Ada Yang Aneh Dalam Lagu “BALONKU ADA 5”

Banyak orang beranggapan bahwa dunia sastra hanya muter-muter seputar kegiatan membaca. Entah itu novel, puisi, cerita pendek, maupun roman, atau apa saja lah. Yang penting membaca. Padahal, jika mau menilik lebih dalam lagi, sastra tidak sekadar itu. Berbagai media seperti film, lagu, bahkan poster iklan pun sebetulnya masuk dalam bahan kajian sastra, mengingat semuanya merupakan teks. See? Menikmati dunia sastra tidak hanya dengan membaca, bukan? Tetapi juga bisa dengan menonton, mendengarkan, atau bahkan dengan mengamati. Semuanya menjadi kegiatan yang asyik dan begitu universal.

Di kelas Poetic Devices pagi ini, saya menemukan sebuah rahasia baru yang banyak orang luput. Tidak hanya orang-orang secara umum, tetapi bahkan mahasiswa sastra yang lain. Kami membahas sebuah lagu anak-anak yang sudah dikenal secara luas di Indonesia, yaitu “Balonku” ciptaan AT Mahmud. Lho kok belajar beginian sih? Ya namanya juga sastra, ilmu liberal, apa saja bisa dijadikan objek pembicaraan yang asyik. Hehe. Kembali ke dua lagu itu, sang dosen memulai kelas dengan melemparkan sebuah pertanyaan, “menurut kalian, makna apa yang terkandung dalam lagu Balonku?” Seorang mahasiswa mengacungkan tangan dan dengan entengnya mengatakan, “Ya lagunya tentang anak kecil yang punya balon terus meletus, Pak.” Dosen saya pun terkikik diam-diam, kemudian merespons, “Wah berarti sensitivitas kalian tentang bahasa yang kalian gunakan selama ini belum terbentuk, tauk! Gak percaya?” Seketika, saya tergugah. Penjelasannya yang panjang tapi sangat menarik  mengenai hubungan lagu itu dengan aspek-aspek sastrawi di dalamnya, membuat saya merasakan sensasi tertentu saat mengatakan “oooooh”. Oke, sebelumnya, biar gak lieur, ini lirik lagu Balonku:

Balonku ada lima Rupa-rupa warnanya Hijau kuning kelabu Merah muda dan biru Meletus balon hijau Doooor! Hatiku sangat kacau Balonku tinggal empat Kupegang erat-erat Bayangkanlah, saat seorang anak kecil diberikan lima buah balon yang warnanya berbeda-beda, apa yang dia  rasakan? Kalau gak senang, pasti senang banget. Sensasi “rasa senang” itu tergambar di dua baris pertama lagu ini, yang dua-duanya berakhir dengan bunyi vokal a. Seperti yang kita tahu, saat mengucapkan huruf vokal tersebut, mulut kita terbuka, dan ekspresi gembira dalam bentuk mulut yang terbuka itu tentu tergambar jelas. AT Mahmud melanjutkan lagunya. Namun, yang membingungkannya, kok huruf vokal terakhir di kata selanjutnya, yaitu “kelabu” dan “biru”, berubah menjadi u? Sementara sebelumnya ekspresi yang ter”baca” adalah kegembiraan. Ketika mengucapkan huruf u, seperti yang biasa kita lakukan, bibir kita mengerucut, atau, kalo kata orang Betawi, manyun. Hehehe. Asumsinya adalah bahwa ni menggambarkan ekspresi sedih atau kesal, dan itu tertuang dalam dua baris sebelum kata “hijau” muncul. Kemudian, lirik dilanjutkan dengan munculnya kata “hijau” (lalu door!). Dari ekspresi gembira (huruf a), lalu sedih (huruf u), kemudian dirubah menjadi diftong, yaitu au. Tentulah, ekspresi yang timbul adalah ekspresi sakit. Itulah mengapa hati si anak kecil digambarkan “sangat kacau,” yang juga berakhir dengan diftong au. Menarik, ya? Belum selesai sampai di situ, masih ada dua baris terakhir, yang rima akhirnya berbunyi “at”. Ketika mengucapkan kata “empat” dan “erat”, secara fonologis, udara yang kita hembuskan sebelum mengujarkan huruf “t” mengalir dengan baik. Tapi ketika masuk ke huruf “t”, udara yang mengalir tadi tercekat. Nah, sekarang apa ekspresi yang ditimbulkan dari terhambatnya udara ini? Tentulah ekspresi yang muncul adalah bahwa si anak kecil harus berhati-hati dan “menahan” sekuat tenaga, “seerat” mungkin, agar empat balon sisanya tidak “meletus lagi.” Kira-kira begitulah penjelasan sang dosen tadi. Lalu seketika semua mahasiswa di ruangan itu langsung menghembuskan nafas lega sambil ber-oh panjang. Hihihi. Sewaktu kecil, memang saya, dan mungkin orang banyak, hanya sekadar tau lirik dan melodi lagu Balonku ini. Tidak pernah lebih dari itu. Ya, siapa juga yang peduli, pikir saya. Yang saya tau adalah bahwa lagu itu merupakan lagu populer anak-anak yang dikarang AT Mahmud. Tetapi, ketika sekarang saya mengetahui piranti-piranti apa saja yang digunakan dalam lagu itu, dan kemudian dihubungkan dengan “makna implisit” yang terkandung di dalamnya, saya jadi makin mencintai dunia sastra. Dosen saya pun berkelakar, “Kalo lagi denger lagu ini [Balonku], saya suka nanya sendiri, ‘ini dulu AT Mahmud mikir gak ya lagunya ini mengandung poetic devices yang sedemikian rupa?'” Kami semua sekelas tertawa lega, bertanya hal yang sama dalam hati. Mempelajari “dunia” lewat kesusastraan tidak dipungkiri lagi adalah hal yang mengasyikkan, sekaligus…menenangkan hati, kalau boleh dibilang begitu. Hehehe. Masih banyak hal di sekeliling saya yang belum saya ulik, yang siapa tau bisa membuat saya ber-oh dengan sensasi kepuasan tersendiri. Dan dengan sastralah, saya mencoba melakukan hal itu. Selamat nyastra! Eh, selamat siang……. 🙂 Himawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s