PENDAHULUAN BUKU “ADA APA DENGAN SIKAP EKSTREM ?”

 

 

اِنَّ الْحَمْدَاﷲِ نَحْمَدُهُ وًنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ،

وَنَعُوْذُباﷲِ مِنْ سُرُرِ أَنْفُسِنَاوَمِنْ سَيِّءَاتِ أَعْمَلِنَ ،

مَنْ يَهْدِهِ اﷲُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ ،

أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اﷲُ وَحدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً غَبْدُهُ وَرَسُوْلُ

قل ا لله تعل في ا لقرعن ا لكر يم :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ال عمران ; ١۰٢)

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا

وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُواﷲَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ

إِنَّ اﷲَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء : ١)

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُواﷲَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُموَمَنْ يُطِعِ اﷲَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ( الاحزاب : ٧۰ – ٧١)

أَمَّا بَعْدُ

فَاِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اﷲوَخَيْرَهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،وَشَرَّلاْءُمُوْرِ مُحْدلثَاتُهَا وَكُلّ مُحْدلثَاتُ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةً

 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, segala puji hanya pantas kita tujukan kepada Sang Khaliq, sang Maha Pemelihara serta Maha Berkuasa atas segala ‘alam semesta, sang Malikul Mulk. Dengan segenap rahmat dan nikmat Allah swt yang telah berkenan menjaga kita dan memilih kita atas segala makhluk dimuka bumi, serta janji Allah akan memenangkan kita (umat Muslim) atas segala agama. Sebagaimana janji Allah :

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“DIA lah Allah yang telah mengutus RasulNYA dengan hidayah dan agama yang haq, untuk dimenangkan-NYA atas tiap-tiap agama, walau orang-orang musyrik tiada menyukainya.” (QS At Taubah : 33, QS Ash Shaaf : 9)

Sholawatserta salam kami junjungkan kepada sang suri tauladan kita, sang pemimpin dari segala pemimpin, sang pembenah akhlak yang bengis, Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Muthalib ibn Abdu Manaf ibn Hisyam –shalallahu ‘alihi wassalam- yang bahwa dialah umat teragung yang pernah menginjak muka bumi yang fana ini.

Dengan tetap memohon dengan sangat agar Allah swt memberikan naungan yang sangat terhadap apa yang hendak kami lakukan ini. Kami tetap memohon perlindungan dari kesalahan pemikiran yang disinyalir dapat menimbulkan suatu konflik yang tidak diinginkan.

Sewaktu bersekolah di salah satu sekolah Lanjutan Tingkat Atas di pinggiran Kab. Sragen, saya pernah pergi ke perpustakaan sekolah tersebut, saya yang selalu aktif dalam mencari referensi ilmiah demi kelancaran KBM, melihat ada sebuah buku stebal 86 halaman dengan ukuran 25 x 17 cm, yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikkan Dasar dan Menengah, Kementrian Pendidikkan Nasional pada tahun 2010. Buku yang bersampul hitam bergambar belukar yang ditengahnya terdapat sekuntum bunga mekar nan indah itu ditulis oleh Rudi Syahabuddin dan Hika D. Asril Putra. Terdapat 5 Bab buku tersebut yang mencoba memberi wawasan yang sangat dramatik-historis akan penyudutan ISLAM tatkala kobaran JIHAD dikumandangkan, dengan referensi yang cukup bagus bila disimak dari analisis historis umum. Kemudian saya membacanya dengan teliti dan mencoba memahami maksud dan pesan yang tersirat dalam tulisan tersebut. Buku yang berjudul MENJAUHI SIKAP EKSTREM[1] tersebut telah berusaha menemukan jalan yang menurut mereka cukup mumpuni sebagai wacana untuk mengindahkan Pendidikkan Pancasila dan Kewarganegaraan, dengan melihat aspek etnografi di Indonesia yang sebagaimana kita tahu adalah multiculture.

Setelah saya semakin jauh masuk kedalam buku tersebut, saya dapati inti permasalahan yang dikaji oleh penulis ini, adalah untuk memberi bukti historis akan bahayanya tindakan JIHAD (Perjuangan mempertahankan agama ISLAM.) yang dilakukan oleh sekelompok minoritas muslim berdampak pada kericuhan dan konflik yang berkepanjangan. Catatan data yang cukup memadai untuk meyakinkan umat muslim Indonesia benar-benar bersikap elastis dengan menerima akan adanya perbedaan dan jauh dari sikap fundamentalis, fanatis, dan bahkan ekstremis.

Saya rasa penulis ini adalah salah satu dari apa yang pernah disampaikan oleh ustadzuna Abu Bakar Ba’asyir, saat memberikan ceramah seputar Dosa Syirik, beliau –hafidzallahu- mengatakan :

 

“….kita tahu, biasanya syirik itu menyembah berhala, menyembah batu, menganggap suci sesuatu (selain apa yang disucikan oleh Allah dan RasulNYA), bahkan di Solo ada kerbau yang dianggap suci…..kotorannya barokah….akan tetapi syirik tidak hanya itu, ada syirik yang lebih besar dari syirik itu…yaitu menganggap dirinya lebih pandai dari Allah, mengoreksi syariat ISLAM….ada orang mengatakan ‘syariat ISLAM tidak cocok untuk masyarakat Indonesia….itulah syirik yang lebih besar dari syiriknya Abu Jahal….”-na’udzubillah-.

 

Para penulis berusaha meyakinkan masyarakat agar kita selalu bersikap kritis dan waspada akan bahaya sikap keras dan peperangan dengan menganalisis secara historis dan Yuridis dengan berusaha mengaitkan peristiwa yang terjadi seputar peta kekerasan di Indonesia dengan ketentuan hukum perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.[2]

Dengan melihat adanya kegelimpangan pemaknaan, yang kami menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Penulis adalah sikap Hermeunetik yang merusak akidah ISLAM, dengan berusaha mengunggugat akidah MUSLIM agar merubah mindset yang keras terhadap musuh-musuh ISLAM, dengan menitikberatkan “Pembumian Islam dan Al Quran”, bukan pada kerangka berfikir “Meng-Islam-kan dan Meng-Al Quran-kan Bumi.”

Buku tersebut dimaksudkan untuk menjadi maraji’ bagi kaum pelajar yang sedang berada pada masa labil yang ditakutkan untuk menghasilkan sikap ekstremis yang timbul dari diri siswa[3]. Menjadi bahan yang cukup mumpuni sebagai referensi Pendidikkan Pancasila dan Kewarganegaraan, serta Bimbingan Konseling bagi siswa/siswi.

Didalam buku kecil ini, kami berusaha untuk memberikan sedikit wacana yang mudah-mudahan bisa menggugah semangat kaum Muslimin Indonesia dari bahaya sikap Liberal-Plularis yang telah membuat para domba-domba Israel berteriak riang menunggu hari kemenangan.

Dalam wacana mengamalkan apa yang Allah Azza Wa Jalla beritahukan didalam kalamNYA yang Maha Suci :

“maka berilah peringatan (kepada seluruh alam), sesungguhnya memberi peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman…”(QS Adz Dzaariyat : 55)

“..dan berpesan dengan kesabaran dan berpesan dalam kasih sayang. Mereka itu (termasuk) golongan kanan.” (QS Al Balad : 17)

“…dan saling berpesan dengan yang Haq dan saling berpesan dengan kesabaran.” (QS Al ‘Ashr : 3)

“…dan serulah (manusia) kepad jalan Rabb-mu dengan hikmah dan Mau’idlah Hasanah. Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an Nahl : 125)

 

Kami berusaha memberikan suatu pandangan secara analitis terhadap permasalahan ini, dengan besar harapan agar Allah segera menunjukkan janji-NYA, bahwa ISLAM lah yang harus menang[4], agar janji Allah ini segera cepat kita rasakan dan kita bisa semudah membalik telapak tangan dalam melaksanakan syariat ISLAM.

[1]Syahabuddin, Rudi dan Hika DA Putra. Menjauhi Sikap Ekstrem. 2010. Jakarta : Dirjen Pendidikkan Dasar dan Menengah, Kemdiknas.

[2]Sperti pada Bab I, Akar Kekerasan Dan Penyebab Ruang Teror. Pada sub bab Perbandingan Nilai Barat-Islam dalam Penggunaan Kekerasan. Halaman 14, ia mengutip PERPU no. 1 Tahun 2002 yang ditegaskan oleh UU no 2 Tahun 2004, ia mengambil kerangka teori definitif atas Terorisme.

Kemudian juga pada hal. Ke 15, ia mengutip pasal 187 ayat 3, pada BAB VII KUHP, yang memberikan referensi atas hukuman bagi tindakan Terorisme.

Ada pula pada Bab ke 2, pada Subbab Islam dan Plurarisme, hal. 45 ia mengutip Keppres No. 1 Tahun 1965 yang dikukuhkan UU No. 5 Tahun 1969, tentang Panca-Agama di Indonesia.

Kemudian juga pada halaman yang sama dan hal 46, bahwa A-Panca-Agama dilindungi oleh hukum DUHAM pasal 18, Civilitation and Politics Conventions pasal 18 dan 27, EKOSOB pasal 15.

[3]Seperti sebuah kasus di salah satu kota di Jawa Timur, yang ditemukan adanya buku pelajaran yang mengajarkan sikap JIHAD dan KERAS terhadap musuh-musu ISLAM, maka pemerintah segera bertindak agar wacana JIHAD dan MEMBUNUH ORANG,   tidak merebak luas di mindset siswa. Sikap Liberal-plularism ini telah mendarah daging di masyarakat Muslim Indonesia, yang benar-benar telah berhasil dibodohi oleh Bangsa Barat.

[4]Lihat QS Shaff : 9, QS at Taubah : 33.

Iklan

ANDA SUDAH GILA

 

 

Pada sebuah muhadharah yang dibina langsung oleh salah seorang putra Indonesia yang sekarang menjadi staf pengajar tetap di masjid Nabawi, Madinah, yang sekaligus tengah menempuh terjalnya ilmu di program doktoral S3 Universitas Islam Madinah, kami mendapati sebuah ilmu yang sangat luar biasa indah. Beliau adalah Al Ustadz Abu Abdil Muhshin Firanda Andirja, M.A. Ketika itu beliau mengatakan :

“anda sudah gila, kapan ? ketika anda menginginkan agar terlepas dari cercaan, cacian, makian, hinaan manusia, maka anda sudah termasuk orang gila.”

Kami merasa ilmu ini sangat luar biasa karena memang tabiat manusia selalu menginginkan pandangan positif dari orang-orang disekitarnya. Tidak mau menerima hal yang tidak ia suka, dan bahkan tidak mau tahu dengan pandangan orang lain, ia selalu menganggap dirinya itu baik dan benar. Apakah hal ini diamiinkan dalam Islam ?

 

Al Imam Ibnu Hazm berkata :

“barangsiapa yang ingin selamat dari hinaan dan cercaan manusia, maka ia adalah orang gila.”

 

 

 

Kenapa ?

Karena ia berharap sesuatu yang mustahil.

Jika Allah swt saja tidak terlepas dari cercaan orang-orang kafir, seperti yang dilakukan oleh Dr. Robert Morey, Direktur Eksekutif dari yayasan penelitian dan pendidikan yang mengkaji topik tentang pengaruh Budaya dan Nilai Barat didalam bukunya “The Islamic Invasion – Confronting the World’s Fastest Growing Religion”yang diterbitkan oleh Christian Scholars Press, Las Vegas, NV 88119, ia menyatakan bahwa Allah adalah nama dari Dewa Bulan yang disembah di Arab sebelum Islam. Hal ini ia kuatkan dengan pernyataannya bahwa :

  • Nama Allah sudah dikenal masyarakat Arab sebelum kenabian Muhammad.
  • Adanya nama-nama seperti Qomaruddin, Syamsuddin.
  • Kepercayaan Jahiliyah (Pra-Islam), agama Astral.
  • Berhala yang ada di Ka’bah.
  • Simbol bulan sabit.

Allah swt berfirman pada surah At Taubah ayat 31:

 

“Mereka telah menjadikan para pendeta dan pastur-pastur mereka sebagai Tuhan selain Allah dan mereka juga menjadi- kan Al Masih putra Maryam (sebagai tuhan).”

Dan firman-Nya pula pada surah Al Maidah ayat 12:

“Sungguh Allah telah mengambil janji dari Bani Israil, dan kami telah bangkitkan di antara mereka dua belas golongan dan Allah berfirman: ‘Sungguh Aku bersama kamu sekalian. Sungguh jika kamu sekalian mendirikan shalat, menunaikan zakat, beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu sekalian membantu mereka serta kamu sekalian memberikan pinjaman yang baik kepada Allah, niscaya Aku akan hapuskan seluruh dosa kamu dan Aku pasti memasukkan kamu ke dalam surga- surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Maka barang siapa di antara kamu kafir sesudah itu, maka sungguh ia tersesat dari jalan yang lurus. Karena mereka melanggar janji mereka, maka kami kutuk mereka dan kami jadikan hati mereka keras. Mereka selalu merubah firman-firman dari tempat-tempatnya dan melupakan sebagian yang diperingatkan kepada mereka.’

 

Demikianlah cacian dan cercaan mereka yaitu Yahudi maupun Nashrani. Kenapa kita berharap lepas dari cacian itu, Allah saja tidak terlepas dari itu semua.Nabi Muhammad saw, seorang yang telah terpilih menjadi pemimpin seluruh umat di alam semesta ini, sebagaimana Firman Allah :

dan tidaklah kami mengutus kamu kecuali sebagai rahmat atas seluruh alam.” (QS Al Anbiyya’ : 107)

Beliau orang yang memang berakhlak tinggi, mulia dan tiada bandingan, sebagaimana perkataan Aisyah r.ha :

“akhlaknya adalah al Quran.”(HR Muslim)

Dan Allah berfirman :

“sesungguhnya kamu benar-benar ber-akhlak yang sangat agung..” (QS Al Qalam : 4)

 

Beliau juga tidak terlepas dari cercaan manusia, sebagaimana telah jelas.

“Jadi ketika jiwa pembo­hong mengontrol Muhammad, dan setan telah membunuh jiwa jiwa Muhammad dengan Al-Qur’an dan telah menghan­curkan keimanan orang-orang Kristen, setan harus terus me­ngambil pedang dan mulai membunuh badan-badan mereka.”( Martin Luther, “On War Against the Turk,” dalam Luther’s Works, Pen. Charles M. Jacobs, direvisi oleh Robert C. Schultz, editor Helmut T. Lehmann 46 (Philadelphia: Fortress Press, 1967), hal. 179)

 

Anda lihat perkataan itu ?

Itulah ucapan Martin Luther, sang pencetus Agama Kristen Protestan. Maka janganlah kita termasuk kedalam orang-orang gila itu. Kita tahu Muhammad saja mendapat cercaan yang menghinakan tersebut, maka kita jawab kepada mereka dengan jawaban Allah swt.

Allah swt berfirman :

Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul.” Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab.”(QS Ar Ra’d : 43)

Selain dari Luther, masih banyak tokoh yang memberikan cacian kepada Nabi Muhammad saw yang diantaranya Charlie Hebdo dengan Kartun Muhammadnya, Abdul Masih al Kindi, Sam Baccile dengan film “Innocence of Muslim”- nya, Geertz Wildert dengan film “Fitna” yang populer itu, pastur Terry Jones yang dengan lantang menyerukan perang terhadap Muhammad dan membakar Mushaf Al Quran, dan atau Salman Rushdie dengan Novel “Ayat-ayat Setan” yang kian memberikan warna terhadap pencacian Nabi Muhammad saw. Akan tetapi hal yang demikian tidaklah mengurangi keagungan nabi Muhammad saw, namanya akan selalu berada diatas segala nama yang ada di muka bumi, Lihat QS Al Insyirah : 1-8 beserta seluruh tafsirnya, baik dari Tafsir Ibnu Katsir, At Thabari, Al Qurtuby, al Baidhawy, Jallalain, as Syabuni, dll. Sebagaimana disebutkan oleh para ulama, semisal Ibnu Katsir didalam kitab tafsirnya terhadap QS Alam Nashrah :4. menyebutkan keterangan dari 2 ulama’ besar ahli tafsir generasi tabi’in, Imam Qatadah dan Imam Mujahid, yang keduanya mengatakan bahwa peninggian nama nabi adalah sebagaimana tercantum pada kalimat syahadat yang menandai keagungan nama beliau di dunia dan akhirat.

Al Ustadz Abu Abdil Muhsin berkata : “jika nabi saja yang meliki akhlak yang sangat luar biasa mendapat cercaan dari manusia, maka kenapa anda berharap menggapai itu?.”

Para Ulama berkata :

“mencari keridhaan manusia adalah suatu tujuan yang tidak akan mungkin tergapai.”

 

So, ingat saja pesan terakhir ini.

“jangan melihat suatu nilai menurut ukuran manusia, karena apa yang baik disisi manusia belum tentu itu diridhai Allah swt, dan apa yang buruk dihadapan manusia belum tentu itu hal yang tidak disukai oleh Allah swt.”

 

Silahkan dilihat QS Al Baqarah : 216, beserta seluruh penjelasannya yang bisa dirujuk pada kitab-kitab tafsir karangan para ulama’ salaf, semisal Tafsirul Quranul Adziem, karya Ibnu Katsiir, Tafsir Ath Thabariy, Tafsir Al Jalallain, Al Jami’ li ahkamil Quran, karya Al Qurthubiy, dan yang lainyya.

Faktor Keempat Mntapnya Aqidah

Fithrah mereka yang selamat. Fithrah merupakan nikmat dari Alloh Azza wa Jalla dan anugerah yang Allôh Tabâroka wa Ta’âlâ anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya. Allôh Jalla wa Ta‘alâ memberikan keutamaan kepada hamba-hamba-Nya dengan menciptakan mereka di atas fithrah, sebagaimana sabda Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap (hamba) yang lahir dilahirkan di atas fithrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (Shahîh al-Bukhârî : 1385)

Maka Allôh ciptakan mereka di atas fithrah. Adapun Ahlus Sunnah, fithrah mereka tetap selamat tidak berubah-ubah. Allôh perlihara fithrah mereka (ahlus sunnah) dari segala bentuk perubahan, pergantian dan penyelewengan. Sedangkan manusia lainnya, fithrah mereka telah terkotori dan mengalami penyelewengan sesuai dengan yang melekat padanya, sedikit maupun banyak.

Di dalam sebuah hadits Qudsi, Allôh Ta’âlâ berfirman:

خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Aku ciptakan hamba-hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan hanif (lurus), kemudian syaithan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka.” (Shahîh Muslim no. 2365).

Di dalam al-Qur`ân al-Karîm, Allôh Ta’âlâ berfirman:

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS az-Zukhruf [43]: 37).

Syaithan dan bala tentaranya memalingkan dan mengubah manusia dari fithrah mereka.

Untuk itulah, termasuk diantara faktor yang memantapkan (aqidah) adalah, manusia perlu bersungguh-sungguh di dalam menjaga keselamatan fithrah mereka :

فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“(Tetaplah atas) fithrah Alloh yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS ar-Rum [30]:30).

Fithrah yang selamat terikat dengan sumber (mashdar) yang selamat. Apabila seorang yang memiliki fithrah yang selamat menyandarkan dan berpegang dengan Kitâb Rabbnya dan Sunnah Nabinya ‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm, maka fithrahnya tidak akan berubah.

Namun jika fithrahnya tunduk kepada hawa nafsu yang membinasakan, syubuhat yang merusak, pemikiran yang menyimpang dan takalluf (sikap membenani diri) yang jauh, atau yang semisalnya, maka fithrahnya akan menyimpang.

Allah Dimana ?

Sepakat Ulama tentang Di Mana Allah


Barangkali ada yang bertanya, di mana Allah? Allah di atas sana, di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya.

Jawaban di atas menjadi kata sepakat ulama.

Para ulama telah sepakat bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Allah berada di ketinggian di atas langit sana, bukan berada di muka bumi. Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya, bukan di mana-mana.

Berikut kami buktikan keyakinan di atas berdasarkan kata sepakat para ulama.

1- Kata Ijma’ Ulama

‘Abdurrahman bin Abi Hatim berkata, ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata aku diceritakan dari Sa’id bin ‘Amir Adh Dhuba’i bahwa ia berbicara mengenai Jahmiyah. Beliau berkata,

الجهمية فقال هم شر قولا من اليهود والنصارى قد إجتمع اليهود والنصارى وأهل الأديان مع المسلمين على أن الله عزوجل على العرش وقالوا هم ليس على شيء

“Jahmiyah lebih jelek dari Yahudi dan Nashrani. Telah diketahui bahwa Yahudi dan Nashrani serta agama lainnya bersama kaum muslimin bersepakat bahwa Allah ‘azza wa jalla menetap tinggi di atas ‘Arsy. Sedangkan Jahmiyah, mereka katakan bahwa Allah tidak di atas sesuatu pun.” (Lihat Al-‘Uluw li Al-‘Aliyyi Al- Ghaffar, hlm. 157 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hlm. 168)

2- Sepakat Ulama Madzhab

Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad semuanya bersepakat bahwa Allah menetap tinggi di atas seluruh makhluk-Nya.

Imam Abu Hanifah mengatakan dalam Fiqh Al-Akbar,

مَنْ اَنْكَرَ اَنَّ اللهَ تَعَالَى فِي السَّمَاءِ فَقَدْ كَفَرَ

“Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.” (Lihat Itsbatu Shifat Al- ‘Uluw, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hlm. 116-117)

Imam Malik bin Anas mengatakan,

اللهُ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ لاَ يَخْلُوْ مِنْهُ شَيْءٌ

“Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.” (Lihat Al-‘Uluw li Al-‘Aliyyi Al- Ghaffar, hlm. 138)

Diriwayatkan dari Yahya bin Yahya At Taimi, Ja’far bin ‘Abdillah, dan sekelompok ulama lainnya, mereka berkata, “Suatu saat ada yang mendatangi Imam Malik, ia berkata: “Wahai Abu ‘Abdillah (Imam Malik), Allah Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5). Lalu bagaimana Allah beristiwa’ (menetap tinggi)?” Dikatakan, “Aku tidak pernah melihat Imam Malik melakukan sesuatu (artinya beliau marah) sebagaimana yang ditemui pada orang tersebut. Urat beliau pun naik dan orang tersebut pun terdiam.” Kecemasan beliau pun pudar, lalu beliau berkata,

الكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالإِسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَإِنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ ضَالاًّ

“Hakekat dari istiwa’ tidak mungkin digambarkan, namun istiwa’ Allah diketahui maknanya. Beriman terhadap sifat istiwa’ adalah suatu kewajiban. Bertanya mengenai (hakekat) istiwa’ adalah bid’ah. Aku khawatir engkau termasuk orang sesat.” Kemudian orang tersebut diperintah untuk keluar. (Lihat Al-‘Uluw li Al-‘Aliyyi Al-Ghaffar, hlm. 378)

Inilah perkataan yang shahih dari Imam Malik. Perkataan beliau sama dengan robi’ah yang pernah kami sebutkan. Itulah keyakinan Ahlus Sunnah.

Imam Syafi’i berkata,

القول في السنة التي أنا عليها ورأيت اصحابنا عليها اصحاب الحديث الذين رأيتهم فأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة ان لااله الا الله وان محمدا رسول الله وذكر شيئا ثم قال وان الله على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وان الله تعالى ينزل الى السماء الدنيا كيف شاء وذكر سائر الاعتقاد

“Perkataan dalam As Sunnah yang aku dan pengikutku serta pakar hadits meyakininya, juga hal ini diyakini oleh Sufyan, Malik dan selainnya : “Kami mengakui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah. Kami pun mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Lalu Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy-Nya yang berada di atas langit-Nya, namun walaupun begitu Allah pun dekat dengan makhluk-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan beberapa keyakinan (i’tiqod) lainnya. (Lihat Itsbatu Shifat Al-‘Uluw, hlm. 123-124)

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya, “Apa makna firman Allah,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ

Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” (QS. Al-Mujadilah: 7)

Yang dimaksud dengan kebersamaan tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun Rabb kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi.”

Diriwayatkan dari Yusuf bin Musa Al Ghadadiy, beliau berkata,

قيل لأبي عبد الله احمد بن حنبل الله عز و جل فوق السمآء السابعة على عرشه بائن من خلقه وقدرته وعلمه بكل مكان قال نعم على العرش و لايخلو منه مكان

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyakan, “Apakah Allah ‘azza wa jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?” Imam Ahmad pun menjawab, “Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya.” (Lihat Itsbatu Shifat Al-‘Uluw, hlm. 116)

3- Didukung oleh 1000 Dalil

Ahmad bin Abdul Halim Al-Harani (yang dikenal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) berkata,

قَالَ بَعْضُ أَكَابِرِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ : فِي الْقُرْآنِ ” أَلْفُ دَلِيلٍ ” أَوْ أَزْيَدُ : تَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى عَالٍ عَلَى الْخَلْقِ وَأَنَّهُ فَوْقَ عِبَادِهِ . وَقَالَ غَيْرُهُ : فِيهِ ” ثَلَاثُمِائَةِ ” دَلِيلٍ تَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ

“Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al-Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian di atas seluruh makhluk-Nya. Sebagian mereka lagi mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 5: 121)

Yang namanya ijma’ atau kata sepakat ulama seperti yang kami nukilkan sudah menjadi dalil kuat bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, menetap tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. Siapa yang menyelisihi akidah ini, dialah yang keliru.

Karena disebutkan dalam hadits,

إِنَّ أُمَّتِى لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ

Sesungguhnya umatku tidak akan mungkin bersepakat dalam kesesatan.” (HR. Ibnu Majah no. 3950)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Aqidah Pengikut Fir’aun, Musa & Muhammmad: Di Manakah Allah?


Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ala Rosulillah wa ala alihi wa shohbihi ajmain. mahsyar3Jika kita menanyakan kepada sebagian saudara kita mengenai di manakah Allah, maka muncul berbagai versi jawaban mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Ada puka yang mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana. Ada pula yang mengatakan bahwa Allah ada di hati setiap insan. Padahal senyatanya, jika kita menulusuri Al Quran, kita akan mendapati bahwa Allah sendiri telah menceritakan tentang keberadaannya bahwa Dia berada di atas Arsy, di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya. Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan bahwa sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan,

في القرآن ألف دليل أو أزيد تدل على أن الله عال على الخلق وأنه فوق عباده وقال غيره فيه ثلاثمائة دليل تدل على ذلك “Di dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah berada di atas seluruh makhluk-Nya dan di atas seluruh hamba-Nya.” Selain mereka (ulama Syafi’iyah) mengatakan bahwa ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini. (Bayanu Talbisil Jahmiyah, 1/555)

Adapun di antara dalil Al Quran yang membicarakan hal ini adalah dalil tegas yang menyatakan Allah fis samaa’. Menurut Ahlus Sunnah, maksud fis samaa’ di sini ada dua: • Fi di sini bermakna ‘ala, artinya di atas. Sehingga makna fis sama’ adalah di atas langit • Sama’ di sini bermakna ketinggian (al ‘uluw). Sehingga makna fis sama’ adalah di ketinggian Dua makna di atas tidaklah bertentangan. Makna fis sama’ tidak boleh dipalingkan ke makna selain itu. Contoh dalil tersebut adalah firman Allah Ta’ala,

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di (atas) langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersamamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS. Al Mulk : 16)

Juga terdapat dalam hadits,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ “Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Ar Rahman. Sayangilah penduduk bumi, niscaya (Rabb) yang berada di atas langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Daud no. 4941 dan At Tirmidzi no. 1924. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Dalil lainnya adalah dalil yang menyatakan bahwa Allah menceritakan mengenai Fir’aun yang ingin menggunakan tangga ke arah langit agar dapat melihat Tuhannya Musa. Lalu Fir’aun mengingkari keyakinan Musa mengenai keberadaan Allah di atas langit. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا “Dan berkatalah Firaun: Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” (QS. Al Mu’min: 36-37)
Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Barangsiapa yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit yaitu dari golongan Jahmiyah, maka mereka termasuk pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.” (Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 2/441)

Keyakinan ini juga merupakan keyakinan Imam Malik bin Anas, Imam Darul Hijroh. Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal ketika membantah paham Jahmiyah. Abdullah bin Nafi’ berkata bahwa Malik bin Anas mengatakan, “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.” (Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 138. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shohih) Sedangkan Imam Abu Hanifah bersikap keras terhadap orang yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit. Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-, beliau bertanya pada Abu Hanifah mengenai orang mengatakan, “Saya tidak tahu Rabbku di atas langit ataukah di bumi.” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman (yang artinya), ‘Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy’ dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit (Arsy Allah di langit), maka dia kafir.” (Diriwayatkan oleh Al Faruq dengan sanad dari Abu Bakr bin Nashir bin Yahya dari Al Hakam. Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 135-136)