MELANGGAR PERATURAN TAK SELALU SALAH Ketika Orang Jenius Melakukan Apa Yang Tidak Masuk Akal Bagi Orang-Orang Awam

Hasil gambar untuk aturan

“nak, bangun nak, hari sudah siang…”, kata ibu.

“hemmmttts…!”, hanya berontak sedikit saja.

“sekarang sudah siang, lihat di luar !….ndak baik tidur pagi-pagi…”

Terlihat, jam di dinding tengah menunjuk kea rah jam 06.40 pagi, “iya bu, tapi aku baru tidur tadi jam 5….”

“makanya jangan begadang terus,…bangun gih, kerjaan sudah menumpuk…tidur pagi-pagi gini, bisa sakit….”

“ibu itu gimana tho, baru kemaren aku bilang, tidur kurang dari 6 jam kan nggak baik…syaraf otak belum stabil, nanti bisa menyebabkan kelelahan otak, membunuhmu itu mungkin saja…”, seperti itulah kira-kira, si anak mencoba meyakinkan ibu. “ hemmtzz…ya udah, nanti segera bangun, kerjaan kamu sudah menunggu…!”

“siap bunda sayang…”

 

Sekilas biasa saja, nggak ada yang aneh dengan dialog diatas, namun ada beberapa hal yang perlu kita telaah secara mendalam akan hal ini. Dialog diatas berada pada dua sisi mata koni yang salaing bertolak belakang (paradoks), kenapa ? karena dengan jelas, si anak yang pintar, atau si ibu yang berdalih pada disiplin waktu ? namun akhirnya si ibu memaklumi si anak, lantas mana yang benar ?

Menarik untuk disimak, pasalnya kedua orang itu sama-sama punya kekuatn yang besar dari segi eksisitensi ilmu pengetahuan. Si anak memang benar, sebab, ia memakai aturan akan batasan kwnatitas masa tidur. Aric Prather, seorang pengajar di Universitas San Fransisco, telah melakukan riset terhadap 164 sukarelawan yang di lakukannya pada tahun 2007 hingga 2011. Hasilnya, para relawan yang diteliti, mendapatkan data bahwa seorang yang tidur di bawah 6 jam sehari, dapat menyebabkan imunitas menurun, influensa yang akan pertama kali diuntungkan. Hal ini juga di amini oleh Mary Carskadon yang merupakan seorang Profesor Psikiatri di Alpert Medical School, Brown University, Rhode Island, USA. Sehingga ilmu ini menyebar ke seluruh Amerika yang oleh Pusat Pengendalian Penyakit dengan tubuh utama National Sleep Foundations memberi predikat “Epidemi Kesehatan Publik.”

Tak cukup sampai di ditu saja, bahkan beberapa lembaga lain juga telah memberikan rekomendasi yang sama akan kwantitas waktu tidur ini. Sebut saja misal Dr. Tata Swart, ahli Ilmu Syaraf Otak dan CEO The Mind Unlimited, yang menyebutkan bahwa seorang yang tidur di waktu yang kurang dari 6 jam sehari, maka ia akan mengalami defisit 8 point dari nilai IQ, saat itu juga, hingga ia tertidur kembali. Selain itu, juga memungkinkan terkena serangan jantung, stroke, dan gangguan syaraf. Maka Dr. Jessica Payne (Prfesor di University of Notredome, Indiana, USA) juga menyarankan agar tidur rerata 6-7 jam itu diamalkan. Bahkan apa yang kita dapatiari hasil kerja Kim Chan bersama timnya dari RS Kangbuk Smasung, University Sungkyunwan, Seoul mengaitkan kurang tidur dengan peningkatan resiko serangan jantung, depresi, obesitas, stroke dan dekadensi imunitas tubuh. Lebih Ekstrem Dr Jim Horne dari Sleep Research Centre di University of Loughbrough, bahwa tidur kurang dari 6 jam sehari membuka peluang seseorang untuk mati muda.

Untuk hal ini,si anak tadi menang, ia berargumen dengan sangat jelas. Dunia ilmiah yang mungkin ia pelajari snagat menentukan sikapnya memaknai sebuah kehidupan. Namun, disisi lain, tidak lah lantas si ibu tadi harus menerima kekalahan. Sebab, para pakar ilmu pengetahuan dan ahli kejiwaan telah membantah argumen tersebut.

Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abubakar bin Ayyub bin Su’ad bin Hariz az-Zar’i ad-Dimasyqi, adalah salah seorang pakar ilmu jiwa dalam khasanah Islam. Ia telah memberikan statemen bahwa tidur pagi akan memberi pengaruh yang luar biasa bagi tubuh. Ia menganalogikan bahwa tidur pagi akan menghalangi seorang dari pintu rejeki, sebab, saat itulah waktu pembagian ghanimah (harta kekayaan). (Lihat di kitab beliau Tahdzibut Madarijis Salikin : 1 / 459). Hal inilah yang membuka para ilmuwan modern untuk menguji kebenaran statemen ini. Salah satu yang paling mencolok adalah yang dikemukakan oleh Nurses Health Study. Para peneliti telah melakukan kajian atas 72.000 orang dalam kwantitas dan kwalitas masa tidur ini. Hasilnya didapatkan apabila seseorang terlampau lama dan sampai melewati masa dimana matahari terbit, maka seorang itu akan membuka peluang serangan stroke, depresi, diabetes, penurunan sistem imun, penurunan kerja syaraf, dan penurunan konsentrasi. Apalah yang mereka lakukan, maka dalam hal ini si anak telah melanggar aturan kesehatan darimara pakar dan ahli jiwa.

Namun, hala yang akan kami beberkan disini adala bahwasanya kita dilarang untuk mengklaim segala sesuatu itu hanya pada satu titik saja. Sebuah bentuk dari objek itu tidaklah lantas bernilai secara mutlak, apakah apabila kamu melihat sebingkah batu, maka hal itu mutlak batu ? seharusnya tidak, sebab, Albert Einsten telah mengemukakan postulat bahwa segala sesuatu itu relative dan sebuah nilai itu tergantung darimana kita melihatnya. Maka satu rumusan yang hendak kami berikan adalah “anda bilang saya melanggar peraturan, kami katakan TIDAK. Saat kami bisa berbuat lebih yang diluar batas penalaran anda, maka anda mau apa? Anda kalah !”

Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh Galileo Galilei pada aturan yang telah ditetapkan oleh doktrin gereja. Doktrin Geosentris dari Gereja yang mengikuti kaidah Ptolemaic. Galileo mendapat ultimatum dari Paus Urban VIII, agar tidak menyebarkan ajaran Heliosentris yang dikemukakan oleh Nicholas Copernicus. Namun ia tak lantas turun tahta, hingga ia akhirnya disidangkan di pengadilan gereja Roma, dan hasilnya, ia dicekal dan dilarang mengajar diberbagai lembaga pendidikkan manapun. Namun apa ? gereja kalah, dunia ilmiah sekarang telah menemukan berbagai bukti untuk memperkuat hipotesa Galileo, dunia fisika dan astronomi telah mengagungkan bahwa Mataharilah yang menjadi pusat dari tata surya, dan seluruh benda galaksi mengelilinginy lewat lintasannya.

Kita juga bisa melihat apa yang dilakukan oleh Chairil Anwar, seorang sastrawan kondang Indonesia. Dalam ATURAN yang diberikan oleh para sastrawan awal dalam menciptakan puisi, diharuskan mengikuti langkah pemilihan kata yang tepat dengan susunan vokal yang teratur. Namun hal ini ditolak oleh Chairil, sehingga apa yang ia lakukan, dengan karya pusi AKU miliknya telah melepaskan belenggu ini. “aku ini binatang jalang / dari kumpulan yang terbuang.” Sangat jelas dalam masa itu, Chairil mendapat kecaman dari seluruh sastrawan yang tetap memgang teguh ATURAN itu, namun ia membalas “meski peluru menembus kulitku/aku tetap meradang terjang/…..aku tetap tak peduli/aku ingin hidup 100 tahun lagi.” Apa ini ? sebuah pelanggaran pada aturan yang menghasilkan karya yang fenomenal yang mengilhami fikiran para satrawan belakangan.

Lihat juga apa yang dilakukan oleh Rogerio Cheni, seorang Goalkeeper dari tim sepakbola Sao Paulo. Sebagai seorang kiper, ia mendapat tugas untuk menjaga gawangnya dari kemasukkan bola, itu aturan buat dia. Namun ia tak menggubris ATURAN itu, ia melakukan apa yang seharusnya tidak menjadi tugasnya. 130 goal telah ia cetak dari bola mati di tendangan bebas dan penalti yang menjadi tade mark nya. Dengan karya itu, ia memecahkan record manapun, sebagai kiper terproduktif dan berhasil menjadi satu-satunya kiper yang dapat mencetak gol diatas 100. Bahkan apa yang ditulis oleh Guinnes Book of World Record, menempatkan nama Ryan Giggs sebagai pemain dengan record kemenangan terbanyak sepanjang karier, 589 dari 963 laga berakhir dengan kemenangan. Namun kali ini record itu pecah oleh karya Cheni, 590 laga berakhir dengan kemenangan manis dari 1000 lebih pertandingan selama 22 tahun kariernya. Apa yang dilakukannya memang GILA, maka ia bisa seenaknya MELANGGAR ATURAN. Namun hasilnya ? Amazing !!!!

Terakhir ! apa yang telah dikatakan oleh Rob Plunket, seorng fisikawan Amerika, “menentang Einsten adalah langkah yang berbahaya..!”, itu sebuah hipotesa yang mengarah pada kebenaran. Senada dengan apa yang dikatakan Michio Kaku (fisikawan City College, New York), “ saya meragukan ITU, Einsten selangkah didepan, namun yang dibicarakan kali ini adalah percepatan partikel di dunia yang telah mengilham penyimpangan Relativitas.”

Lantas, apa hubungannya ?

Baik, kini kita akan menelaah kata “ITU” yang diucapkan Kaku. Hal ini merujuk pada sebuah tindakan GILA Antonio Eredito, seorang fisikawan Albert Einsten Center for Fundamental Physics, di Bern, Swiss. Ia mencoba melanggar ATURAN Yang ditetapkan Albert Einsten, ia berusaha melakukan riset penembakan sinar neutrinas sejauh 730 KM dari Jenewa hingga ke Italia. Dengan berkolaborasi dengan National Institute for Nuclear and Particle Physics Research, Prancis, dan Geran Sasso National LABORATORY, Italia, ia melakukan kegilaan itu. “seperti melihat kacang, tapi bukan kacang. Namun ini bisa diukur secara akurat, meskipun ada setitik keraguan…” ujar Eredito.

Saat presentasi di auditorium CERN, Swiss, ia berhasil membuat seluruh audiens yang terdiri dari berbagai ahli fisikawan di seluruh dunia terkejut dan skeptis. Apa yang dilakukannya memang gila, seperti hendak menentang hukum alam yang nyaris berada pada titikkebenran. Einsten selangkah didepan, ia hampir menempati posisi kebenaran alam smesta. Namun riset yang merupakan perpanjangan tangan dari gerakan “One Hundred Author Againts Einsten” dari NAZI. Mereka masih dendam ata penghianatan Einsten pada NAZI karena membeberkan rahasia politik NAZI dan melakukan riset ilmiah dengan membuat ramuan reaksi nuklir yang pada pemerintahan FD Rooselvelt berhasil menciptakan bom atom yang kemudian membawa Amerika memenangkan Perang Dunia 2 dengan membumi hanguskan Hiroshima dan Nagasaki di bulan Agustus 1945.

Ini memang gila, melanggar peraturan yang nyaris tidak ada cela. Namun, apbila ia berhasil maka “bunia harus menulis ulang seluruh teori fisika modern”, seperti ujar Eredito. Ini sungguh memilukan, teori Relativitas masih berlaku, segala sesuatu tergantung dari jalan mana kita melihat, maka itulah kenyataan. Dan MELANGGAR PERAUTRAN bagi Eredito tidaklah haram, lihat saja hasil yang didapat nanti.

 

Diselesaikan di tanah kelahiran tercinta

Siwalan, Blangu, Gesi, Sragen.

Arif Yusuf

09 Desember 2015. 21: 10 WIB.

5 Kebiasaan Mengganggu Kecerdasan

Siapa yang tidak ingin memiliki otak yang cerdas, bukan? Banyak orang yang memilih memecahkan teka-teki silang, membaca buku atau melakukan hal lainnya untuk mempertajam otak. tetapi, dalam beberapa hal orang juga tidak menyadari ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang biasa kita lakukan bisa mempengaruhi kemampuan otak. Beberapa diantaranya mampu meningkatkan kecerdasan otak, namun beberapa hal lainnya justru menyakiti otak kita. Melansir dari menshealth.com, berikut ini merupakan lima kebiasaan yang bisa mempengaruhi kecerdasan otak kamu.

1. Khawatir tentang uang

Terlalu sibuk dengan masalah keuangan dapat menyebabkan kamu mengambil keputusan lebih lambat, kurang bertanggung jawab dan menurunkan kemampuan otak untuk fokus. Studi yang diterbitkan dalam the journal Science menyarankan untuk membatasi pikiran mengenai keuangan. Bebaskan sedikit ruang pada otak untuk memungkinkan kamu melakukan hal-hal lain yang lebih baik.

2. Membatasi jaringan sosial

Menurut hasil penelitian dari Oxford University, orang-orang yang memiliki jaringan sosial yang lebih besar memiliki otak yang lebih besar pada bagian yang terhubung dengan tanggung jawab, pengambilan keputusan, dan tindakan pelacakan lainnya. Orang-orang yang memiliki banyak teman menggunakan bagian-bagian tertentu dari otak, dan otak beradaptasi untuk melangkah pada tantangan tersebut.

3. Menggunakan GPS

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University College London menemukan bahwa sopir taksi yang sering menggunakan GPS berpengaruh pada otak, khususnya pada bagian hippocampus. Hal tersebut meningkatkan materi abu-abu pada hippocampus yang menyebabkan mereka memiliki ingatan yang lebih baik. Para peneliti berkesimpulan bahwa setiap tugas yang manantang kemampuan mental akan mengubah struktur otak dan meningkatkan daya ingat seseorang.

4. Tidur siang

Tidur siang mungkin terlihat menghabiskan waktu, tetapi mendapatkan tidur siang ternyata mampu meningkatkan kemampuan otak kamu. Sebuah penelitian di jerman melakukan penelitian dengan melibatkan peserta yang mendapatkan tidur siang selama 40 menit setelah belajar.Hasilnya 85% dari mereka mendapatkan nilai lebih baik pada tes memori dibandingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan tidur siang. Tidur setelah belajar bisa membantu mempercepat proses ketahanan informasi dalam otak.

5. Bertahan pada satu hobi

Otak menanggapi latihan dengan cara yang sama seperti yang otot kamu lakukan. Ketika kamu mencoba sesuatu yang baru, maka dia akan menjadi lebih kuat. Tetapi ketika kamu hanya melakukan rutinitas yang sama, kemanapun kamu untuk menghadapi permasalahan yang sulit akan menurun. Ini adalah hasil penelitian dari Mind Research Network dengan melihat respon orang terhadap permainan teka-teki.

Ketika para peserta pertama kali diajarkan mengenai teka-teki tersebut, otak mereka menggunakan lebih banyak glukosa. Glukosa memberikan otak energi untuk membantu meningkatkan koneksi saraf dan berujung pada peningkatan kemampuan belajar. Tetapi hal yang sama tidak terlihat setelah mereka melakukannya untuk kesekian kali.

Nah, sekarang kamu sudah tahu bukan kebiasaan yang ternyata berpengaruh pada kecerdasan otak kamu. Tentunya kamu akan lebih bijak dengan menghindari kebiasaan yang membuat otak kamu kehilangan kecerdasannya, bukan?

Penelitian Bahaya Kesepian bagi Kesehatan

Baru-baru ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari Brigham Young University di Utah, Amerika Serikat, mengejutkan banyak pihak. Penelitian itu menyebutkan bahwa kesepian memilik dampak yang sama berbahayanya dengan merokok 15 batang sehari. Penelitian yang mengambil sampel 3 juta orang di Amerika ini juga menyebutkan bahwa efek yang ditimbulkan karena kesepian sama bahayanya dengan obesitas. Dikutip dari Daily Express, kesepian bisa didefinisikan sebagai kondisi di mana batin seseorang terisolasi secara sosial. “Meskipun sebenarnya dia dikelilingi oleh banyak orang, tetap saja merasa kesepian karena tidak adanya orang yang ia sayangi,” ujar Julianne Holt Lustand, pemimpin riset.

Kesepian rentan dialami oleh orang-orang yang lanjut usia. Biasanya para lansia yang kehilangan orang yang dicintai baik karena kematian atau perpisahan akan sering mengalami kesepian. Tidak hanya itu, Julianne juga menyebutkan bahaya serupa juga mengancam pasangan yang terpisah jarak cukup jauh alias LDR.

Karena itu, peneliti mengimbau kepada pasangan jarak jauh untuk intens menjalin komunikasi melalui berbagai sarana guna mengurangi efek bahaya dari kesepian. “Kita harus mengambil hubungan sosial yang lebih serius lagi. Tekanan yang disebabkan oleh penetrasi batin bisa lebih berbahaya daripada penyakit yang terjadi secara langsung pada fisik,” kata Julainne.

Terlepas Anda percaya atau tidak, itulah bahayanya kesepian menurut studi di Amerika Serikat. Lantas, apa Anda bisa membayangkan betapa bahayanya hidup seorang perokok yang mengalami obesitas sekaligus kesepian?

Peneliti Ini Buktikan Otak Pria dan Wanita tak Benar-Benar Berbeda

Beberapa bagian khusus pada otak pria dan wanita memang memiliki perbedaan. Akan tetapi ketika melihat sebuah otak secara keseluruhan, peneliti menemukan bahwa jarang sekali otak hanya menunjukkan ciri “pria” atau “wanita” saja.

Temuan ini bersinggungan dengan anggapan selama ini bahwa otak pria dan wanita berbeda. Untuk mencapai kesimpulan bahwa otak pria dan wanita tidak jauh berbeda, Daphna Joel dan rekan-rekan peneliti dari Tel-Aviv University telah melakukan penelitian yang mendalam.

Tim peneliti ini telah memeriksa lebih dari 1.400 otak dengan menggunakan scan MRI. Pada tiap otak yang mereka teliti, tim peneliti memeriksa berbagai variabel seperti ketebalan jaringan otak hingga volume pada tiap bagian otak. Dalam penelitian tersebut, para tim peneliti membagi temuan mereka ke dalam tiga kategori, yaitu zona dominasi pria, zona dominasi wanita dan zona kisaran menengah.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa sebagian besar orang yang mereka tes memiliki kriteria zona dominasi pria dan juga zona dominasi wanita. Dalam penelitian ini, para anggota tim juga jarang sekali menemukan seseorang yang hanya memiliki satu indikasi zona yang mendominasi saja.

Para peneliti juga melakukan pendekatan penelitian yang berbeda, selain menggunakan scan MRI. Para peneliti menggandeng lebih dari 5.000 relawan untuk diteliti dari sisi psikologis dan juga dari sisi kebiasaan. Pada akhirnya, penelitian tersebut juga menunjukkan indikasi bahwa otak manusia tidak terbagi dalam kategori pria dan wanita saja.

Dari beberapa penelitian tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa otak manusia tidak terbagi pads dua kategori berbeda berdasarkan jenis kelamin. Daphna Joel dari School of Psychological Sciences di Tel Aviv University mengatakan ada sistem saling melengkapi yang luas pada seluruh bagian otak dan koneksi otak yang diteliti, terlepas dari perbedaan sampel, ukuran dan analisa.

“Ini mengaburkan berbagai upaya untuk membedakan otak pria dan wanita pada beberapa struktur otak,” jelas Daphna.

Ahli syaraf dari University of California yang tidak terlibat dalam penelitian, Irvine, merasa sependapat dengan temuan tersebut. Irvine mengatakan setiap manusia diciptakan berbeda, dan pada umumnya terbagi ke dalam kategori pria dan wanita. Akan tetapi, Irvine menilai hal tersebut tidak serta merta membuat otak bekerja secara berbeda sesuai jenis kelamin.

“(Jenis kelamin) Tidak menentukan bahwa otak bekerja secara berbeda untuk pria dan wanita,” terang Irvine.

Punya Otak Besar, Belum Tentu Cerdas.

Sejak lama, orang beranggapan bila memiliki kepala dan otak besar identik dengan kecerdasan di atas rata-rata. Namun, penelitian Universitas Vienna baru-baru ini membuktikan bila anggapan itu salah.

Tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Universitas Vienna melakukan eksperimen berupa tes IQ terhadap 8.000 orang. Dari pengamatan hasil tes IQ, terungkap bila hubungan antara kecerdasan dengan ukuran otak sangat kecil, baik pada anak-anak dan orang dewasa, atau pada pria dan wanita.

“Hasil penelitian menunjukkan bila volume otak hanya berperan kecil dalam peningkatan kecerdasan otak pada manusia,” kata Jakob Pietsching dari Universitas Vienna, Daily Mail (15/10).

Lebih lanjut, menurut ilmuwan, faktor yang berperan penting dalam tingkat kecerdasan manusia adalah struktur otak, bukan ukurannya. Semakin kompleks dan padat susunan saraf manusia, dikatakan semakin cerdas dirinya.

Hasil penelitian ini sesuai dengan fakta di mana pria rata-rata memiliki otak lebih besar dari wanita. Namun, pada tes IQ, tidak ditemukan perbedaan kecerdasan signifikan antara pria dan wanita.

Selain itu, hal ini juga menjelaskan mengapa paus sperma yang memiliki otak berkali-kali lipat lebih besar dari milik manusia mempunyai kecerdasan yang rendah. Jadi, otak besar belum tentu membuat makhluk hidup cerdas dan lebih superior dari makhluk hidup lain.

CERDAS SEPERTI B.J. HABIBIE

Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie terkenal akan kejeniusannya dan dia membeberkan rahasia menjadi pintar seperti dirinya pada peluncuran biografi-nya “Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner” di Perpustakaan Habibie Ainun di kediamannya, Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan, Senin, 12 Oktober 2015.

“Saya dari lahir, cuma butuh tidur empat jam, selebihnya yang 20 jam, pancaindera saya menyerap lingkungan sekitar dan bertanya-tanya. Mungkin karena pancaindera saya sangat aktif itulah saat kecil saya sudah mulai bertanya-tanya dan kalau tidak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan saya menangis,” kata Habibie.

Sejak bayi, kata Habibie, ayahnya sering membacakan satu hingga dua juz Alquran untuk menenangkannya.

“Mendengar ayah saya baca Quran saya diam, tapi saya rasa saya diam bukan karena mengerti bahwa itu ayat suci tapi indera pendengaran saya bertanya-tanya suara apa itu. Lalu kakak saya cerita, sejak usia tiga tahun saya sudah pandai baca Quran,” kata Habibie.

Selain itu, rahasia menjadi orang pintar versi Habibie adalah selalu berserah diri kepada Tuhan dan menggantungkan cita-cita setinggi langit.

“Saya tidak pernah bermimpi karena kalau mimpi biasanya ya cuma berakhir jadi mimpi-mimpi aja dan tidak bangun-bangun. Saya lebih memilih bercita-cita,” kata dia.

Buku biografi Rudy yang diterbitkan Bentang Pustaka ditulis oleh penulis skenario Gina S. Noer yang pernah mengadaptasi buku karangan Habibie, “Habibie & Ainun”, ke dalam layar lebar.

Berkisah seputar perjalanan Rudy menjadi B.J. Habibie, buku ini diharapkan Habibie bisa mengilhami generasi muda Indoneia untuk terus maju mengharumkan Indonesia Raya seperti yang dilakukannya.

“Saya optimistis tentang masa depan Indonesia karena pemudanya mau menjadi pintar dan mau belajar. Mari kita beri kesempatan mereka, asuh mereka sebaiknya,” kata Habibie yang kini berusia 79 tahun.

Terpejam Memperkuat Hafalan

Dalam sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal Legal and Criminology Psychology, peneliti dari University of Surrey mengungkap saksi mata sebuah tindakan kriminal akan mengingat kejadian lebih akurat ketika menutup mata. Tim juga menemukan kedekatan antara saksi dan penegak hukum juga membantu ingatan lebih terbuka.

Sebanyak 178 orang ambil bagian dalam dua eksperimen. Para percobaan pertama, peserta menyaksikan film yang menggambarkan pencuri memasuki tempat tinggal seseorang. Setiap peserta kemudian secara acak diingatkan tentang salah satu dari empat kondisi pencurian dalam kondisi mata terbuka dan tertutup. Para peserta kemudian diberikan serangkaian pertanyaan tentang film, seperti “Apa yang tertulis di depan mobil?”

“Sebanyak 23 persen lebih pertanyaan dapat dijawab dengan benar,” kata Robert Nash, pemimpin penelitian, seperti dikutip dari Livescience, Kamis, 22 Januari 2015.

Percobaan ketua melihat tugas memori satu langkah lebih jauh. Para peneliti meminta peserta menjelaskan apa yang mereka dengar dan lihat dari video Crimewatch. Video tersebut berisi rekonstruksi perampokan rumah seorang pria tua. Hasilnya menunjukkan, “Menutup mata membantu peserta mengingat rincian audio dan visual dengan baik.”

Dalam kedua percobaan tersebut, para peserta yang tak kooperatif dengan para peneliti enggan menutup mata mereka dan sulit mengeluarkan pendapat mereka. Sebaliknya, peserta yang kooperatif lebih nyaman menceritakan pengalaman mereka.

Nash mengklaim, penelitian ini penting untuk membantu penyelidikan tindakan kriminal. Namun, para penyelidik kejahatan harus menjalin hubungan baik agar saksi mata dapat lebih mengungkap apa yang pernah dilihatnya.

Manusia Lebih Cerdas Dari Simpanse

Mengapa kita lebih cerdas daripada simpanse? Lewat penelitian genetik terbaru, ilmuwan mengungkap jawabannya.

Menurut Marta Florio, peneliti dari Max Planck Institute of Molecular Cell Biology and Genetics, manusia bisa lebih cerdas daripada simpanse karena memiliki gen ARHGAP11B yang berperan dalam perkembangan otak.

Florio melakukan eksperimen dengan tikus putih. Gen ARHGAP11B diinjeksikan pada embrio tikus putih dan perkembangannya dilihat.

Hasil penelitian mengungkap bahwa gen tersebut membuat otak memiliki lebih banyak lekuk-lekuk, memungkinkan bagian neuro-korteks otak memiliki lebih banyak jaringan saraf. Dengan begitu, kecerdasan juga meningkat.

“Sangat keren bahwa gen kecil saja bisa memengaruhi fenotif (ekspresi) dari sel punca yang bertanggung jawab pada ekspansi neuro-korteks,” kata Florio.

Diberitakan Livescience, Kamis (26/2/2015), Florio percaya bahwa gen yang juga ditemukan pada jenis Neanderthal dan Denisovan tersebut bukan satu-satunya gen yang menentukan kecerdasan manusia.

Meski berbagi 99 persen DNA dengan simpanse, Florio percaya bahwa manusia masih menyimpan banyak perbedaan dengan simpanse sehingga lebih cerdas.

Evolusi memungkinkan volume otak manusia terus tumbuh besar. Sekitar 3,8 juta tahun lalu, spesies manusia purba Australopithecus afraensis hanya memiliki volume otak sebesar 50 sentimeter kubik.

Sementara itu, 1,8 juta tahun lalu, Homo erectus sudah memiliki volume otak dua kali A afraensis. Neanderthal kemudian punya volume otak 1,4 liter.

Ilmuwan percaya, kecerdasan ditentukan oleh faktor lain selain volume otak, seperti proses pertumbuhan sel otak. Florio akan terus melakukan penelitian lanjutan pada embiro tikus putih untuk mengonfirmasi peran gen ARHGAP11B pada kecerdasan.

CERDAS ITU MUDAH

Dulu ada anggapan umum bahwa otak itu terbentuk secara permanen dan, tidak seperti organ lain, dia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri atau mengembalikan fungsinya yang hilang setelah rusak atau terkena penyakit. Tapi, sekarang kita tahu bahwa pada kenyataannya otak itu syaraf yang plastis. Kegiatan dan pengalaman mental dapat mengubah struktur di dalamnya.

Guardian melansir nukilan dari buku terbaru Norman Doidge, The Brain’s Way of Healing: Stories of Remarkable Recoveries and Discoveries, pada pertengahan Februari lalu. Norman Doidge adalah psikiater dan peneliti di Center for Psychoanalytic Training and Research, Columbia University dan Departmen Psikiatri di University of Toronto, Amerika Sertikat. Bukunya mengurai sejumlah penemuan mutakhir dalam penelitian otak yang dapat membantu mempertajam otak manusia. Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Berjalan 3 Km Sehari
Olahraga rutin, seperti berjalan, telah terbukti menjadi faktor utama dalam menurunkan risiko demensia sampai 60%. Salah satu alasannya adalah bahwa ketika binatang berjalan sangat jauh, dia biasanya mencari wilayah baru yang belum dijelajah untuk hidup, karena mereka menyelamatkan diri dari predator atau karena makanan sudah habis di tempat asalnya.

Otak, dalam mengantisipasi fakta bahwa binatang harus belajar banyak tentang wilayah baru ini, melepas faktor-faktor pertumbuhan, yang bertindak seperti pupuk di otak, yang memungkinkan otak membangun koneksi-koneksi antarsel agar lebih mudah saat dia belajar hal baru.

Berjalan rutin memiliki efek yang sama pada kita. Dia menempatkan otak kita dalam keadaan syaraf yang lebih plastis. Latihan keras tidaklah perlu. Jumlah yang dibutuhkan untuk mengurangi risiko demensia adalah berjalan 2 mil atau 3,2 km, atau bersepeda 10 km, lima hari dalam seminggu.

2. Belajar Tari, Bahasa atau Musik Baru
Seiring bertambah tua, khususnya bila memasuki usia pertengahan, kita tak lagi memacu otak kita sebanyak yang kita lakukan ketika masih bersekolah. Sebagian besar orang di usia menengah hanyalah mengulang keterampilan yang sudah dikuasai, seperti membaca koran dan mengulangi tugas yang akrab di tempat kerja.

Untuk menjaga penuaan otak, maka otak memerlukan latihan baru dan kerja keras dengan melakukan sesuatu yang sesulit mempelajari bahasa baru atau tarian baru, atau memainkan alat musik baru. Kegiatan ini melibatkan bagian otak yang disebut nucleus basalis, yang bertanggung jawab untuk membantu kita memperhatikan dan mengkonsolidasikan koneksi-koneksi baru di otak ketika kita belajar. Idealnya, latihan ini dilakukan setiap hari selama satu jam atau lebih, dengan konsentrasi yang tinggi dan fokus.

3. Istirahat yang Cukup
Sebuah studi baru di University of Rochester, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa selama tidur sel-sel otak yang disebut glia membuka jalur khusus yang memungkinkan produk limbah dan penumpukan racun di otak, termasuk protein yang sama yang membuat demensia, untuk dihilangkan. Di atasnya, saat kita tidur, koneksi baru, yang terbentuk antara saraf-saraf yang dibuat oleh pembelajaran yang kita lakukan sehari sebelumnya, menjadi terkonsolidasi dan membuatnya lebih awet.

Sayangnya, kehidupan modern semakin membuat kita kehilangan istirahat. Lampu, dan, tentu saja, Internet, membuat kita lebih sering terjaga, sehingga kita tak mendengarkan sinyal tubuh kita bahwa inilah saatnya untuk tidur.

Pada abad ke-19, orang Barat dewasa rata-rata berpikir tidur sembilan jam itu normal. Di Amerika sekarang, kenormalan itu adalah mendekati tujuh jam dan terus turun.

Berapa lama istirahat ideal? Rekomendasinya beragam, tapi beberapa peneliti mengatakan 8,5 jam adalah rata-rata yang lebih baik.

https://teknologitinggi.wordpress.com/category/cognitive-science/page/3/

Rahasia Otak Besar Manusia Dalam Konteks Evolusi

Ukuran otak manusia berkembang secara dramatis selama evolusi. Otak yang relatif besar dibanding anggota primata lain memberikan manusia kemampuan unik untuk menggunakan bahasa dan melakukan penghitungan yang rumit.

Namun bagaimana otak manusia bisa berkembang lebih besar daripada kerabat terdekat, simpanse, jika hampir semua gen kita sangat mirip? Tim ilmuwan dari Duke University Medical School di Durham, Carolina Utara, berhasil menguak rahasia di balik otak besar manusia. Mereka menemukan gen khusus yang berfungsi merangsang pertumbuhan otak manusia.

Gen yang disebut HARE5 ini sebenarnya juga ditemukan pada simpanse. Hanya saja, aktivitas gen unik itu mengakibatkan dampak yang berbeda pada otak manusia dan simpanse.

Menggunakan embrio tikus, para peneliti menyisipkan gen HARE5 untuk melihat perkembangan otak pada fase awal. Hasilnya, mereka menemukan embrio tikus yang disisipi gen HARE5 dari manusia mengalami pertumbuhan otak hingga 12 persen lebih besar dibanding yang mendapat suntikan gen dari simpanse.

“Temuan ini benar-benar menarik hal lain sebagai awal untuk lebih memahami keunikan otak manusia,” kata Debra Silver, pemimpin studi sekaligus asisten profesor genetika molekuler dan mikrobiologi di Duke University Medical School, seperti dikutip Esciencenews.com, Senin, 23 Februari 2015.

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal online Current Biology edisi 19 Februari 2015. Silver menuturkan hasil risetnya dapat memberikan wawasan tentang keistimewaan otak manusia. Temuan ini juga bisa dimanfaatkan untuk riset lanjutan tentang alzheimer dan autisme, penyakit dan kelainan yang tidak pernah diderita oleh simpanse.