PENDAHULUAN BUKU “ADA APA DENGAN SIKAP EKSTREM ?”

 

 

اِنَّ الْحَمْدَاﷲِ نَحْمَدُهُ وًنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ،

وَنَعُوْذُباﷲِ مِنْ سُرُرِ أَنْفُسِنَاوَمِنْ سَيِّءَاتِ أَعْمَلِنَ ،

مَنْ يَهْدِهِ اﷲُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ ،

أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اﷲُ وَحدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً غَبْدُهُ وَرَسُوْلُ

قل ا لله تعل في ا لقرعن ا لكر يم :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ال عمران ; ١۰٢)

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا

وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُواﷲَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ

إِنَّ اﷲَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء : ١)

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُواﷲَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُموَمَنْ يُطِعِ اﷲَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ( الاحزاب : ٧۰ – ٧١)

أَمَّا بَعْدُ

فَاِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اﷲوَخَيْرَهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،وَشَرَّلاْءُمُوْرِ مُحْدلثَاتُهَا وَكُلّ مُحْدلثَاتُ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةً

 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, segala puji hanya pantas kita tujukan kepada Sang Khaliq, sang Maha Pemelihara serta Maha Berkuasa atas segala ‘alam semesta, sang Malikul Mulk. Dengan segenap rahmat dan nikmat Allah swt yang telah berkenan menjaga kita dan memilih kita atas segala makhluk dimuka bumi, serta janji Allah akan memenangkan kita (umat Muslim) atas segala agama. Sebagaimana janji Allah :

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“DIA lah Allah yang telah mengutus RasulNYA dengan hidayah dan agama yang haq, untuk dimenangkan-NYA atas tiap-tiap agama, walau orang-orang musyrik tiada menyukainya.” (QS At Taubah : 33, QS Ash Shaaf : 9)

Sholawatserta salam kami junjungkan kepada sang suri tauladan kita, sang pemimpin dari segala pemimpin, sang pembenah akhlak yang bengis, Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Muthalib ibn Abdu Manaf ibn Hisyam –shalallahu ‘alihi wassalam- yang bahwa dialah umat teragung yang pernah menginjak muka bumi yang fana ini.

Dengan tetap memohon dengan sangat agar Allah swt memberikan naungan yang sangat terhadap apa yang hendak kami lakukan ini. Kami tetap memohon perlindungan dari kesalahan pemikiran yang disinyalir dapat menimbulkan suatu konflik yang tidak diinginkan.

Sewaktu bersekolah di salah satu sekolah Lanjutan Tingkat Atas di pinggiran Kab. Sragen, saya pernah pergi ke perpustakaan sekolah tersebut, saya yang selalu aktif dalam mencari referensi ilmiah demi kelancaran KBM, melihat ada sebuah buku stebal 86 halaman dengan ukuran 25 x 17 cm, yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikkan Dasar dan Menengah, Kementrian Pendidikkan Nasional pada tahun 2010. Buku yang bersampul hitam bergambar belukar yang ditengahnya terdapat sekuntum bunga mekar nan indah itu ditulis oleh Rudi Syahabuddin dan Hika D. Asril Putra. Terdapat 5 Bab buku tersebut yang mencoba memberi wawasan yang sangat dramatik-historis akan penyudutan ISLAM tatkala kobaran JIHAD dikumandangkan, dengan referensi yang cukup bagus bila disimak dari analisis historis umum. Kemudian saya membacanya dengan teliti dan mencoba memahami maksud dan pesan yang tersirat dalam tulisan tersebut. Buku yang berjudul MENJAUHI SIKAP EKSTREM[1] tersebut telah berusaha menemukan jalan yang menurut mereka cukup mumpuni sebagai wacana untuk mengindahkan Pendidikkan Pancasila dan Kewarganegaraan, dengan melihat aspek etnografi di Indonesia yang sebagaimana kita tahu adalah multiculture.

Setelah saya semakin jauh masuk kedalam buku tersebut, saya dapati inti permasalahan yang dikaji oleh penulis ini, adalah untuk memberi bukti historis akan bahayanya tindakan JIHAD (Perjuangan mempertahankan agama ISLAM.) yang dilakukan oleh sekelompok minoritas muslim berdampak pada kericuhan dan konflik yang berkepanjangan. Catatan data yang cukup memadai untuk meyakinkan umat muslim Indonesia benar-benar bersikap elastis dengan menerima akan adanya perbedaan dan jauh dari sikap fundamentalis, fanatis, dan bahkan ekstremis.

Saya rasa penulis ini adalah salah satu dari apa yang pernah disampaikan oleh ustadzuna Abu Bakar Ba’asyir, saat memberikan ceramah seputar Dosa Syirik, beliau –hafidzallahu- mengatakan :

 

“….kita tahu, biasanya syirik itu menyembah berhala, menyembah batu, menganggap suci sesuatu (selain apa yang disucikan oleh Allah dan RasulNYA), bahkan di Solo ada kerbau yang dianggap suci…..kotorannya barokah….akan tetapi syirik tidak hanya itu, ada syirik yang lebih besar dari syirik itu…yaitu menganggap dirinya lebih pandai dari Allah, mengoreksi syariat ISLAM….ada orang mengatakan ‘syariat ISLAM tidak cocok untuk masyarakat Indonesia….itulah syirik yang lebih besar dari syiriknya Abu Jahal….”-na’udzubillah-.

 

Para penulis berusaha meyakinkan masyarakat agar kita selalu bersikap kritis dan waspada akan bahaya sikap keras dan peperangan dengan menganalisis secara historis dan Yuridis dengan berusaha mengaitkan peristiwa yang terjadi seputar peta kekerasan di Indonesia dengan ketentuan hukum perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.[2]

Dengan melihat adanya kegelimpangan pemaknaan, yang kami menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Penulis adalah sikap Hermeunetik yang merusak akidah ISLAM, dengan berusaha mengunggugat akidah MUSLIM agar merubah mindset yang keras terhadap musuh-musuh ISLAM, dengan menitikberatkan “Pembumian Islam dan Al Quran”, bukan pada kerangka berfikir “Meng-Islam-kan dan Meng-Al Quran-kan Bumi.”

Buku tersebut dimaksudkan untuk menjadi maraji’ bagi kaum pelajar yang sedang berada pada masa labil yang ditakutkan untuk menghasilkan sikap ekstremis yang timbul dari diri siswa[3]. Menjadi bahan yang cukup mumpuni sebagai referensi Pendidikkan Pancasila dan Kewarganegaraan, serta Bimbingan Konseling bagi siswa/siswi.

Didalam buku kecil ini, kami berusaha untuk memberikan sedikit wacana yang mudah-mudahan bisa menggugah semangat kaum Muslimin Indonesia dari bahaya sikap Liberal-Plularis yang telah membuat para domba-domba Israel berteriak riang menunggu hari kemenangan.

Dalam wacana mengamalkan apa yang Allah Azza Wa Jalla beritahukan didalam kalamNYA yang Maha Suci :

“maka berilah peringatan (kepada seluruh alam), sesungguhnya memberi peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman…”(QS Adz Dzaariyat : 55)

“..dan berpesan dengan kesabaran dan berpesan dalam kasih sayang. Mereka itu (termasuk) golongan kanan.” (QS Al Balad : 17)

“…dan saling berpesan dengan yang Haq dan saling berpesan dengan kesabaran.” (QS Al ‘Ashr : 3)

“…dan serulah (manusia) kepad jalan Rabb-mu dengan hikmah dan Mau’idlah Hasanah. Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an Nahl : 125)

 

Kami berusaha memberikan suatu pandangan secara analitis terhadap permasalahan ini, dengan besar harapan agar Allah segera menunjukkan janji-NYA, bahwa ISLAM lah yang harus menang[4], agar janji Allah ini segera cepat kita rasakan dan kita bisa semudah membalik telapak tangan dalam melaksanakan syariat ISLAM.

[1]Syahabuddin, Rudi dan Hika DA Putra. Menjauhi Sikap Ekstrem. 2010. Jakarta : Dirjen Pendidikkan Dasar dan Menengah, Kemdiknas.

[2]Sperti pada Bab I, Akar Kekerasan Dan Penyebab Ruang Teror. Pada sub bab Perbandingan Nilai Barat-Islam dalam Penggunaan Kekerasan. Halaman 14, ia mengutip PERPU no. 1 Tahun 2002 yang ditegaskan oleh UU no 2 Tahun 2004, ia mengambil kerangka teori definitif atas Terorisme.

Kemudian juga pada hal. Ke 15, ia mengutip pasal 187 ayat 3, pada BAB VII KUHP, yang memberikan referensi atas hukuman bagi tindakan Terorisme.

Ada pula pada Bab ke 2, pada Subbab Islam dan Plurarisme, hal. 45 ia mengutip Keppres No. 1 Tahun 1965 yang dikukuhkan UU No. 5 Tahun 1969, tentang Panca-Agama di Indonesia.

Kemudian juga pada halaman yang sama dan hal 46, bahwa A-Panca-Agama dilindungi oleh hukum DUHAM pasal 18, Civilitation and Politics Conventions pasal 18 dan 27, EKOSOB pasal 15.

[3]Seperti sebuah kasus di salah satu kota di Jawa Timur, yang ditemukan adanya buku pelajaran yang mengajarkan sikap JIHAD dan KERAS terhadap musuh-musu ISLAM, maka pemerintah segera bertindak agar wacana JIHAD dan MEMBUNUH ORANG,   tidak merebak luas di mindset siswa. Sikap Liberal-plularism ini telah mendarah daging di masyarakat Muslim Indonesia, yang benar-benar telah berhasil dibodohi oleh Bangsa Barat.

[4]Lihat QS Shaff : 9, QS at Taubah : 33.

Iklan

10 Ilmuwan Muslim Terbesar Dan Terhebat Sepanjang Sejarah

10 Ilmuwan Muslim Terbesar Dan Terhebat Sepanjang Sejarah,Para ilmuwan dan penemu Muslim (Arab, Persia dan Turki) telah berhasil membuat beberapa penemuan yang luar biasa ratusan tahun lebih dulu dibanding rekan-rekan mereka di Eropa. Mereka menarik pengaruh dari filsafat Aristoteles dan Neo-Platonis, termasuk Euclid, Archimedes, Ptolemy dan lain-lain. Kaum muslimin pada saat itu telah berhasil membuat berbagai penemuan di bidang kedokteran, bedah, matematika, fisika, kimia, filsafat, astrologi, geometri dan bidang lainnya.yang tak terhitung jumlahnya dan menuliskan karya-karyanya dalam berbagai buku.

Berikut beberapa ilmuwan dan penemu muslim dengan penemuan luar biasa mereka.

  1. AL-FARABI

Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi (872-950) disingkat Al-Farabi adalah ilmuwan dan filsuf Islam yang berasal dari Farab, Kazakhstan.

Ia juga dikenal dengan nama lain Abū Nasir al-Fārābi (dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi, juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir).

Al Farabi dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka dari era abad pertengahan.

Selama hidupnya al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari Ilmu Pengetahuan, karya-karya al- Farabi dapat ditinjau menjdi 6 bagian:

Logika

Ilmu-ilmu Matematika

Ilmu Alam

Teologi

Ilmu Politik dan kenegaraan

Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah).

Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tentang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rejim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah Islam.

  1. AL-BATANI

Al Battani (sekitar 858-929) juga dikenal sebagai Albatenius adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan dari Arab. Al Battani nama lengkap: Abū Abdullāh Muhammad ibn Jābir ibn Sinān ar-Raqqī al-Harrani as-Sabi al-Battānī), lahir di Harran dekat Urfa.

Salah satu pencapaiannya yang terkenal dalam astronomi adalah tentang penentuan Tahun Matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri:

Ia juga memecahkan persamaan sin x = a cos x dan menemukan rumus:

dan menggunakan gagasan al-Marwazi tentang tangen dalam mengembangkan persamaan-persamaan untuk menghitung tangen, cotangen dan menyusun tabel perhitungan tangen.

Al Battani bekerja di Suriah, tepatnya di ar-Raqqah dan di Damaskus, yang juga merupakan tempat wafatnya.

  1. IBNU SINA

Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah Bapak Pengobatan Modern dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal Qanun fi Thib  merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar, banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai Bapak Kedokteran Modern, George Sarton menyebut Ibnu Sina sebagai “Ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu”. Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun(judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

Karya

Qanun fi Thib (Canon of Medicine/Aturan Pengobatan)

Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)

An Najat

  1. IBNU BATUTAH

Abu Abdullah Muhammad bin Battutah atau juga dieja Ibnu Batutah adalah seorang pengembara (penjelajah) Berber Maroko.

Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.

Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji – ziarah ke Mekah. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia Muslim (sekitar 44 negara modern).

  1. IBNU RUSYD

Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid, lahir tahun 1126 di Marrakesh Maroko, wafat tanggal 10 Desember 1198) juga dikenal sebagai Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia).

Ikhtisar

Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja’far Harun dan Ibnu Baja.

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai “Kadi” (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

Pemikiran Ibnu Rusyd

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.

Karya

Bidayat Al-Mujtahid

Kulliyaat fi At-Tib (Kuliah Kedokteran)

Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at

  1. MUHAMMAD BIN MUSA AL-KHAWARIZMI

Muhammad bin Mūsā al-Khawārizmī adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad. Hampir sepanjang hidupnya, ia bekerja sebagai dosen di Sekolah Kehormatan di Baghdad

Buku pertamanya, al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika beliau, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.

Kontribusi beliau tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan. Kata Aljabar berasal dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku beliau. Kata logarisme dan logaritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit.

Biografi

Sedikit yang dapat diketahui dari hidup beliau, bahkan lokasi tempat lahirnya sekalipun. Nama beliau mungkin berasal dari Khwarizm (Khiva) yang berada di Provinsi Khurasan pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah (sekarang Xorazm, salah satu provinsi Uzbekistan). Gelar beliau adalah Abū ‘Abdu llāh atau Abū Ja’far.

Sejarawan al-Tabari menamakan beliau Muhammad bin Musa al-Khwārizmī al-Majousi al-Katarbali. Sebutan al-Qutrubbulli mengindikasikan beliau berasal dari Qutrubbull, kota kecil dekat Baghdad.

Dalam Kitāb al-Fihrist Ibnu al-Nadim, kita temukan sejarah singkat beliau, bersama dengan karya-karya tulis beliau. Al-Khawarizmi menekuni hampir seluruh pekerjaannya antara 813-833. setelah Islam masuk ke Persia, Baghdad menjadi pusat ilmu dan perdagangan, dan banyak pedagang dan ilmuwan dari Cina dan India berkelana ke kota ini, yang juga dilakukan beliau. Dia bekerja di Baghdad pada Sekolah Kehormatan yang didirikan oleh Khalifah Bani Abbasiyah Al-Ma’mun, tempat ia belajar ilmu alam dan matematika, termasuk mempelajari terjemahan manuskrip Sanskerta dan Yunani.

Karya

Karya terbesar beliau dalam matematika, astronomi, astrologi, geografi, kartografi, sebagai fondasi dan kemudian lebih inovatif dalam aljabar, trigonometri, dan pada bidang lain yang beliau tekuni. Pendekatan logika dan sistematis beliau dalam penyelesaian linear dan notasi kuadrat memberikan keakuratan dalam disiplin aljabar, nama yang diambil dari nama salah satu buku beliau pada tahun 830 M, al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-jabr wa’l-muqabala atau: “Buku Rangkuman untuk Kalkulasi dengan Melengkapakan dan Menyeimbangkan”, buku pertama beliau yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12.

Pada buku beliau, Kalkulasi dengan angka Hindu, yang ditulis tahun 825, memprinsipkan kemampuan difusi angka India ke dalam perangkaan timur tengah dan kemudian Eropa. Buku beliau diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Algoritmi de numero Indorum, menunjukkan kata algoritmi menjadi bahasa Latin.

Beberapa kontribusi beliau berdasar pada Astronomi Persia dan Babilonia, angka India, dan sumber-sumber Yunani.

Sistemasi dan koreksi beliau terhadap data Ptolemeus pada geografi adalah sebuah penghargaan untuk Afrika dan Timur Tengah. Buku besar beliau yang lain, Kitab surat al-ard (“Pemandangan Bumi”;diterjemahkan oleh Geography), yang memperlihatkan koordinat dan lokasi dasar yang diketahui dunia, dengan berani mengevaluasi nilai panjang dari Laut Mediterania dan lokasi kota-kota di Asia dan Afrika yang sebelumnya diberikan oleh Ptolemeus.

Ia kemudian mengepalai konstruksi peta dunia untuk Khalifah Al-Ma’mun dan berpartisipasi dalam proyek menentukan tata letak di Bumi, bersama dengan 70 ahli geografi lain untuk membuat peta yang kemudian disebut “ketahuilah dunia”. Ketika hasil kerjanya disalin dan ditransfer ke Eropa dan Bahasa Latin, menimbulkan dampak yang hebat pada kemajuan matematika dasar di Eropa. Ia juga menulis tentang astrolab dan sundial.

Kitab I – Aljabar

Al-Kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa-l-muqābala (Kitab yang Merangkum Perhitungan Pelengkapan dan Penyeimbangan) adalah buku matematika yang ditulis pada tahun 830. Kitab ini merangkum definisi aljabar. Terjemahan ke dalam bahasa Latin dikenal sebagai Liber algebrae et almucabala oleh Robert dari Chester (Segovia, 1145) dan juga oleh Gerardus dari Cremona.

Dalam kitab tersebut diberikan penyelesaian persamaan linear dan kuadrat dengan menyederhanakan persamaan menjadi salah satu dari enam bentuk standar (di sini b dan c adalah bilangan bulat positif)

dengan membagi koefisien dari kuadrat dan menggunakan dua operasi: al-jabr ( الجبر ) atau pemulihan atau pelengkapan) dan al-muqābala (penyetimbangan). Al-jabr adalah proses memindahkan unit negatif, akar dan kuadrat dari notasi dengan menggunakan nilai yang sama di kedua sisi. Contohnya, x^2 = 40x – 4x^2 disederhanakan menjadi 5x^2 = 40x. Al-muqābala adalah proses memberikan kuantitas dari tipe yang sama ke sisi notasi. Contohnya, x^2 + 14 = x + 5 disederhanakan ke x^2 + 9 = x.

Beberapa pengarang telah menerbitkan tulisan dengan nama Kitāb al-ǧabr wa-l-muqābala, termasuk Abū Ḥanīfa al-Dīnawarī, Abū Kāmil (Rasāla fi al-ǧabr wa-al-muqābala), Abū Muḥammad al-‘Adlī, Abū Yūsuf al-Miṣṣīṣī, Ibnu Turk, Sind bin ‘Alī, Sahl bin Bišr, dan Šarafaddīn al-Ṭūsī.

Kitab 2 – Dixit algorizmi

Buku kedua besar beliau adalah tentang aritmatika, yang bertahan dalam Bahasa Latin, tapi hilang dari Bahasa Arab yang aslinya. Translasi dilakukan pada abad ke-12 oleh Adelard of Bath, yang juga menerjemahkan tabel astronomi pada 1126.

Pada manuskrip Latin,biasanya tak bernama,tetapi umumnya dimulai dengan kata: Dixit algorizmi (“Seperti kata al-Khawārizmī”), atau Algoritmi de numero Indorum (“al-Kahwārizmī pada angka kesenian Hindu”), sebuah nama baru di berikan pada hasil kerja beliau oleh Baldassarre Boncompagni pada 1857. Kitab aslinya mungkin bernama Kitāb al-Jam’a wa-l-tafrīq bi-ḥisāb al-Hind (“Buku Penjumlahan dan Pengurangan berdasarkan Kalkulasi Hindu”)

Kitab 3 – Rekonstruksi Planetarium

Peta abad ke-15 berdasarkan Ptolemeus sebagai perbandingan.

Buku ketiga beliau yang terkenal adalah Kitāb surat al-Ardh “Buku Pemandangan Dunia” atau “Kenampakan Bumi” diterjemahkan oleh Geography), yang selesai pada 833 adalah revisi dan penyempurnaan Geografi Ptolemeus, terdiri dari daftar 2402 koordinat dari kota-kota dan tempat geografis lainnya mengikuti perkembangan umum.

Hanya ada satu kopi dari Kitāb ṣūrat al-Arḍ, yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Strasbourg. Terjemahan Latinnya tersimpan di Biblioteca Nacional de España di Madrid. Judul lengkap buku beliau adalah Buku Pendekatan Tentang Dunia, dengan Kota-Kota, Gunung, Laut, Semua Pulau dan Sungai, ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi berdasarkan pendalaman geografis yang ditulis oleh Ptolemeus dan Claudius.

Buku ini dimulai dengan daftar bujur dan lintang, termasuk “Zona Cuaca”, yang menulis pengaruh lintang dan bujur terhadap cuaca. Oleh Paul Gallez, dikatakan bahwa ini sanagat bermanfaat untuk menentukan posisi kita dalam kondisi yang buruk untuk membuat pendekatan praktis. Baik dalam salinan Arab maupun Latin, tak ada yang tertinggal dari buku ini. Oleh karena itu, Hubert Daunicht merekonstruksi kembali peta tersebut dari daftar koordinat. Ia berusaha mencari pendekatan yang mirip dengan peta tersebut.

Buku 4 – Astronomi

Kampus Corpus Christi MS 283

Buku Zīj al-sindhind (tabel astronomi) adalah karya yang terdiri dari 37 simbol pada kalkulasi kalender astronomi dan 116 tabel dengan kalenderial, astronomial dan data astrologial sebaik data yang diakui sekarang.

Versi aslinya dalam Bahasa Arab (ditulis 820) hilang, tapi versi lain oleh astronomer Spanyol Maslama al-Majrīṭī (1000) tetap bertahan dalam bahasa Latin, yang diterjemahkan oleh Adelard of Bath (26 Januari 1126). Empat manuskrip lainnya dalam bahasa Latin tetap ada di Bibliothèque publique (Chartres), the Bibliothèque Mazarine (Paris), the Bibliotheca Nacional (Madrid) dan the Bodleian Library (Oxford).

Buku 5 – Kalender Yahudi

Al-Khawārizmī juga menulis tentang Penanggalan Yahudi (Risāla fi istikhrāj taʾrīkh al-yahūd “Petunjuk Penanggalan Yahudi”). Yang menerangkan 19-tahun siklus interkalasi, hukum yang mengatur pada hari apa dari suatu minggu bulan Tishrī dimulai; memperhitungkan interval antara Era Yahudi (penciptaan Adam) dan era Seleucid; dan memberikan hukum tentang bujur matahari dan bulan menggunakan Kalender Yahudi. Sama dengan yang ditemukan oleh al-Bīrūnī dan Maimonides.

Karya lainnya

Beberapa manuskrip Arab di Berlin, Istanbul, Tashkent, Kairo dan Paris berisi pendekatan material yang berkemungkinan berasal dari al-Khawarizmī. Manuskrip di Istanbul berisi tentang sundial, yang disebut dalam Fihirst. Karya lain, seperti determinasi arah Mekkah adalah salah satu astronomi sferik.

Dua karya berisi tentang pagi (Ma’rifat sa’at al-mashriq fī kull balad) dan determinasi azimut dari tinggi (Ma’rifat al-samt min qibal al-irtifā’).

Beliau juga menulis 2 buku tentang penggunaan dan perakitan astrolab. Ibnu al-Nadim dalam Kitab al-Fihrist (sebuah indeks dari bahasa Arab) juga menyebutkan Kitāb ar-Ruḵāma(t) (buku sundial) dan Kitab al-Tarikh (buku sejarah) tapi 2 yang terakhir disebut telah hilang.

  1. UMAR KHAYYAM

‘Umar Khayyām (18 Mei 1048 – 4 Desember 1131), dilahirkan di Nishapur, Iran. Nama aslinya adalah Ghiyātsuddin Abulfatah ‘Umar bin Ibrahim Khayyāmi Nisyābūri . Khayyām berarti “pembuat tenda” dalam bahasa Persia.

Sang Matematikawan

Pada masa hidupnya, ia terkenal sebagai seorang matematikawan dan astronom yang memperhitungkan bagaimana mengoreksi kalender Persia. Pada 15 Maret 1079, Sultan Jalaluddin Maliksyah Saljuqi (1072-1092) memberlakukan kalender yang telah diperbaiki Umar, seperti yang dilakukan oleh Julius Caesar di Eropa pada tahun 46 SM dengan koreksi terhadap Sosigenes, dan yang dilakukan oleh Paus Gregorius XIII pada Februari 1552 dengan kalender yang telah diperbaiki Aloysius Lilius (meskipun Britania Raya baru beralih dari Kalender Julian kepada kalender Gregorian pada 1751, dan Rusia baru melakukannya pada 1918).

Dia pun terkenal karena menemukan metode memecahkan persamaan kubik dengan memotong sebuah parabola dengan sebuah lingkaran.

Sang astronom

Pada 1073, Malik-Syah, penguasa Isfahan, mengundang Khayyām untuk membangun dan bekerja pada sebuah observatorium, bersama-sama dengan sejumlah ilmuwan terkemuka lainnya. Akhirnya, Khayyām dengan sangat akurat (mengoreksi hingga enam desimal di belakang koma) mengukur panjang satu tahun sebagai 365,24219858156 hari.

Ia terkenal di dunia Persia dan Islam karena observasi astronominya. Ia pernah membuat sebuah peta bintang (yang kini lenyap) di angkasa.

Umar Khayyām dan Islam

Filsafat Umar Khayyām agak berbeda dengan dogma-dogma umum Islam. Tidak jelas apakah ia percaya akan kehadiran Allah atau tidak, namun ia menolak pemahaman bahwa setiap kejadian dan fenomena adalah akibat dari campur tangan ilahi. Ia pun tidak percaya akan Hari Kiamat atau ganjaran serta hukuman setelah kematian. Sebaliknya, ia mendukung pandangan bahwa hukum-hukum alam menjelaskan semua fenomena dari kehidupan yang teramati. Para pejabat keagamaan berulang kali meminta dia menjelaskan pandangan-pandangannya yang berbeda tentang Islam. Khayyām akhirnya naik haji ke Mekkah untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang muslim.

Omar Khayyam, Sang Skeptik

Dan, sementara Ayam Jantan berkokok, mereka yang berdiri di muka / Rumah Minum berseru – “Bukalah Pintu! / Engkau tahu betapa sedikit waktu yang kami punyai untuk singgah, / Dan bila kami pergi, mungkin kami takkan kembali lagi.”

Demikian pula bagi mereka yang bersiap-siap untuk HARI INI, / Dan meyangka setelah ESOK menatap, / Seorang muazzin berseru dari Menara Kegelapan / “Hai orang bodoh! ganjaranmu bukan di Sini ataupun di Sana!”

Mengapa, semua orang Suci dan orang Bijak yang mendiskusikan / Tentang Dua Dunia dengan begitu cerdas, disodorkannya / Seperti Nabi-nabi bodoh; Kata-kata mereka untuk Dicemoohkan / Ditaburkan, dan mulut mereka tersumbat dengan Debu.

Oh, datanglah dengan Khayyam yang tua, dan tinggalkanlah Yang Bijak / Untuk berbicara; satu hal yang pasti, bahwa Kehidupan berjalan cepat; / Satu hal yang pasti, dan Sisanya adalah Dusta; / Bunga yang pernah sekali mekar, mati untuk selama-lamanya.

Diriku ketika masih muda begitu bergariah mengunjungi / Kaum Cerdik pandai dan Orang Suci, dan mendengarkan Perdebatan besar / Tentang ini dan tentang: namun terlebih lagi / Keluar dari Pintu yang sama seperti ketika kumasuk.

Dengan Benih Hikmat aku menabur, / Dan dengan tanganku sendiri mengusahakannya agar bertumbuh; / Dan cuma inilah Panen yang kupetik – / “Aku datang bagai Air, dan bagaikan Bayu aku pergi.”

Ke dalam Jagad ini, dan tanpa mengetahui, / Entah ke mana, seperti Air yang mengalir begitu saja: / Dan dari padanya, seperti Sang Bayu yang meniup di Padang, / Aku tak tahu ke mana, bertiup sesukanya.

Jari yang Bergerak menulis; dan, setelah menulis, / Bergerak terus: bukan Kesalehanmu ataupun Kecerdikanmu / Yang akan memanggilnya kembali untuk membatalkan setengah Garis, / Tidak juga Air matamu menghapuskan sepatah Kata daripadanya.

Dan Cawan terbalik yang kita sebut Langit, / Yang di bawahnya kita merangkak hidup dan mati, / Janganlah mengangkat tanganmu kepadanya meminta tolong – karena Ia / Bergelung tanpa daya seperti Engkau dan Aku.

Omar Khayyám, Penulis dan Penyair

Omar Khayyám kini terkenal bukan hanya keberhasilan ilmiahnya, tetapi karena karya-karya sastranya. Ia diyakini telah menulis sekitar seribu puisi 400 baris. Di dunia berbahasa Inggris, ia paling dikenal karena The Rubáiyát of Omar Khayyám dalam terjemahan bahasa Inggris oleh Edward Fitzgerald (1809-1883).

Orang lain juga telah menerbitkan terjemahan-terjemahan sebagian dari rubáiyátnya (rubáiyát berarti “kuatrain”), tetapi terjemahan Fitzgeraldlah yang paling terkenal. Ada banyak pula terjemahan karya ini dalam bahasa-bahasa lain.

  1. TSABIT BIN QURRAH

Abu’l Hasan Tsabit bin Qurra’ bin Marwan al-Sabi al-Harrani, (826 – 18 Februari 901) adalah seorang astronom dan matematikawan dari Arab, dan dikenal pula sebagai Thebit dalam bahasa Latin.

Tsabit lahir di kota Harran, Turki. Tsabit menempuh pendidikan di Baitul Hikmah di Baghdad atas ajakan Muhammad ibn Musa ibn Shakir. Tsabit menerjemahkan buku Euclid yang berjudul Elements dan buku Ptolemy yang berjudul Geograpia.

Al-Sabiʾ Thabit bin Qurra al-Ḥarrānī, Latin: Thebit / Thebith / Tebit, 826 – 18 Februari, 901) adalah seorang ahli matematika, dokter, astronom, dan penerjemah Islam Golden Age yang tinggal di Baghdad pada paruh kedua abad kesembilan.

Ibnu Qurra membuat penemuan penting dalam aljabar, geometri, dan astronomi. Dalam astronomi, Thabit dianggap sebagai salah satu dari para reformis pertama dari sistem Ptolemaic, dan dalam mekanika dia adalah seorang pendiri statika.

  1. MUHAMMAD BIN ZAKARIYA AL-RAZI

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925.

Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.

Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serbabisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam sejarah.

Biografi

Ar-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865 Hijirah dan meninggal pada tanggal 9 Oktober 925 Hijriah. Nama Razi-nya berasal dari nama kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran. Di kota ini juga, Ibnu Sina menyelesaikan hampir seluruh karyanya.

Saat masih kecil, ar-Razi tertarik untuk menjadi penyanyi atau musisi tapi dia kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi. Pada umurnya yang ke-30, ar-Razi memutuskan untuk berhenti menekuni bidang alkemi dikarenakan berbagai eksperimen yang menyebabkan matanya menjadi cacat. Kemudian dia mencari dokter yang bisa menyembuhkan matanya, dan dari sinilah ar-Razi mulai mempelajari ilmu kedokteran.

Dia belajar ilmu kedokteran dari Ali ibnu Sahal at-Tabari, seorang dokter dan filsuf yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya merupakan seorang Yahudi yang kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi pegawai kerajaan dibawah kekuasaan khalifah Abbasiyah, al-Mu’tashim.

Razi kembali ke kampung halamannya dan terkenal sebagai seorang dokter disana. Kemudian dia menjadi kepala Rumah Sakit di Rayy pada masa kekuasaan Mansur ibnu Ishaq, penguasa Samania. Ar-Razi juga menulis at-Tibb al-Mansur yang khusus dipersembahkan untuk Mansur ibnu Ishaq. Beberapa tahun kemudian, ar-Razi pindah ke Baghdad pada masa kekuasaan al-Muktafi dan menjadi kepala sebuah rumah sakit di Baghdad.

Setelah kematian Khalifan al-Muktafi pada tahun 907 Masehi, ar-Razi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia mengumpulkan murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist, ar-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid. Selain itu, ar-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.

Kontribusi

Bidang Kedokteran

Cacar dan campak

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar:

“Cacar terjadi ketika darah ‘mendidih’ dan terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada minuman anggur. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi epidemi.”

Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Ensiklopedia Britanika (1911) yang menulis: “Pernyataan pertama yang paling akurat dan tepercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah tersebut.”

Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir ar-Razi dalam buku ini.

Berikut ini adalah penjelasan lanjutan ar-Razi: “Kemunculan cacar ditandai oleh demam yang berkelanjutan, rasa sakit pada punggung, gatal pada hidung dan mimpi yang buruk ketika tidur. Penyakit menjadi semakin parah ketika semua gejala tersebut bergabung dan gatal terasa di semua bagian tubuh. Bintik-bintik di muka mulai bermunculan dan terjadi perubahan warna merah pada muka dan kantung mata. Salah satu gejala lainnya adalah perasaan berat pada seluruh tubuh dan sakit pada tenggorokan.”

 

Alergi dan demam

Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri.

 

Farmasi

Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.

 

Etika kedokteran

Ar-Razi juga mengemukakan pendapatnya dalam bidang etika kedokteran. Salah satunya adalah ketika dia mengritik dokter jalanan palsu dan tukang obat yang berkeliling di kota dan desa untuk menjual ramuan. Pada saat yang sama dia juga menyatakan bahwa dokter tidak mungkin mengetahui jawaban atas segala penyakit dan tidak mungkin bisa menyembuhkan semua penyakit, yang secara manusiawi sangatlah tidak mungkin. Tapi untuk meningkatkan mutu seorang dokter, ar-Razi menyarankan para dokter untuk tetap belajar dan terus mencari informasi baru. Dia juga membuat perbedaan antara penyakit yang bisa disembuhkan dan yang tidak bisa disembuhkan. Ar-Razi kemudian menyatakan bahwa seorang dokter tidak bisa disalahkan karena tidak bisa menyembuhkan penyakit kanker dan kusta yang sangat berat. Sebagai tambahan, ar-Razi menyatakan bahwa dia merasa kasihan pada dokter yang bekerja di kerajaan, karena biasanya anggota kerajaan suka tidak mematuhi perintah sang dokter.

Ar-Razi juga mengatakan bahwa tujuan menjadi dokter adalah untuk berbuat baik, bahkan sekalipun kepada musuh dan juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Buku-buku Ar-Razi pada bidang kedokteran

Berikut ini adalah karya ar-Razi pada bidang kedokteran yang dituliskan dalam buku:

Hidup yang Luhur

Petunjuk Kedokteran untuk Masyarakat Umum

Keraguan pada Galen

Penyakit pada Anak

  1. ABU MUSA JABIR BIN HAYYAN

Abu Musa Jabir bin Hayyan, atau dikenal dengan nama Geber di dunia Barat, diperkirakan lahir di Kuffah, Irak pada tahun 722 dan wafat pada tahun 804. Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap.

Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.

Bapak Kimia Arab ini dikenal karena karya-karyanya yang sangat berpengaruh pada ilmu kimia dan metalurgi.

Karya Jabir antara lain:

Kitab Al-Kimya (diterjemahkan ke Inggris menjadi The Book of the Composition of Alchemy)

Kitab Al-Sab’een

Kitab Al Rahmah

Al Tajmi

Al Zilaq al Sharqi

Book of The Kingdom

Book of Eastern Mercury

Book of Balance’

 

AL-QURAN DIWAHYUKAN DAN DITULIS BERSAMAAN

Gautama Buddha telah meramalkan mengenai Maitreya yang dijanjikan dimana risalahnya akan diterbitkan. Di antara semua Kitab suci dari langit dan Alkitab, adalah Quran Suci sendiri yang dijadikan tulisan sejak kitab ini turun kepada Nabi. Selanjutnya ini di simpan dalam ingatan, dimana Nabi melakukannya  dengan dibacakan kepada mereka yang di sekitarnya.

Karena alasan ini sejarah wahyu Quran Suci  jauh lebih lengkap daripada kasus Kitab suci yang lain. Dalam hadist sahih kita, saat turunnya ayat, tempat dimana itu diwahyukan, dan latar-belakang dari setiap ayat semua tercatat dengan rinci. Setiap copy antik dari Quran Suci memiliki sejarah di belakangnya, yang tidak hancur sampai sekarang, dan rantai ingatan itu menuju langsung kepada Nabi Suci.

Karena banyaknya manusia yang menyimpan wahyu dalam ingatan inilah maka kritikus yang sangat benci seperti Sir William Muir terpaksa mengakui ketepatan dan kesempurnaan dari Quran Suci dalam kata-kata berikut ini:

“Barangkali di dunia ini tidak ada karya lain yang bisa bertahan selama dua belas abad dengan teks yang demikian murni” Dia selanjutnya mengutip catatan dari von Hammer : “Kami memegang al-Quran ini dengan keyakinan penuh sebagai kata-kata Muhammad, sebagaimana kaum Muslim memegangnya sebagai firman Tuhan”.

Sebagai fakta nyata kaum Orientalis terdorong untuk percaya sedemikian karena fakta yang tak terbantah. Al-Quran tesimpan dengan aman dan terjaga mulai sejak periode yang paling awal. Sudah dijelaskan bahwa wahyu itu perlu disimpan dalam penjagaan. Copy-nya di kirim ke pelbagai negara dan bermacam bangsa. Negara yang diberi amanat, menyebarkannya ke Timur maupun Barat dalam jangka waktu yang sangat singkat, dan karena itu copy dari Quran Suci juga segera tersebar ke seluruh dunia.

Dan adalah suatu fakta yang diakui bahwa terdapat banyak golongan di antara Muslim masa kini dan semuanya mereka beriman dan mengikuti al-Quran yang sama. Tak ada satu titik koma ataupun satu huruf dari Kitab itu telah dirubah. Dan ini adalah sesungguhnya apa yang diramalkan oleh Buddha serta juga para nabi yang lain. Para nabi terdahulu telah meramalkan bahwa wahyu dari nabi yang dijanjikan itu akan dijamin terjaga dan aman. Dan adalah atribut al-Quran ini yang membuktikan kebenaran Nabi Suci sebagai yang terakhir dari galaksi.

Dalam al-Quran Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Penjaga dari Kitab ini (Q.S. 15:9) dan menyatakan ini sebagai wahyu kenabian yang terakhir, dan dengan kemuliaannya Islam akan berdiri sebagai agama yang terakhir.

Basant Kummar Bose menulis dalam “Muhammadanism”, Calcutta, 1931, halaman 4:     “Maka tak ada kesempatan bagi setiap orang yang mau merubah atau penipu yang berpura-pura saleh dalam al-Quran, yang membedakannya dari nyaris semua karya agama lain dari zaman kuno….       Adalah sungguh aneh bahwa pribadi yang buta-huruf ini bisa menyusun kitab yang terbaik dalam       bahasa”.

Charles Francis Potter menulis dalam “The Faiths Men Live”:      “Kitab ini lebih banyak dibaca orang dibanding kitab lain di dunia. Alkitab Kristen mungkin suatu buku yang paling laku. Tetapi hampir 250 juta pengikut Nabi Muhammad membaca dan mengaji ruku’ yang panjang dari al-Quran lima kali sehari, setiap hari seumur hidupnya, sejak mereka bisa berbicara”.

John William Draper menulis dalam “A History of the Intellectual Development in Europe” jilid I  halaman 343-344:       “Al-Quran berlimpah dalam anjuran moral yang mulia serta etika, komposisinya begitu beragam sehingga kita tidak bisa melewatkan satu halamanpun tanpa menemukan sebanyak mungkin yang bisa dipetik. Konstruksi yang beragam ini menghasilkan teks dan motto, serta aturan yang lengkap dalam dirinya, cocok untuk orang biasa dalam menghadapi setiap peristiwa kehidupan”.

Harry Gaylord Dorman menulis dalam “Towards Understanding Islam”: “(Quran) ini, adalah suatu wahyu tertulis dari Tuhan, yang diimlakkan kepada Muhammad oleh Jibril,  sempurna di setiap hurufnya. Ini adalah mukjizat yang senantiasa hadir, berdiri saksi bagi dirinya dan  Muhammad, nabi dari Tuhan. Kualitas mukjizatnya terdapat sebagian dalam style, begitu sempurna  dan luhur, sehingga baik manusia dan jin tak mungkin bisa menghasilkan satu surat saja meskipun  itu surat yang terpendek, dan sebagian isinya ajaran, nubuatan tentang masa depan, dan begitu  menakjubkan ketepatan informasinya dimana seorang buta-huruf seperti Muhammad mustahil bisa mengumpulkannya dengan kehendak sendiri”.

Paul Casanova mengemukakan dalam L.Enseignement de Arabian College de Ferance in Legon Doverture tanggal 26 April 1909: “Bilamana Muhammad ditanya tentang mukjizat, sebagai bukti otentisitas dakwahnya, dia mengutip   komposisi al-Quran  dan kemuliaannya yang tak tertandingi; sebagai bukti bahwa ini berasal dari   Tuhan. Dan sesungguhnya, bahkan bagi mereka yang non-Muslim, tidak ada yang lebih   menakjubkan daripada bahasanya, dimana dengan ruang lingkup yang melimpah dan irama yang   memukau dengan lagu yang sederhana, telah merampas pujian dari orang-orang primitif itu yang   sangat menyukai keelokan. Melimpahnya silabus dengan irama yang agung dan suatu ritme yang   mengesankan, telah menimbulkan banyak detik-detik yang bisa merubah pandangan orang yang   paling benci dan paling  skeptis”.

James A. Michener menyatakan dalam ‘Islam the Misunderstood Religion”, Reader’s Digest, May 1955:  “Al-Quran kemungkinan adalah kitab yang paling sering dibaca orang di dunia ini. Sesungguhnya   yang paling sering dihafal, dan mungkin yang paling berpengaruh dalam kehidupan sehari- hari dari   umat yang beriman kepadanya. Tidak sepanjang seperti Perjanjian Baru, ditulis dalam style yang   luhur, ini bukan sajak dan bukan pula prosa, namun dia memiliki kemampuan untuk membangkitkan   para pendengarnya dalam kegairahan iman. Al-Quran diturunkan kepada Muhammad antara tahun   610 dan 632 di kota Mekkah dan Madinah. Para penulis yang salih menuliskannya dalam “helaian   kertas, kulit kayu dan daun atau kulit binatang”.

Sebagai penutup kata-kata yang transparan dari Buddha:  “Wahyu-Nya akan lebih elok. Mereka yang mendengarkannya tak akan bosan-bosannya dalam    mendengarkan, mereka bahkan menyukai untuk mendengarnya lagi lebih lanjut” (T.W. Rhys Davids, halaman 183).

Dan inilah penutup oleh Laura Vaccia Vaglieri:

“Secara keseluruhan kita dapati di dalamnya suatu kumpulan kebijaksanaan yang bisa digunakan oleh orang-orang yang paling cerdas, filosof yang paling besar dan politisi yang paling ahli,….Tetapi di sini ada bukti Ketuhanan dalam al-Quran, adalah suatu fakta bahwa dia telah dijaga tanpa tersentuh melintasi abad-abad sejak turunyya Wahyu hingga hari ini….Dibaca dan dibaca lagi oleh dunia Muslim, Kitab ini tidak menimbulkan dalam diri orang-orang beriman kelelahan sedikitpun, bahkan,  dengan mengulang-ulanginya maka semakin dicintai dari hari ke hari. Ini menimbulkan perasaan  mendalam, rasa takut dan hormat kepada seseorang yang membaca atau mendengarkannya….

Karena  itu, tanpa sarana kekerasan atau senjata maupun melalui tekanan misionaris yang membujuk, yang  menyebabkan terpancarnya islam secara besar-besaran dan cepat; tetapi di atas semuanya melalui  fakta bahwa Kitab ini, yang disajikan oleh kaum Muslimin untuk menaklukkan dengan kebebasan  untuk  menerima ataukah menolaknya, ini adalah Kitab Tuhan, kata Kebenaran, mukjizat terbesar  yang ditunjukkan Muhammad kepada mereka yang dalam keraguan dan mereka yang tetap  berkepala-batu” (”Apologize de L Islamisme”, halaman 57-59).

Sidik Jari

By    :   Harun Yahya (Adnan Oktar)

Saat dikatakan dalam Al Qur’an bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan:

“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna.” (Al Qur’an, 75:3-4)

Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain.

Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi, yang penting adalah bahwa keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur’an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang.

Berpasangan Adalah Qadarullah

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Al Qur’an, 36:36)

Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui ledakan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan. (http://www.2think.org/nothingness.html, Henning Genz – Nothingness: The Science of Empty Space, s. 205)

The Relativity

Kini, relativitas waktu adalah fakta yang terbukti secara ilmiah. Hal ini telah diungkapkan melalui teori relativitas waktu Einstein di tahun-tahun awal abad ke-20. Sebelumnya, manusia belumlah mengetahui bahwa waktu adalah sebuah konsep yang relatif, dan waktu dapat berubah tergantung keadaannya. Ilmuwan besar, Albert Einstein, secara terbuka membuktikan fakta ini dengan teori relativitas. Ia menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Dalam sejarah manusia, tak seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya.

Tapi ada perkecualian; Al Qur’an telah berisi informasi tentang waktu yang bersifat relatif! Sejumlah ayat yang mengulas hal ini berbunyi:

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu.” (Al Qur’an, 22:47)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Al Qur’an, 32:5)

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (Al Qur’an, 70:4)

Dalam sejumlah ayat disebutkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan bahwa terkadang manusia dapat merasakan waktu sangat singkat sebagai sesuatu yang lama:

“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (Al Qur’an, 23:122-114)

Fakta bahwa relativitas waktu disebutkan dengan sangat jelas dalam Al Qur’an, yang mulai diturunkan pada tahun 610 M, adalah bukti lain bahwa Al Qur’an adalah Kitab Suci.

Rahasia Angka 19

Ayyuhal ikhwani fidinillah, kali ini kami akan menguji, seberapa hebat kamu melihat ayat-ayat Al Quran. Rumus Matematika ternyata juga bisa kita aplikasikan kedalam keindahan ayat-ayat al Quran. Look at this !

A = 114 – (n – 1)

A     = tahun lahir kamu ( puluhan dan satuan)
n     =  usia/umur kamu dilihat pada tahun ini.
114    = jumlah surat dalam Al Quran.

Contoh :

Kamu lahir pada tahun 1998, di tahun 2015 ini, umur kamu adalah 17 tahun (ingat ! hanya dilihat tahunnya, tanpa bulan)
Sekarang kita masukkan angka-angka itu kedalam rumus :
A  = 114 – (n – 1)
= 114 – (17 – 1)
= 114 – 16
= 98
Lihat tahun lahir kamu adalah jumlah ayat dalam al Qur’an di kurangi umur kamu…..          اللهسبحان