Khuzaimah   رحمَ الله (salah seorang muridnya) berkata, Aku belum pernah melihat di bawah langit orang yang lebih mengetahui hadits Rasulullah, lebih kuat hafalannya daripada Muhammad bin Isma’il al-Bukhari .رحمَ الله

Imam at-Tirmidzi رحمَ الله (salah seorang muridnya) berkata, “Aku belum pernah melihat di Irak, tidak juga di Khurasan, seseorang yang lebih paham tentang ‘ilal, tarikh dan pengetahuan mengenai sanad hadits dibandingkan Muhammad bin Isma’il”.

 

Banyak nama-nama terkenal menghiasai daftar orang- orang yang berguru pada Imam al-Bukhari رحمَ الله. Di antara mereka adalah, Imam Muslim ,رحمَ الله Imam at-Tirmidzi , رحمَ الله Imam Abu Hatim رحمَ الله , Imam Ibnu Abi Dunya رحمَ الله, Imam Ibrahim bin Ishaq al-Harbi رحمَ الله, Imam Ibnu Khuzaimah

 

Usai mengisi hari-hari kehidupannya dalam kesibukan menyebarkan ilmu (hadits), ajal yang telah ditentukan menjemput Imam al-Bukhari رحمَ الله. Beliau sempat sakit sebelum meninggal. Wafat pada malam Sabtu, malam hari raya Idul Fitri, tahun 256H dalam usia 62 tahun. Jenazah beliau ditutup dengan tiga lembar kain putih, tanpa mengenakan qamis; maupun imamah, sebagaimana isi wasiat yang beliau   sampaikan   sebelum   meninggal.   Saat proses   pemakaman jenazah,   tersebar   aroma wangi yang lebih harum dari minyak misk dari kuburnya dan sempat bau harum itu bertahan   selama beberapa hari. Dengan meninggalkan berbagai tulisan yang luar biasa yang mengisi daftar kepustakaan Islam, diantaranya Shahih al-Bukhari, al-Adabul Mufrad, at-Tarikh ash- Shaghir, at-Tarikh al-Kabir, at-Tarikh al-Ausath, Khalqu Af’ali al-‘Ibad, juz fi al-Qira’ah khalfal Imam. Dan lainnya.

[7] Kitab hadits yang paling tinggi derajatnya dimuka bumi setelah Kalamullah Al Quranul Kariim, dengan judul lengkap, al-Jâmi’ al-Musnad ash-Shahîh al-Mukhtashar min Umûri Rasûlillâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanuhu wa Ayyâmuhu. (Tahdzîbul Asmâ’ wal Lughât, I/77-78, karya Imam an-Nawawi rahimahullah)

Diantara para ulama yang memuji ke luarbiasaan kitab ini :

Ibnu Katsir (wafat th. 774 H) berkata, “Para Ulama telah bersepakat menerimanya –yakni Shahîh al-Bukhâri- dan keshahihan semua yang ada di dalamnya, begitu juga semua ummat Islam.” (al-Bidâyah wan Nihâyah XI/250)

al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni (wafat th. 852 H) berkata “Sungguh aku telah melihat bahwa Abu ‘Abdillah al-Bukhâri dalam Jâmi’ Shahîhnya telah mengambil penetapan dan pengambilan hukum dari cahaya yang indah –yakni al-Qur-an dan as-Sunnah-, mengambil dan menukil dari sumbernya, dan beliau dikaruniai niat yang baik dalam mengumpulkan hadits-hadits, sehingga orang-orang yang menyelisihi dan menyetujui mengakuinya, juga menerima pembicaraannya dalam Shahîhnya …” [Muqaddimah Fathul Bâri, hlm. 3]

Imam Tâjuddîn Abu Nashr Abdul Wahhab bin Ali bin Abdul Kâfi as-Subky (wafat th. 771 H) berkata, “Adapun kitabnya (al-Bukhari) al-Jâmi’ as-Shahîh adalah kitab Islam yang paling mulia setelah Kitâbullâh.” [Thabaqâtus Syâfi’iyyatil Kubra, I/424,]

Imam An-Nawawi (wafat th. 676 H) berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa kitab yang paling Shahîh setelah al-Qur’ân adalah Shahîh al-Bukhâri dan Muslim, dan ummat pun telah menerimanya, kitab al-Bukhâri adalah paling Shahîh dari keduanya dan paling banyak faedah, pengetahuan yang tampak maupun yang tersembunyi, dan telah Shahîh juga bahwa Muslim-lah yang mengambil faedah dari al-Bukhâri, beliau juga mengaku bahwa dirinya tidak setara (dengan al-Bukhari) dalam ilmu hadits.” [Syarah Shahîh Muslim oleh Imam an-Nawawi, I/14]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Tidak ada di bawah permukaan langit ini kitab yang lebih Shahîh setelah al-Qur’an dari Shahîh al-Bukhâri dan Muslim.” [Majmû’ Fatâwâ Syaikhul Islâm, XVIII/74]

Imam Muhamamd bin ‘Ali Asy-Syaukani (wafat th. 1250 H) berkata, “Ketahuilah bahwa apa-apa yang berasal dari hadits-hadits dalam Shahîhain atau salah satunya boleh dijadikan hujjah tanpa perlu diteliti, karena keduanya telah disepakati keshahihannya dan ummat telah menerimanya.” [Nailul Authâr, I/119]

Syeikh Abdussalâm al-Mubarakfûri berkata, “al-Jâmi’ ash-Shahîh adalah sebuah kitab yang seandainya kita berusaha menyusun sejarahnya dan menjelaskannya dari semua sisi, tentu akan membutuhkan berjilid-jilid tebal kitabnya. [Sirah al-Imam al-Bukhâri, hlm. 159].

al-‘Allâmah Ibnu Khaldun menyatakan, “Sungguh aku telah mendengar para guru kami –Rahimahumullâhu- menyatakan, “Syarah (penjelasan) kitab al-Bukhâri adalah hutang yang ditanggung umat ini. [Muqaddimah ibnu Khaldun 3/1142 Dinukil dari Sirah al-Imam al-Bukhâri, hlm. 159]

Dengan sistematika penulisan dan jumlah haditsnya :

Al-Warâq menyampaikan pernyataan Imam al-Bukhâri, “Aku susun kitab al-Jâmi’ dari enam ratus ribu hadits dalam waktu enam belas tahun.” (Muqaddimah Fathul Bâri, hlm. 489).

Ibnu ‘Adi menyampaikan berita dari beberapa guru beliau bahwa imam al-Bukhâri menyusun judul bab dalam shahihnya antara kuburan Nabi dengan mimbarnya dan beliau shalat dua rakaat untuk setiap judul babnya. [Muqaddimah Fathul Bâri, hlm. 489]

Abu Ja’far al-‘Uqaili berkata, “Ketika al-Bukhâri menyusun kitab Shahîh, beliau menyerahkannya kepada Ali Ibnu al-Madini, Ahmad bin Hambal, Yahya bin Ma’in dan yang lainnya. Lalu mereka menerima kitab tersebut dengan baik dan memastikan keshahihannya kecuali empat hadits.”

al-‘Uqaili menyatakan, “Yang benar dalam hal ini adalah pendapat al-Bukhâri dan keempat hadits tersebut shahih. [Muqaddimah Fathul Bâri, hlm. 489]

Telah diringkas oleh :

  1. Jamaluddin Ahmad bin Umar al-Anshâri al-Qurthubi, wafat tahun 656 H dalam kitab Mukhtashar Shahîh al-Bukhâri
  2. Zainuddin Ahmad bin Ahmad bin Abdillathif asy-Syarji az-Zabîdi, wafat tahun 894 H dalam kitab at-Tajrîd ash-Sharîh li Ahâdîts al-Jâmi’ ash-Shahîh
  3. Abdullah bin Sa’ad bin Abi Jamrah al-Azdi, wafat tahun 675 H dalam kitab an-Nihâyah fi Bad`i al-Khair wal Ghâyah

Telah disyarah oleh :

  1. Abu Sulaiman Hamd bin Muhammad al-Busti al-Khathâbi (wafat tahun 308 H) dalam kitab I’lâm as-Sunan
  2. Muhallab bin Abi Shafrah al-Azdi (wafat tahun 435 H) dalam kitab Syarh al-Muhallab
  3. Abu Abdillah Muhammad bin Khalaf al-Murâbith (wafat tahun 485 H) dalal kitab Mukhtashar Syarh al-Muhallab
  4. Ibnu Abdilbarr Abbu Umar Yusuf bin Abdillah bin Muhammad bin Abdilbarr (Wafat tahun 463 H) dalam kitab al-Ajwibah ‘ala al-Masâ`il al-Musta’ribah Minal Bukhâri
  5. Abul Hasan Ali bin Khalaf bin Abdilmalik Ibnu Bathâl (wafat tahun 449 H) dalam Syarah Ibnu Bathâl
  6. Abu Hafsh Umar bin al-Hasan bin Umar al-‘Auzi al-Isybili (wafat tahun 460 H) dalam kitab Syarh Shahîh al-Bukhâri
  7. Syamsuddin Muhammad bin Yusuf bin Ali al-Karmâni wafat tahun 786 H dalam kitab al-Kawâkib ad-Darari
  8. Sirajuddin Umar bin Ali bin Ahmad Ibnu al-Mulaqqin wafat tahun 804 H dalam kitab Syawâhidut Taudhîh
  9. Burhanuddin Ibrahim bin Muhammad al-halabi Sibthi ibni l’Ajmi wafat tahun 837 H dalam kitab at-Talqîh li Fahmil Qâri ash-Shahîh
  10. al-Hâfizh Ibnu Hajar al-Asqalâni wafat tahun 852 H dalam Fathul Bâri Syarhu Shahîh al-Bukhari
  11. Abul Hasan Ali bin Husein bin ‘Urwah al-Mushili wafat tahun 837 H dalam kitab al-Kawâkib as-Sâri fi Syarhil Jâmi’ ash-Shahîh lil Bukhâri
  12. Badruddin Abu Muhammad Mahmûd bin Ahmad al-‘Aini wafat tahun855 H dalam kitab ‘Umdatul Qâri
  13. Syihabudin Ahmad bin Muhammad al-Khathîb al-Qusthalâni wafat tahun 923 H dalam kitab Irsyâdus Sâri

[8]Al Imam Muhammad bin Isma’il al Bukhari,kitabut Tauhid bab مَا جَاءَ فِي دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتَهُ إِلَى تَوْحِيدِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى no 7373.

[9] Lihat QS Al Insyirah : 1-8 beserta seluruh tafsirnya, baik dari Tafsir Ibnu Katsir, At Thabari, Al Qurtuby, al Baidhawy, Jallalain, as Syabuni, dll.

[10] Ted Honderich. 1995. The Oxford Companion to Philosophy. (New York: Oxford University Press). Hal. 328.

[11]Hugo Grotius, The Truth of the Christian Religion, ed. Jean le Clerc (Edinburgh: Thomas Turnbull, 1819)

[12]Martin Luther, “On War Against the Turk,” dalam Luther’s Works, Pen. Charles M. Jacobs, direvisi oleh Robert C. Schultz, editor Helmut T. Lehmann 46 (Philadelphia: Fortress Press, 1967), hal. 179

[13]Luther and Muhammedanism, MW 31 (1941), hal. 171

[14]The Fount of Knowledge (Sumber-Sumber Ilmu). Bagian lain dari buku tersebut adalah   Kephalai Philosophikhaartinya Kapita Filsafat); dan  Exdosis akhrites tes Othodokson Pisteosyang artinya Penjelasan Akurat Iman Ortodoks). Lihat catatan kaki Daniel J. Sahas, John of Darnascus: The “Heresy of the Ishma­elites,”(Leiden: E. J. Brill, 1972),hal. 54,

[15]Pendapat John mengenai Islam telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John W. Voorhis, “John of Damascus on the Moslem heresy,” MW 24 (1934), 391-9R . Naskah tersebut sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh John W. Voorhis, “The Discussion of a Christian and a Saracen,” MW 25 (1935), 266-73.

[16]Daniel J. Sahas, John of Damascus,hal 137. Lihat Admin Armas MA, Metodelogi Bible Dalam Study Al Quran, Bab Menghujat Al Quran, points ke 2, International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Islamic Univer­sity Malaysia (IIUM),Kuala Lumpur Malaysia

[17]Ia menulis beberapa karya mengenai Islam dalam bahasa Latin Diantaranya adalah: Improbatio alcorani (contra legem saracenorum) Kebatilan AI-Qur’an (Menentang Hukum Islam); Contra sectam Mahumeticam libellius (Buku Menentang Cara Fiidup Islam); Contirtatio Alcorani seu legis Sarracenonun, ex graeco nuper in latinum traducta (Membantah AI-Qur’an atau Hukum Islam, Transfer dari Yunani Modern ke Latin; Propugnaculum frdei, toti Christianae religioni aduersum mendacia, & deliramenta Saracenonun, Alcorani precipue, maxime vtile. Lihat Hartmut Bobzin, Der Koran, 507.

[18]Patrick O’Hair Cate, Each Other’s Scripture, 187.

[19]Anton Tien, “The Apology of al-Kindi: Dialogue the ‘Abbasid ‘Abdullah ibn Isma’il al-Hashimi and the Nestorian ‘Abdul Masih ibn Ishaq al-Kindi” dalam Early Christian-Muslirn Dialogue: A Collection of Documents from the First Three lslamic Centuries (632-900 AD): Translations with Commentary, editor N. A. Newman (Pennsylvania: Interdisciplinary Biblical Research Institute, 1993), 435­39, selanjutnya diringkas Apology. Ibn Kathir telah membahas peristiwa masa depan yang akan terjadi seperti digambarkan Rasulullah saw. dalam karyanya al-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim (Beirut: Dar al-Kutub al-‘llmiuyyah, 1998). Akan teatpi ia tidak konsisten dengan apa yang telah ia ucapkan, karena disaat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam menyuguhkaan berbagai kisah para umat terdahulu, malahan ia menghardik nabi dengan memberikan pernyataan

                “Cerita Muhammad mengenai `Ad, Thamud, unta dan gajah adalah cerita-cerita bodoh (idle tales)

Kenapa begitu yakin ialebih mendekati kebenaran yang hakiki dengan begitu buruknya adab beliau kepada Nabi Agung Muhammad shalallahu alaihi wassalam, tidakkah kita ingat peringatan Allah SWT :

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.(QS Ali Imran : 152)

Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah[300], dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun.”(QS An Nisa’ : 42)

[20]Anton Tien, Apology.hal 458. Untuk menjustifikasi pendapatnya, al-Kindi mengutip ucapan Muhammad sebagaimana yang terekam di dalam Surah al-Ma’idah (5: 82) yang menyebutkan: “Sesungguhnya kamu dapati orang,-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya kami ini orang Nasrani. Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”

[21] lahir di Mumbai, India, 19 Juni 1947; adalah pengarang sejumlah buku berkebangsaan Inggris, seorang pengarang penting di akhir abad ke-20 yang terkenal karena campuran unik antara sejarah dan realisme magis dalam karyanya. Sebanyak 13 buku karangannya telah memenangi sejumlah penghargaan, termasuk Booker Prize untuk Midnight’s Children pada 1981 dan Booker of Bookers untuk novelnya pada tahun 1993. Ia bersembunyi setelah Ayatollah Khomeini (pemimpin Iran) mengeluarkan fatwa pada tahun 1989 yang memerintahkan kaum Muslim untuk membunuhnya karena dianggap menghina Islam dalam bukunya yang berjudul The Satanic Verses

[22] Arnoud van Doorn adalah seorang mantan politikus sayap kanan Belanda terkemuka yang berasal dari Partai Kebebasan (PVV) milik Geert Wilders.(  “Arnoud van Doorn: from anti-Islamic film-maker to hajj pilgrim”The Guardian UK. 23 Oktober 2013. )

Van Doorn dikenal dunia ketika menjadi produser dan pembuat film anti-Islam berjudul Fitna yang kontroversial bersama sahabat dekatnya Geert Wilders, sebelum akhirnya memutuskan menjadi seorang muslim beberapa tahun kemudian setelah lebih mendalami ajaran Islam.( “Geert Wilders Confidante and Former Far-Right Politician Arnoud Van Doorn Converts to Islam”. Loonwatch.com. 5 Maret 2013.)

Kini ia menjabat sebagai anggota Dewan Kota Den Haag dari partai PvdE, Presiden Yayasan Dakwah Eropa, Duta Besar dari Hubungan Pesohor untuk Asosiasi Dawah Kanada di Eropa.

Arnoud membuat kejutan bagi masyarakat dan Geert Wilders secara khusus ketika mengumumkan keislamannya pada tahun 2013. Hal ini dikarenakan ia adalah wakil ketua dalam partai anti-Islam Belanda, juga andilnya dalam produksi film Fitna yang memicu kontroversi di berbagai belahan dunia. Dalam laman twitternya ia menyatakannya sebagai memulai langkah baru.(  “Nieuwe start”Twitter.com. 27 Februari 2013)

Segera ia melakukan ibadah Haji ke Arab Saudi dan mengunjungi Masjid Nabi untuk menyampaikan permohonan maaf dan penyesalannya dihadapan para ulama disana atas keterlibatannya dalam usaha menyebarkan kebencian atas Islam.( “Former Anti-Islam Film-Maker, Arnoud Van Doorn, Peforms Hajj After Becoming Muslim”Huffington Post UK. 22 Oktober 2013)

Dia mengatakan bahwa reaksi umat muslim di seluruh dunia terhadap filmnya, membuatnya tertarik belajar lebih dalam yang berujung dengan keputusannya memeluk agama Islam.( “‘I am sorry, O Prophet…’”. Saudi Gazette. 23 April 2013.)

Ia menyatakan, “Sampai sekarang saya masih sangat menyesal karena telah mendistribusikan film (Fitna) itu. Saya merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan yang telah saya lakukan di masa lalu.” Langkahnya ini diikuti putra tertuanya yang memeluk Islam pada 2014 setelah melihat perubahan ayahnya semenjak memeluk Islam. ( “Putra pembuat film Fitna masuk islam”Republika.co.id. 22 April 2014)

[23] Dr (HC) Jakob Oetama (lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931; umur 83 tahun), adalah wartawan dan salah satu pendiri Surat Kabar Kompas. Saat ini ia merupakan Presiden Direktur Kelompok KompasGramedia, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN. Dia adalah penerima Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi dari Universitas Gajah Mada dan penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah Indonesia pada tahun 1973

[24] Mayjen TNI (Purn) Theo Syafei (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 30 Juni 1941 – meninggal di Jakarta, 29 April 2011 pada umur 69 tahun), ia adalah seorang politikus Indonesia dan juga purnawirawan perwira tinggi TNI-AD. Suatu saat ia pernah mengatakan :

“Al-Qur’an itu adalah buku yang begitu tipis, hanya 30 juz isinya. Hadits itu adalah perbuatan-perbuatan Nabi dan sahabat-sahabat Nabi ketika mereka masih hidup, yang kemudian diingat-ingat, bahwa perbuatan itulah yang harus dicontoh apabila kita tidak menemukan jawabannya di Qur’an. Tidak seperti Alkitab kita, semua kita bisa cari jawabannya di Alkitab, di Qur’an tidak,”

[25]

[26] Ialah suatu faham yang mengagungkan kaidah Keinginan untuk kemurnian ekstrim dan penolakan untuk mengakui realitas duniawi tertentu, sosial, material.

[27]Katolikisme berasal dari kata “katolik” dan “isme”. Istilah “Katolik” bukan monopoli golongan Roma Katolik. Katolik artinya Universal atau Umum/Am. Bandingkan dengan pengakuan iman rasuli, dalam bahasa inggris menggunakan istilah ‘The Holy Catholic Church’ (Gereja Katolik yang kudus) . Istilah katolik telah digunakan sejak abad ke -2 (Surat Ignatius dari Antiokia). Hal ini dilakukan untuk membedakan gereja resmi dari golongan bidat. Isme adalah aliran, paham atau pandangan. Istilah “Katolik Roma” muncul karena dipengaruhi oleh pengesahan oleh kaisar Constantine (awal abad ke 4) kekristenan dijadikan agama negara diseluruh wilaya jajahan Romawi. Kaisar dan pemerintahan Romawi memihak kepada Gereja bahkan sebelum meninggal ia dibaptis menjadi kaisar kristen pertama. Gereja mengalami perpecahan menjadi dua bagian. Bagian timur disebut Ortodoksi Timur yang berpusat di Konstantinopel dan bagian barat disebut Roma Katolik yang berpusat di Roma Italia (1054). Katolik membangun teologia untuk mempertahankan gerejannya dari berbagai pengaruh bidat. Teologia yang telah dibangun itu menjadi pegangan gereja katolik sampai hari ini. Maka katolikisme adalah paham atau pandangan yang menganggap bahwa diluar “Katolik Roma” tidak ada keselamatan dan hanya Katoliklah agama yang benar. Istilah “Gereja Katolik Roma” pertama kali digunakan oleh kaum Protestan untuk menyebut seluruh Gereja yang setia kepada Uskup Roma. Namun nama ini juga digunakan oleh umat Katolik sendiri sejak abad ke-17.

[28]Mesudisme adalah golongan Kosnseptor, yaitu salah satu pengikut gerakan perbaikan agama yang dipimpin oleh Charles dan Jonh Wesley di Oxsport (1729). Dimana dengan gerakan tersebut mereka berdua berusaha untuk menghidupkan kembali gereja-gereja di Inggris.

[29]Padahal para umat lain juga mengakui keagungan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam dengan spekulasi mereka. Diantaranya Jules Masserman, seorang psikoanalis Amerika, yang merupakan seorang Yahudi, ia mengatakan :

“Orang-orang seperti Pasteur dan Salk adalah pemimpin pada pengertian pertama. Orang-orang seperti Gandhi dan Confucius pada satu sisi serta Alexander, Caesar dan Hitler pada sisi lain adalah pemimpin pada pengertian yang kedua dan mungkin yang ketiga. Yesus dan Budha hanya masuk pada kategori ketiga saja. Boleh jadi pemimpin terbesar sepanjang masa adalah Muhammad, seorang yang menggabungkan ketiga fungsi tersebut, sedangkan untuk tingkatan yang lebih rendah adalah Musa.”

 

George Bernart Saw, ia mengatakan :

“Jika seorang manusia seperti Muhammad dianggap kediktatoran dunia modern, dia akan berhasil memecahkan masalah-masalah yang akan membawa dunia kepada kedamaian dan kebahagiaan yang dibutubkan.”

Dia juga memberi statemen :

“saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilkinya. Menurut saya inilah satu-satunya agama yang mampu menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari kepribadiannya yang agung dan jauh dari kesan anti-kritus, dia harus disebut ‘Sang Penyelamat Kemanusiaan’.”(The Genuine Islam : 1/8, 1936)

 

Pendeta James L. Dow dalam Collins Dictionary of the Bible menjelaskan akan keutamaan nabi Musa as dan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam :

“Sebagai negarawan dan pemberi hukum, Musa adalah pencipta orang-orang Yahudi. Dia menemukan percampuran yang tidak tepat dari bangsa Semit, tidak ada satu pun dari …

“Satu-satunya orang dalam sejarah yang dapat dibandingkan kepadanya adalah Muhammad.”

 

Michael H. Hart, sang penulis buku 100 Orang Paling Berpengaruh Sepanjang Masa, đialam bukunya (The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. New York: Hart Publishing Company, Inc., 1978, hal. 33.] ia mengatakan :

“My choice of Muhammad to lead the list of the world’s most influential persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular level.”

“Pilihanku kepada Muhammad sebagai pemimpin dunia yang paling berpengaruh. Satu-satunya manusia yang secara menakjubkan sukses dalam kehidupan Religi dan Sekuler”

 

Reverend R. Bosworth-Smith wrote in “Mohammed & Mohammedanism” in 1946:

“Head of the state as well as the Church, he was Caesar and Pope in one; but, he was pope without the pope’s claims, and Caesar without the legions of Caesar, without a standing army, without a bodyguard, without a palace, without a fixed revenue. If ever any man had the right to say that he ruled by a Right Divine, it was Mohammad, for he had all the power without instruments and without its support. He cared not for dressing of power. The simplicity of his private life was in keeping with his public life.”

 

“Memimpin pemerintahan sebaik Gereja, dia merupakan Kaisar dan Paus dalam kesatuan, tetapi dia Paus tanpa pengakuan diri, dan Kaisar tanpa legiun Kaisar. Tanpa tentara yang disediakan. Tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa penghasilan tetap. Jika ada orang yang harus disebutkan bahwa dia memerintah dengan kebenaran Tuhan, dia adalah Muhammad, Untuk segala kekuasaan tanpa instrument dan dukungan. Dia tidak mempedulikan pakaian kebesaran. Secara sederhana kehidupan sederhananya adalah menjaga kehidupan masyarakatnya.”

 

  1. S. Ramakrishna Rao,  Seorang professor of Philosophy, dari India yang beragama Hindhu dalam  booklet “Muhammad the Prophet of Islam” memanggilnya  ”model manusia sempurna”

“The personality of Muhammad, it is most difficult to get into the whole truth of it. Only a glimpse of it I can catch. What a dramatic succession of picturesque scenes. There is Muhammad the Prophet. There is Muhammad the Warrior; Muhammad the Businessman; Muhammad the Statesman; Muhammad the Orator; Muhammad the Reformer; Muhammad the Refuge of Orphans; Muhammad the Protector of Slaves; Muhammad the Emancipator of Women; Muhammad the Judge; Muhammad the Saint. All in all these magnificent roles, in all these departments of human activities, he is alike a hero.”

 

“Kepribadian Muhammad, merupakan yang paling sulit untuk mendapatkan kebenarannya secara menyeluruh. Hanya sekilas yang dapat saya tangkap.  Rangkaian dramatis dari adegan yang indah. Itulah nabi Muhammad. Disanalah Muhammad sebagai Ksatria, Pengusaha, Orator, Pemerintah, Pereformasi, pelindung anak yatim, pelindung budak, pengemansipasi wanita, seorang hakim, dan orang suci. Semuanya dalam seluruh peran yang bagus, dalam seluruh bagian aktifitas manusia ini, dia seperti seorang pahlawan”.

Mahatma Gandhi, berbicara tentang sifat nabi Muhammad, dalam ‘Young India’:
“I wanted to know the best of one who holds today undisputed sway over the hearts of millions of mankind… I became more than convinced that it was not the sword that won a place for Islam in those days in the scheme of life. It was the rigid simplicity, the utter self-effacement of the Prophet, the scrupulous regard for his pledges, his intense devotion to his friends and followers, his intrepidity, his fearlessness, his absolute trust in God and in his own mission. These and not the sword carried everything before them and surmounted every obstacle. When I closed the 2nd volume (of the Prophet’s biography), I was sorry there was not more for me to read of the great life.”

“Aku ingin tahu manusia terbaik yang memegang kekuasaan tak terbantahkan sampai  hari ini atas jutaan umat manusia… Aku menjadi lebih yakin bahwa bukanlah pedang yang memenangkan tempat untuk Islam hari itu dalam skema hidup. Merupakan kesederhanaan yang kaku, penghapusan pengucapan nabi sendiri, Janjinya yang cermat dan  ter hormat, pengabdian yang intensif kepada teman-teman dan para pengikutnya, keberaniannya, tanpa  rasa takut, kepercayaan penuhnya pada Tuhan dan misinya sendiri. Inilah dan bukannya pedang membawa semuanya didepan mereka dan mengatasi setiap rintangan.  Ketika aku menutup volume kedua (atas biografi nabi), aku minta maaf belum semua tentang kehidupan besarnya aku baca”

Diwan Chand Sharma menulis dalam buku “The Prophets of the East”: [D.C. Sharma, The Prophets of the East, Calcutta, 1935, pp. 12]

“Muhammad was the soul of kindness, and his influence was felt and never forgotten by those around him”

“Muhamamd merupakan jiwa dari kebaikan, pengaruhnya tak pernah terlupakan dari mereka di sekitarnya”

Muhammad, peace and blessings be upon him, was nothing more or less than a human being, but he was a man with a noble mission, which was to unite humanity on the worship of ONE and ONLY ONE GOD and to teach them the way to honest and upright living based on the commands of God. He always described himself as, ‘A Servant and Messenger of God’ and so indeed every action of his proclaimed to be.

“Muhammad, damai dan berkat atasnya, tidak kurang dan tidak lebih daripada seorang manusia, tetapi dia adalah manusia dengan misi agung, untuk menyatukan manusia dalam menyembah pada yang SATU dan SATU SATUNYA TUHAN dan mengajar mereka jalan menuju kejujuran dan kehidupan yang baik berdasarkan perintah Tuhan. Dia selalu mendiskripsikan dirinya sebagai “Pelayan dan Utusan Tuhan”  dan bahkan setiap ucapannya dijalankan”.

  1. Sarojini Naidu , seorang penyair puitis dari India. [S. Naidu, Ideals of Islam, vide Speeches & Writings, Madras, 1918, p. 169]

“It was the first religion that preached and practiced democracy; for, in the mosque, when the call for prayer is sounded and worshippers are gathered together, the democracy of Islam is embodied five times a day when the peasant and king kneel side by side and proclaim: ‘God Alone is Great’… I have been struck over and over again by this indivisible unity of Islam that makes man instinctively a brother.”

“merupakan agama pertama yang melakukan dan mempraktekkan demokrasi, Dalam Masjid, ketika panggilan shalat didengungkan orang yang beribadah berkumpul bersama, demokrasi dalam Islam dibentuk dalam 5 kali sehari ketika Petani dan Raja berlutut dan mengatakan “Tuhan satu yang Agung”…Aku tergetar berulang kali dengan kesatuan tak terpisahkan dalam Islam yang membuat manusia  secara insting merasa bersaudara”.

11.Edward Gibbon dan Simon Ockley, “History of the Saracen Empires”[History of the Saracen Empires, London, 1870, p. 54]

“I BELIEVE IN ONE GOD, AND MAHOMET, AN APOSTLE OF GOD’ is the simple and invariable profession of Islam. The intellectual image of the Deity has never been degraded by any visible idol; the honor of the Prophet have never transgressed the measure of human virtues; and his living precepts have restrained the gratitude of his disciples within the bounds of reason and religion.”

“ Aku percaya dalam 1 Tuhan, dan Muhammad, nabi dari Tuhan”, merupakan pernyataan yang sederhana dan sama dalam Islam. Gambaran intelektual atas Tuhan tak pernah dikurangi dengan berhala yang terlihat; Kehormatan dari sang nabi tak pernah melanggar ukuran kebajikan manusia”.

  1. E Wolfgang Goethe, seorang penyair besar Eropa [Noten und Abhandlungen zum Weststlichen Dvan, WA I, 7, 32]

“He is a prophet and not a poet and therefore his Koran is to be seen as Divine Law and not as a book of a human being, made for education or entertainment.”

“Dia seorang nabi, dan bukan seorang penyair, maka dari itu Al-Quran nya dilihat sebagai hukum suci dan bukan buku dari manusia, dibuat untuk pendidikan dan penghiburan”.

“Nabi Muhammad SAW sebagai buku ilmu pengetahuan dari Allah. “

 

Prof. Marshall Johnson

Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi, Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat.

[30] Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an-Naisaburi.Ia juga mengarang kitab As-Sahih (terkenal dengan Sahih Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini.Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang sahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya ‘Ulama’ul Amsar Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, yaitu mulaii tahun 218 H.

 

Ia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara negara lainnya. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar; di Mesir berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadits yang lain. Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Sahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Sahihnya, yang diterimanya dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalam Sahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru

Selain yang telah disebutkan di atas, Muslim masih mempunyai banyak ulama yang menjadi gurunya. Di antaranya :Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an-Naqid, Muhammad bin al-Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa’id al-Ayli, Qutaibah bin Sa’id dan lain sebagainya. Apabila Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadits sahih, berpengetahuan luas mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadits, serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari, baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya. Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama ahli hadits maupun ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi berketa, “Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya.” Pernyataan ini tidak berarti bahwa Muslim hanyalah seorang pengekor. Sebab, ia mempunyai cirri khas dan karakteristik tersendiri dalam menyusun kitab, serta metode baru yang belum pernah diperkenalkan orang sebelumnya. Abu Quraisy al-Hafiz menyatakan bahwa di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Muslim (Tazkiratul Huffaz, jilid 2, hal. 150). Maksud perkataan tersebut adalah ahli ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy, sebab ahli hadits itu cukup banyak jumlahnyaImam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya :

  1. Al-Jami’ as-Sahih (Sahih Muslim).
  2. Al-Musnadul Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadits).

 

  1. Kitabul-Asma’ wal-Kuna.
  2. Kitab al-’Ilal.
  3. Kitabul-Aqran.
  4. Kitabu Su’alatihi Ahmad bin Hambal.
  5. Kitabul-Intifa’ bi Uhubis-Siba’.
  6. Kitabul-Muhadramin.
  7. Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid.
  8. Kitab Auladis-Sahabah.
  9. Kitab Awhamil-Muhadditsin

 

 

Di antara kitab-kitab di atas yang paling agung dan sangat bermanfat luas, serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al Jami’ as-Sahih, terkenal dengan Sahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling sahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Sahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam. Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan, membandingkan riwayat riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa, maka lahirlah kitab Sahihnya.

Bukti kongkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan, bahwa ia pernah berkata: “Aku susun kitab Sahih ini yang disaring dari 300.000 hadits.” Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : “Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.”

Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahwa jumlah hadits Sahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yang tidak disebutkan berulang.

Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya: “Tidak setiap hadits yang sahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para ulama hadits.” .
Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: “Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini.”

Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam Sahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : “Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadits daripadanya melainkan dengan alasan pula.”

Imam Muslim wafat pada ahad sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun.

[31] A l Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari, Kitabul Iman bab   مِنَ الإِيمَانِ أَنْ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ no 13, Imam Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim An Naisaburiy, kitabul Iman الدليل على أن من خصال الإيمان أن يحب لإخيه no 45

[32] A l Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari, Kitabul Iman bab   مِنَ الإِيمَانِ أَنْ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ no 14 Dengan lafadz

حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ»

[33]Tafsirul Quranul ‘Adziim, Al Alamah Al Imam Al Hafizh Abul Fida’ bin Katsir Asy Syafi’I 30/497,

[34] Nama lengkapnya adalah Abul Fida’, Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa yang menjadi bagian dari kota Bashra di negeri Syam.

Pada usia 4 tahun, ayah beliau meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, beliau pindah dan menetap di kota Damaskus.Ibn Katsir tumbuh besar di kota Damaskus. Di sana, beliau banyak menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari. Beliau juga menimba ilmu dari Isa bin Muth’im, Ibn Asyakir, Ibn Syairazi, Ishaq bin Yahya bin al-Amidi, Ibn Zarrad, al-Hafizh adz-Dzahabi serta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Selain itu, beliau juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, salah seorang ahli hadits di Syam. Syaikh al-Mizzi ini kemudian menikahkan Ibn Katsir dengan putrinya.

Selain Damaskus, beliau juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.

Berkat kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi ahli tafsir ternama, ahli hadits, sejarawan serta ahli fiqih besar abad ke-8 H. Kitab beliau dalam bidang tafsir yaitu Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjadi kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini, di samping kitab tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thabari. Para ulama mengatakan bahwa tafsir Ibnu Katsir adalah sebaik-baik tafsir yang ada di zaman ini, karena ia memiliki berbagai keistimewaan.Keistimewaan yang terpenting adalah menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an (ayat dengan ayat yang lain), menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah (Hadits), kemudian dengan perkataan para salafush shalih (pendahulu kita yang sholih, yakni para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), kemudian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Selain Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, beliau juga menulis kitab-kitab lain yang sangat berkualitas dan menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya, di antaranya adalah al-Bidayah Wa an-Nihayah yang berisi kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, Jami’ Al Masanid yang berisi kumpulan hadits, Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits tentang ilmu hadits, Risalah Fi al-Jihad tentang jihad dan masih banyak lagi Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang yang disibukkan dengan hadits, menelaah matan-matan dan rijal-rijal (perawinya), ingatannya sangat kuat, pandai membahas, kehidupannya dipenuhi dengan menulis kitab, dan setelah wafatnya manusia masih dapat mengambil manfa’at yang sangat banyak dari karya-karyanya.

Salah seorang muridnya, Syihabuddin bin Hajji berkata, “Beliau adalah seorang yang plaing kuat hafalannya yang pernah aku temui tentang matan (isi) hadits, dan paling mengetahui cacat hadits serta keadaan para perawinya. Para sahahabat dan gurunya pun mengakui hal itu. Ketika bergaul dengannya, aku selalu mendapat manfaat (kebaikan) darinya.

Ibnu Katsir meninggal dunia pada tahun 774 H di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan makam gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

[35]Dia adalah Al Imam Qatadah bin Di’amah

[36]

[37] Secara bahasa, syafa’at berasal dari akar kata syafa’a yang artinya menggenapkan sesuatu yang ganjil. (Lisanul ‘Arab, Ibnu Manzhur, 8/183. )

. Adapun yang dimaksud dengan syafa’at secara istilah syari’at adalah menjadikan seseorang sebagai perantara untuk menggapai kemanfaatan atau menolak marabahaya. Contoh perantaraan untuk menggapai manfaat adalah syafa’at Nabi صلى الله عليو وسلم kepada orang yang berhak masuk surga untuk memasukinya dan contoh perantaraan untuk menolak marabahaya adalah syafa’at Rasul صلى الله عليو وسلم kepada orang yang berhak masuk neraka untuk tidak memasukinya.( Al-Qaulul Mufid, Ibnul Utsalmin, 1/213)

[38] Merekalah para Nabi Allah yang paling populer dan memiliki keutamaan yang lebih dibanding dengan para nabi yang lain, dengan mendapat gelar ulul azmi. Walaupun tidak menafikkan tentang keutamaan para nabi lain yang telah diutus Allah Azza Wa Jalla untuk menyampaikan ajaran tauhid lillahi ta’alaa.

 

Tentang keutamaan nabi Ibrahim, disebut dalam hadits :

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا خَيْرَ الْبَرِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاكَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام

 

Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, “Pada suatu hari, ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah SAW. Kemudian orang laki-laki tersebut berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai sebaik-baik makhluk!’ Rasulullah lalu berkata kepadanya, “Itu adalah Ibrahim AS.” {Muslim 7/97}

Adapun tentang keutamaan Nabi Isa as, disebut dalam hadits :

 

عن أَبي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام رَجُلًا حَيِيًّا قَالَ فَكَانَ لَا يُرَى مُتَجَرِّدًا قَالَ فَقَالَ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِنَّهُ آدَرُ قَالَ فَاغْتَسَلَ عِنْدَ مُوَيْهٍ فَوَضَعَ ثَوْبهُ عَلَى حَجَرٍ فَانْطَلَقَ الْحَجَرُ يَسْعَى وَاتَّبَعَهُ بِعَصَاهُ يَضْرِبُهُ ثَوْبِي حَجَرُ ثَوْبِي حَجَرُ حَتَّى وَقَفَ عَلَى مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَنَزَلَتْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا

 

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Nabi Musa adalah orang yang pemalu dan tidak pernah terlihat auratnya. Orang-orang Bani Israil menuduhnya bahwa terdapat cacat pada auratnya. Pada suatu ketika, Nabi Musa Alaihi Salam mandi di sebuah sungai. Ia letakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Tetapi, batu itu hanyut dibawa air. Lalu Musa mengejarnya untuk menggapainya dengan menggunakan tongkat seraya berkata, “Pakaianku hanyut terbawa batu! Pakaianku hanyut terbawa batu!” hingga akhirnya ia berhenti di sekelompok orang-orang Bani Israil.” Lalu turunlah ayat Al Qur’an yang berbunyi, ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Sesungguhnya Musa adalah orang yang mempunyai kedudukan yang terhormat dan mulia di sisi Allah.’ (Qs. Al Ahzaab(33): 69). {Muslim 7/99}

[39] Al Imam Abu Abdillah Al Bukhari, kitabul Haditsul Anbiya’ bab   قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ………( نوح: 1)  no 3340

[40] Al Imam Muslim bin Al Hajjjaj bin Muslim An Naisaburi, Kitabul Iman bab ا أدنى أهل الجنة منزلة فيها   no 194

[41] Khalifah keempat (terakhir) dari al-Khulafa’ ar-Rasyidun (empat khalifah besar); orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak; sepupu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam yang kemudian menjadi menantunya. Ayahnya, Abu Talib bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abd Manaf, adalah kakak kandung ayah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, Abdullah bin Abdul Muttalib. Ibunya bernama Fatimah binti As’ad bin Hasyim bin Abd Manaf. Sewaktu lahir ia diberi nama Haidarah oleh ibunya. Nama itu kemudian diganti ayahnya dengan Ali.

Ketika berusia 6 tahun, ia diambil sebagai anak asuh oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam pernah diasuh oleh yahnya. ada waktu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam diangkat menjadi rasul, Ali baru menginjak usia 8 tahun. Ia adalah orang kedua yang menerima dakwah Islam, setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Sejak itu ia selalu bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, taat kepadanya, dan banyak menyaksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menerima wahyu. Sebagai anak asuh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, ia banyak menimba ilmu mengenai rahasia ketuhanan maupun segala persoalan keagamaan secara teoretis dan praktis. Setelah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar telah sampai ke Madinah, Ali pun menyusul ke sana. Di Madinah, ia dikawinkan dengan Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang ketika itu (2 H) berusia 15 tahun. Ali menikah dengan 9 wanita dan mempunyai 19 orang putra-putri. Fatimah adalah istri pertama. Dari Fatimah, Ali mendapat dua putra dan dua putri, yaitu Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kulsum yang kemudian diperistri oleh Umar bin Khattab.

 

Setelah Fatimah wafat, Ali menikah lagi berturut-turut dengan:

Ummu Bamin binti Huzam dari Bani Amir bin Kilab, yang melahirkan empat putra, yaitu Abbas, Ja’far, Abdullah, dan Usman. Laila binti Mas’ud at-Tamimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Abdullah dan
Abu Bakar. Asma binti Umair al-Kuimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Yahya dan Muhammad. As-Sahba binti Rabi’ah dari Bani Jasym bin Bakar, seorang janda dari Bani Taglab, yang melahirkan dua nak, Umar dan Ruqayyah; Umamah binti Abi Ass bin ar-Rabb, putri Zaenab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang melahirkan satu anak, yaitu Muhammad. Khanlah binti Ja’far al-Hanafiah, yang melahirkan seorang putra, yaitu Muhammad (al-Hanafiah). Ummu Sa’id binti Urwah bin Mas’ud, yang melahirkan dua anak, yaitu Ummu al-Husain dan Ramlah. Mahyah binti Imri’ al-Qais al-Kalbiah, yang melahirkan seorang anak bernama Jariah.

Ali dikenal sangat sederhana dan zahid, panglima perang yang gagah perkasa, cerdas dan menguasai banyak masalah keagamaan secara mendalam juga merupakan anggota majelis asy syuro, suatu forum yang membicarakan soal penggantian khalifah. Forum ini beranggotakan enam orang. Kelima orang lainnya adalah Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Abdur Rahman bin Auf. Hasil musyawarah menentukan Usman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab.

[42] Al Imam Muslim binAl Hajjaj bin Muslim an Naisaburi Kitabul Iman bab باب شفاعة النبي صلى الله عليه وسلم no 209

[43] A l Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari, Kitabul Iman bab قِصَّةِ أَبِي طَالِبٍ no 3883

[44]Dia adalah Abbas bin ‘Abdu Al Mutallib (Shaiba) bin Hashim (‘Amr) atau Banu Hashim bin ‘Abdu Manaf (Al Mughirah) bin Qussayy ( Zayd) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Al Nadr (Al Quraysh) bin Kinana bin Khuzaymah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Mu’ad bin Adnan bin Udad bin bin Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Yashjub bin Nabit bin Isma’eel bin IBRAHIM (lahir 545M), ia adalah paman Rasulullah SAW, saudara ayahanda Nabi SAW, dan pamannya yang lain, Hamzah, Abu Thalib, Abu Lahab, Harits,.

[45] Dia adalah seorang dari Abadilah yang faqih,anggota 4 abdullah, ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Ibnu Zubair. Ia memeluk agama Islam sebelum ayahnya, kemudian hijrah sebelum penaklukan Mekkah. Abdullah seorang ahli ibadah yang zuhud, banyak berpuasa dan shalat, sambil menekuni hadits Rasulullah Shallahllahu ‘alaihi Wassalam.

Jumlah hadits yang ia riwayatkan mencapai 700 hadits, Sesudah minta izin Nabi Shallahu ‘alaihi Wassalam untuk menulis, ia mencatat hadits yang didengarnya dari Nabi. Mengenai hal ini Abu Hurairah berkata “ Tak ada seorangpun yang lebih hapal dariku mengenai hadits Rasulullah, kecuali Abdullah bin Amr bin al-Ash. Karena ia mencatat sedangkan aku tidak”.Abdullah bin Amr meriwayatkan hadits dari Umar, Abu Darda, Muadz bin Jabal, Abdurahman bin Auf, dan beberapa yang lain. Yang meriwayatkan darinya antara lain Abdullah bin Umar bin Al-Khatthab, as-Sa’ib bin Yazid, Sa’ad bin Al-Musayyab, Thawus, dan Ikrimah.Sanad paling shahih yang berpangkal darinya ialah yang diriwayatkan oleh Amr bin Syu’aib dari ayahnya dan kakeknya Abdullah. Abdullah bin Amr wafat pada tahun 63 H pada malam pengepungan Al-Fusthath.

[46]Dia adalah Jabir bin Abdullah yang meriwayatkan 1.540 hadist, Ayahnya bernama Abdullah bin Amr bin Hamran Al-Anshari as-Salami. Ia bersama ayahnya dan seorang pamannya mengikuti Bai’at al-‘Aqabah kedua di antara 70 sahabat anshar yang berikrar akan membantu menguatkan dan menyiarkan agama Islam, Jabir juga mendapat kesempatan ikut dalam peperangan yang dilakukan oleh Nabi, kecuali perang Badar dan Perang Uhud, karena dilarang oleh ayahku. Setelah Ayahku terbunuh, aku selalu ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Jabir bin Abdullah pernah melawat ke Mesir dan Syam dan banyak orang menimba ilmu darinya dimanapun mereka bertemu dengannya. Di Masjid Nabi Madinah ia mempunyai kelompok belajar , disini orang orang berkumpul untuk mengambil manfaat dari ilmu dan ketakwaan. Sanad terkenal dan paling Shahih darinya adalah yang diriwayatkan oleh penduduk Makkah melalui jalur Sufyan bin Uyainah, dari Amr bin Dinar, dari Jabir bin Abdullah.

Ia wafat di Madinah pada tahun 74 H. Abbas bin Utsman penguasa madinah pada waktu itu ikut mensholatkannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s