Nonton Film, Memang Seru

Mengapa manusia lebih suka menikmati informasi dan hiburan yang bersifat audio visual seperti film daripada teks? Bukankah teks lebih memberikan detail daripada tayangan audio visual? Kenyataan itu mungkin mengherankan. Namun, bagi pakar seni cadas dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Pindi Setiawan, kenyataan tersebut wajar. Manusia memang berevolusi untuk menonton film. “Manusia belum utuh bila sekadar bernaskah (literate),” katanya.

Petunjuk bahwa manusia berevolusi untuk menonton film atau bentuk hiburan audio visual lain bisa didapatkan pada gambar kuno pada cangkang kerang air tawar dari Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Gambar kuno itu terungkap lewat penelitian Josephine CA Jordens dari Fakultas Arkeologi Universitas Leiden, Belanda. Riset mengungkap gambar itu dibuat bukan oleh manusia modern (Homo sapiens), melainkan Manusia Jawa Kuno (Homo erectus).

Dalam publikasi penelitian di jurnal Nature, Jordens menyatakan bahwa gambar kuno berupa garis zig zag itu berusia 500.000 tahun. Dengan usia itu, gambar kuno tersebut dinyatakan sebagai yang tertua di dunia.

Pindi mengungkapkan, kenyataan bahwa Manusia Jawa Kuno sudah bisa menggambar melemahkan teori ledakan kreativitas. Teori itu menyatakan bahwa kreativitas baru berkembang setelah manusia modern ada. Manusia tiba-tiba meletup kreativitasnya 40.000 tahun terakhir. “Letupan tersebut merujuk pada gambar dan patung prasejarah buatan manusia yang ‘kebetulan’ banyak ditemukan sekitar 40.000 tahun lalu,” kata Pindi, Minggu (7/12/2014).

Fakta yang terungkap dalam hasil riset Jordens mengungkap bahwa kreativitas manusia berkembang secara bertahap, seperti yang dinyatakan ilmuwan pada kubu lain dalam teori kreativitas gradual. “Teori ini merunut evolusi kreatif ‘hominid’ (ancient human) lebih dari 500.000 tahun lalu,” tutur Pindi. Menurut teori itu, kreativitas manusia sudah mengakar jauh sebelum manusia modern itu sendiri ada.

Pindi menjelaskan, teori kreativitas gradual itu pula yang bisa menjawab pertanyaan mengapa manusia lebih gemar menikmati tayangan audio visual daripada membaca sebuah naskah. Teori kreativitas gradual menyatakan, selama ribuan tahun, manusia terus mengembangkan koordinasi mata-tangan. Manusia mencanggihkan kemampuan mewujudkan imajinasi mulai dari wirama (verbal audio) hingga perupaan (wirupa visual).

Manusia belajar kreasi wirupa dari alam. Kreasi dimulai dari memungut bentukan alami, misalnya pada seni batu akik, kemudian meniru yang terlihat, hingga menciptakan perupaan seperti yang dipikirkan, seperti gambar manusia sempurna atau pun makhluk jadi-jadian. “Dan hasil dari tahap gradual itu, manusia masa kini sebenarnya telah berevolusi lebih dengan cara wirupa. Sehingga tidaklah mengherankan bila manusia senang membuat gambar bercerita, bahkan tanpa text, yang diperkaya dengan wirama (audio),” jelas Pindi.

“Evolusi itulah yang menyebabkan manusia sekarang, lebih mudah menerima pesan melalui wirama-wirupa (audio visual). Tingkat daya alih pesan wirupa dapat mencapai 70-80 persen,” imbuhnya. Pemahaman tentang evolusi kreatif manusia bisa digunakan sebagai dasar dalam penentuan metode penyampaian informasi. Transfer pengetahuan sebaiknya tidak hanya dilakukan lewat teks saja. Pindi mengungkapkan, dalam era kreatif masa kini, program kampanye untuk belajar misalnya, jangan hanya berupa ajakan “Ayo membaca/membuat Buku”, tetapi juga “Ayo menonton/membuat Film.”

“Karena menonton film yang bersifat wirama wirupa itu akan membuat manusia menjadi lebih manusiawi,” kata Pindi. Jangan ragu membuat narasi narasi pengetahuan dengan cara wirama-wirupa. Torehan tertua di dunia yang terdapat pada cangkang ternyata berasal dari tanah Jawa, tepatnya dari situs Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Penelitian yang dipublikasikan di Nature pada Senin (1/12/2014) mengungkapnya.

Josephine CA Jordens, peneliti pada Fakultas Arkeologi di Universitas Leiden, Belanda, beserta rekannya adalah pihak yang mengonfirmasi bahwa torehan tersebut merupakan yang tertua, berasal dari masa 500.000 tahun lalu. Jordens sedang mengerjakan proyek penelitian tentang penggunaan sumber daya laut oleh spesies manusia purba Homo erectus di situs Trinil, Jawa Timur. Ia kemudian menganalisis cangkang kerang air tawar spesies Pseudodon vondembuschianus trinilensis.

Saat menganalisis, ia menemukan perforasi atau lubang-lubang kecil selebar beberapa milimeter pada permukaan cangkang kerang. Menurut dia, hal itu merupakan indikasi adanya orang pada masa itu yang berupaya membuka cangkang dengan alat tajam macam gigi hiu. Rekan Jordens kemudian memotret cangkang tersebut dan mengamatinya lebih detail. Lewat pengamatan saksama, diketahui bahwa permukaan cangkang tersebut memiliki torehan-torehan berbentuk zig-zag.

Pengamatan di bawah mikroskop kemudian menguak bahwa pola zig-zag itu dibuat secara sengaja. Garis zig-zag yang masing-masing memiliki panjang 1 cm tersebut kontinu, tidak putus-putus, menunjukkan bahwa pembuatnya menaruh perhatian pada detail. Jordens dan rekannya melakukan penanggalan pada sedimen yang terdapat pada cangkang dengan argon dan luminescence. Hasil penanggalan mengungkap bahwa pola zig-zag itu berasal dari masa 500.000 tahun lalu, bukan dibuat oleh Homo sapiens, melainkan Homo erectus.

“Penemuan ini sangat spektakuler dan berpotensi mengubah cara pandang kita tentang Homoawal (manusia purba),” kata Nick Barton, arkeolog dari Universitas Oxford yang tak terlibat studi. Apakah torehan tersebut merupakan bentuk seni? Jordens mengatakan, “Jika Anda tidak mengetahui tujuan dari seseorang yang membuatnya, maka tidak mungkin untuk menyebutnya sebagai seni.”

“Akan tetapi, di sisi lain, ini adalah gambar purba. Ini adalah cara untuk mengekspresikan diri. Apa tujuan dari orang yang membuatnya, kita tidak tahu,” ungkap Jordens seperti dikutip Nature, Rabu (3/12/2014). Clive Finlayson, pakar hewan dari Museum Gibraltar yang juga terlibat dalam studi, mengatakan, yang terpenting dari temuan ini adalah bahwa manusia purba sudah punya kemampuan berpikir abstrak, sama seperti manusia modern.

Cangkang kerang yang dianalisis ditemukan oleh paleontolog Eugene Dubois di situs Trinil pada tahun 1896. Dubois juga menemukan kerangka Homo erectus. Kerangka dan cangkang itu lalu dikirim ke Museum Leiden pada tahun 1930

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s