Kiat Pertama Mantapnya Aqidah

Berpegang-teguhnya ahlus sunnah kepada Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya Shallâllâhu ’alaihi wa Sallam, keimanan mereka terhadap semua yang ada di dalam Kitâbullah dan Sunnah Nabi-Nya ’alaihi ash-Sholâtu was Salâm dan keyakinan mereka secara totalitas bahwa tidak boleh meninggalkan sedikitpun sesuatu yang ada di dalam al-Kitâb dan as-Sunnah.

Namun wajib bagi setiap muslim untuk mengimani dan membenarkan segala hal yang ada di dalam Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya ’alaihi ash-Sholâtu was Salâm, sehingga mereka mengimani seluruh nash (teks) yang terdiri atas informasi-informasi tentang Allôh, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, nabi-nabi-Nya, hari akhir, al-Qodar dan yang semisal dengannya. Mereka wajib mengimaninya secara ijmâl (global) dan tafshîl (terperinci), yaitu mengimani secara global tentang segala hal yang diberitakan oleh Allôh Tabâroka wa Taâlâ dari perkara-perkara keimanan, dan mengimani secara terperinci setiap apa yang Ia sampaikan kepada mereka berupa ilmu-Nya di dalam Kitabullâh dan Sunnah Nabi-Nya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS al-Hujurât [49]: 15)

Beginilah keadaan mereka terhadap semua nash-nash (teks) al-Kitâb da as-Sunnah, yaitu menerima dan mengimani keseluruhannya. Keadaan mereka ini sebagaimana yang diucapkan oleh sebagian ulama salaf:

من الله الرسالة، وعلى الرسول البلاغ، وعلينا التسليم

“Dari Allôh-lah Risalah berasal, kewajiban Rasul menyampaikannya dan kewajiban kita adalah menerimanya.”

Siapa saja yang berpegang teguh dengan Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam, menaruh kepercayaan dan bersandar pada keduanya, niscaya dia akan senantiasa mantap, selamat dan istiqomah serta jauh dari penyelewengan dengan izin Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ.

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata:

جماع الفرقان بين الحق والباطل، والهدى والضلال، والرشاد والغي، وطريق السعادة والنجاة وطريق الشقاوة والهلاك؛ أن يجعل ما بعث الله به رسله وأنزل به كتبه هو الحق الذي يجب إتباعه، وبه يحصل الفرقان والهدى والعلم والإيمان، فيصدق بأنه حق وصد ق، وما سواه من كلام سائر الناس يعرض عليه، فإن وافقه فهو حق، وإن خالفه فهو باطل، وإن لم يعلم هل هو وافقه أو خالفه؛ لكون ذلك الكلام مجملاً لا يعرف مراد صاحبه، أو قد عرف مراده، ولكن لم يعرف هل جاء الرسول بتصديقه أو تكذيبه، فإنه يمسك فلا يتكلم إلا بعلم، والعلم ما قام عليه دليل، والنافع منه ما جاء به الرسول (مجموع الفتاوى لابن تيميه 13/135-136)

“Al-Furqôn (pembeda) yang terhimpun (untuk membedakan) antara kebenaran dengan kebatilan, petunjuk dengan kesesatan, bimbingan lurus dengan penyelewengan, jalan kebahagiaan dan kesuksesan dengan jalan kesengsaraan dan kebinasaan, adalah untuk menjadikan risalah yang Allôh mengutus Nabi-Nya dengannya dan kitab-kitab yang Ia turunkan adalah sebagai kebenaran yang wajib diikuti. Dengannya akan diperoleh al-Furqôn, petunjuk, ilmu dan keimanan, sehingga dapat dibenarkan bahwa wahyu-Nya adalah haq dan benar (lurus) sedangkan selainnya baik itu perkataan semua manusia perlu ditimbang. Apabila selaras dengan wahyu Allôh maka ia adalah kebenaran dan apabila menyelisihi maka ia adalah kebatilan.

Apabila tidak diketahui apakah ucapan tersebut sesuai atau menyelisihi wahyu, bisa jadi karena ucapan tersebut adalah ucapan yang global sehingga tidak diketahui maksud orang yang mengucapkannya, atau diketahui maksud ucapannya namun tidak diketahui apakah Rasulullâh membenarkan atau mendustakannya, maka ucapan tersebut ditahan (didiamkan) dan tidaklah dikomentari melainkan dengan ilmu. Ilmu adalah yang ditegakkan di atasnya dalil dan ilmu yang bermanfaat adalah yang datang dari Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.” (Majmu’ Fatâwâ karya Ibnu Taimiyah XIII:135-136).

هذه خلاصة طريقة أهل السنة والجماعة – رحمهم الله – في هذا الباب العظيم، يعولون على الكتاب والسنة، وذا التعويل نالوا السلامة والثبات، وكما قال شيخ الإسلام – رحمه الله – في مقام آخر؛ بل كان كثيراً ما يقول: ” من فارق الدليل ضل السبيل، ولا دليل إلا ما جاء به الرسول (مفتاح دار السعادة لابن القيم – ص: 90)

Inilah ringkasan manhajnya Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah rahimahumullâhu di dalam bab yang agung ini. Mereka meletakkan kepercayaan terhadap al-Kitâb dan as-Sunnah, yang dengan kepercayaan inilah mereka memperoleh keselamatan dan kemantapan, sebagaimana ucapan Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah pada tempat yang lain, bahkan cukup sering beliau mengatakan: “Barangsiapa menyelisihi dalil maka jalannya akan sesat, dan tidak ada dalil melainkan apa yang didatangkan oleh Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.” (Lihat: Miftâh Dâris Sa’âdah karya Ibnul Qoyyim hal. 90).

Ibnu Abîl Izz berkata di dalam Syarh (penjelasan) beliau terhadap al-Aqîdah ath-Thohâwîyah: “Bagaimana mungkin menghendaki untuk memperoleh ilmu ushul (ilmu dasar ~ aqidah) selain dengan apa yang didatangkan oleh Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.” (Syarh al-‘Aqîdah ath-Thohâwîyah hal. 18)

Artinya, hal ini tidak mungkin dan mustahil. Jadi, kepercayaan mereka rahimahumullâhu tehadap segala apa yang ada di dalam Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm dan bersandarnya mereka kepada apa yang datang dari keduanya, merupakan penyebab utama mantapnya aqidah mereka. Tidaklah mungkin seorang dari ahlus sunnah wal jamâ’ah rahimahumullâhu mengada-adakan suatu aqidah dari dirinya sendiri, atau mendatangkan suatu keyakinan atau agama yang berasal dari akal, perasaan atau pemikirannya sendiri. Siapa saja yang melakukan hal seperti ini maka mereka adalah ahlul ahwâ` (pengikut hawa nafsu), yang dengannya mereka tidak memperoleh kemantapan (dalam aqidah) dan mayoritas keadaan mereka dalam keadaan berubah-ubah dan labil, sebagaimana akan datang penjelasan hal ini.

Adapun Ahlus Sunnah, tidak ada seorangpun dari mereka yang membuat-buat suatu aqidah dari diri mereka sendiri, namun mereka semua menaruh kepercayaan dan bersandar kepada Kitâbullâh dan Sunnah Nabi-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam.

Di sini saya akan menukilkan perkataan Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu yang anggun, beliau berkata: “Tidaklah aqidah itu berasal dari diriku dan tidak pula dari mereka yang lebih senior daripadaku (Yaitu: Bukanlah wewenangku untuk mendatangkan suatu aqidah yang berasal dari diriku sendiri yang aku buat-buat dan ada-adakan, bukan pula wewenang orang yang lebih senior dariku seperti Imam Ahmad, asy-Syâfi’î, Mâlik dan selainnya dari para Imâm Islâm. Tidak ada seorangpun dari mereka yang membuat-buat aqidah yang berasal dari diri mereka sendiri), namun aqidah itu diambil dari Allôh Subhânahu wa Ta’âlâ, Rasul-Nya Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dan Ijma’ (konsensus) salaf, diambil dari Kitâbullâh, dari hadits-hadits Bukhârî, Muslim dan selainnya dari hadits-hadits yang diketahui, juga dari yang telah tetap dari Salaful Ummah.” (Majmu` Fatâwâ III:203).

Beliau rahimahullâhu juga berkata :

“Aqidahnya asy-Syâfi’î radhiyallâhu ‘anhu dan aqidah para ulama salaf semisal Mâlik, ats-Tsaurî, al-Auzâ’î, Ibnul Mubârok, Ahmad bin Hanbal dan Ishâq bin Râhawaih, adalah aqidahnya para masyaikh teladan semisal al-Fudhail bin ‘Iyâdh, Abu Sulaimân ad-Dârônî, Sahl bin ‘Abdillâh at-Tusturî dan selain mereka.

Sesungguhnya tidak ada pada para imam dan orang semisal mereka adanya perselisihan di dalam ushuluddîn (pokok agama), demikian pula dengan Abu Hanîfah rahmatullahi ‘alaihi, karena sesungguhnya aqidah yang tsabit (tetap) dari beliau di dalam masalah tauhid, qodar dan semisalnya, adalah selaras dengan aqidah para imam, dan aqidah para imam tersebut adalah sebagaimana aqidahnya para sahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan cara lebih baik, yaitu aqidah yang diucapkan oleh al-Kitâb dan as-Sunnah.” (Majmu Fatâwâ V:25)

Jadi, inilah pokok dan poin pertama diantara faktor-faktor penyebab mantapnya aqidah di dalam jiwa pemiliknya, yaitu bersandar kepada al-Kitâb dan as-Sunnah. Tanpa bersandar kepada kedua ini tidak akan memperoleh kemantapan, keselamatan dan keistiqomahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s